Catatan Perut

Kiblat Bahasa Kita: Dari Oplosan sampai Jaran Goyang

Pada mulanya saya punya asumsi serampangan bahwa Bahasa Indonesia akan semakin lunglai tak berdaya dihajar terpaan bahasa-bahasa asing, utamanya dari bahasa Inggris. Bahasa yang disebutkan belakangan ini memang punya watak kolonial yang sangat tinggi. Banyak yang kelimpungan tak berdaya dibuatnya.

Apalagi jika kita arahkan pandangan kita pada setidaknya lima sampai sepuluh tahun terakhir saat serbuan teknologi menginvasi negara kita, semuanya mulai dari buku panduan sampai dengan cara pemakaian alat elektronik, lunas menggunakan bahasa Inggris. Meskipun tingkat literasi kita rendah, sebab budaya kita memang bukan budaya tulis dan baca, namun budaya cangkeman, naga-naganya yang jadi soal adalah istilah dan pernik-pernik satuan lingualnya menjadi sedemikian “Inggris”. Pada kasus telepon genggam saja, kita rutin menyebutnya sebagai handphone. Charger untuk pengisi daya. Power Bank untuk benda mirip aki kering yang berfungsi untuk mengisi daya dan bisa dibawa ke mana-mana.

Ini adalah problem yang dalam asumsi saya di atas memiliki derajat yang sangat rumit untuk di selesaikan. Hal tersebut diperparah dengan kelakuan instansi dan fasilitas publik yang kian hari kian senewen, kenes dan mungkin merasa minder jika tidak menggunakan istilah asing: air port, bus way, separator, migrant care, dan seterusnya dan sebagainya.

Pangkal soalnya barangkali terletak pada rasa minder yang kita punya. Status bangsa jajahan yang kita emban barangkali membuat psikologi kita tumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang kurang percaya diri dengan apa yang kita miliki. Sebaliknya kita justru lebih bangga dan senang sekaligus bahkan mencintai apa yang dimiliki oleh orang lain. Inilah belenggu kolonialisasi.

Soal yang belakangan saya sebutkan ini barangkali bisa dicek lebih jauh pada buku-buku misalnya hasil korespondensi Syakib Arsalan dengan salah seorang raja Bornedo bertajuk limãdza taakharal muslimūn walimãdza taqaddama ghairuhum. Ini buku memang agak “privilage” karena arah pertanyaannya terfokus pada muslim atau negara Islam atau negara yang mayoritas berpenduduk Islam saja. Namun, saya mencatat bahwa negara-negara Islam yang dibahas dan barangkali dimaksudkan di sana analah negara ‘dunia ketiga’ yang memang mayoritas penduduknya beragama Islam. Semuanya, atau rata-rata, kata Syakib Arsalan merupakan wilayah bekas kolonialisasi. Maka, sampai hari ini otak mereka, cara pandang, dan cara mengambil keputusan pun khas pribadi-pribadi yang terkoloni: minder dan inferior.

Barangkali kita ini semacam objek yang digerakkan oleh subjek besar yang kita tidak tahu siapa sebenarnya subjek tersebut. Atau dalam bahasa yang lebih metaforik kita seolah berada dalam penjara yang kita tidak tahu sejatinya letak jerujinya ada di mana. keadaan ini jika dibiarkan akan membuat kita menjadi pribadi yang kian hari kian terhuyung-huyung jumpalitan, merem-melek sekaligus mendelik menghadapi kehidupan.

Di banyak bidang kita seolah membuat keputusan, namun sejatinya bukan keputusan kita sendiri. Mengapa kita harus pakai teknologi e-toll misalnya adalah contoh konkret bahwa kita sedang digerakkan oleh sebuah subjek yang kita belum tahu benar keberadaannya.

Soal e-toll ini banyak dari kita yang berasumsi bahwa antrian yang mengular dalam jalan tol penyebab utamanya adalah kelambanan pegawai tol dalam memberikan ‘kembalian’ kepada pengguna jasa tol. Solusinya? Pasang gardu tol elektronik, selesai masalah.

Apakah semudah itu? Saya rasa tidak. Mengapa? Sebab asumsi tersebut belum teruji betul. Pijakan yang belum teruji tersebut kemudian seolah-olah dilegitimasi dengan tambahan argumen bahwa di luar-luar negeri, semua jalan tol sudah menggunakan kartu eletronik. Buktinya tidak ada kemacetan.

Asumsi ini terlalu terburu-buru sehingga mengabaikan banyak variabel yang mestinya diperhatikan, namun diabaikan. Kita harus benar-benar memeriksa apa sebab kemecetan itu? Apakah kita sudah memeriksa jumlah volume kendaraan yang kian hari kian bertambah sementara badan jalan cuma segitu-gitu saja? Apakah kita pernah bertanya misalnya di banyak tempat kerap dan acap kita temukan gerbang keluar tol dekat sekali dengan perempatan jalan sehingga ketika kita keluar tol langsung disambut lampu lalu lintas? Pertanyaan paling mendasar mau dikemanakan petugas-petugas yang bekerja di gardu tol itu?

Contoh di atas adalah soal cara berpikir yang khas kita temukan pada bangsa-banga yang pernah terkolonialisasi. Dan dengan sangat berat hati dan nuwun sewu saya katakan sebagian besar isi kepala kita memang seperti itu adanya.

Kembali ke soal bahasa. Asumsi saya bahwa bahasa Indonesia akan lunglai tak berdaya nampaknya harus saya eliminir pelan-pelan. Sebab nyatanya hari-hari ini kita patut untuk bergembira bahwa bahasa-bahasa daerah mulai menggeser bahasa asing yang selama ini menjadi ancaman bahasa Indonesia.

Menjamurnya lagu-lagu berbahasa jawa adalah pangkal optimisme tersebut. Sejak buka sitik joss, oplosan, sampai jaran goyang yang dipopulerkan oleh Nella Kharisma itu, kiblat bahasa kita bergerser: dari yang asing ke yang ‘daerah’, dalam hal ini bahasa Jawa. Ini adalah angin segar. Paling tidak ini merupakan perlawanan bagi bahasa-bahasa asing yang barbarian itu. Oleh karenanya kita harus menyambutnya dengan syukuran dan istigasah, mensyukuri keberadaan makhluk-makhluk seperti Didi Kempot, Cak Diqin, Nur Bayan, Nella Kharisma, dan tentu saja Via Vallen.

Saya membayangkan, Pak Karno pasti akan lebih senang mendengarkan jaran goyang yang dinyanyikan oleh Nella Kharisma dibandingkan musik ngak ngik ngok yang dinyanyikan oleh The Beatles sekalipun.

Jalesveva Jayamahe Via Vallen dan Nella Kharisma! []

Kiblat Bahasa Kita: Dari Oplosan sampai Jaran Goyang
Click to comment

Komentar

To Top