Celomet

Fotografi dan Pergeseran Makna

“Jika seni rupa adalah sastra dan lukisan adalah puisi,  fotografi adalah bahasa”. Begitulah Nirwan Ahmad Arsuka membuka esainya yang berjudul Susan Sontag: Citra Waktu, dimuat dalam Jurnal Kalam pada tahun 2007 silam. Menurutnya, dengan kemampuan yang tanpa preseden dalam mengabadikan dan menggandakan semua citra, bukan hanya yang langsung dicerap, fotografi memang tak lagi menjadi sekadar sebuah bentuk seni. Melainkan dari itu, fotografi lebih luas dari seni.

Esai cukup panjang tersebut, kemudian dijadikan menjadi sebuah buku dengan dua esai lain yang berjudul Percakapan dengan Semesta dan Perang dan Dunia: “Hero” Episode II pada tahun 2017. Esai tersebut banyak membahas karya dan pendapat dari Susan Sontag akan fotografi. Susan Sontag merupakan seorang penulis, pembuat film, pengajar, dan aktivis politik Amerika. Ia menerbitkan karya pertamanya dalam bentuk esai dengan judul Notes On ‘Camp’ pada tahun 1964.

Setidaknya, wanita kelahiran 16 Januari 1933 tersebut telah melahirkan beberapa karya yang mungkin hingga hari ini terus berpengaruh bagi kehidupan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Yang diantaranya adalah On Photography (1997), Againts Interpretation (1966), Styles of Radical Will (1969), The Way We Live Now (1986), Illnes as Metaphor (1978), Regarding the Paint of Others (2003), The Volcano Lover (1992), dan In America (1999).

On Photography merupakan karya yang diterbitkan oleh salah satu penerbit bernama Penguin di New York pada tahun 1997. Dalam buku yang cukup tipis tersebut, Sontag menyebut fotografi sebagai sebuah metaseni: sebuah medium sekaligus cita-cita tertinggi seni. Selain itu, dalam karyanya tersebut ia juga mengoreksi pendapat Walter Paper yang pada abad ke-19 menyebutkan bahwa semua seni bercita-cita menjadi seperti musik yang mampu melebur habis bentuk dan isi. Kritik Sontag yaitu berupa kencenderungan seni yang justru bercita-cita untuk menjadi seperti fotografi.

Lebih lanjut, Sontag menjelaskan bahwasannya selain sanggup hidup seperti musik yang mengolah isu itu sendiri, fotografi juga berwatak demokratis karena bisa dikerjakan oleh siapa pun, serempak mengeram kekuatan revolusioner, mendobrak diskriminasi antara seni buruk dan seni indah. Tentu, ini menjadikan sebuah rangsangan sebagai upaya untuk memahami setiap daya citra yang ditampilkan oleh fotografi itu sendiri.

Budaya Fotografi

Dalam perkembangannya hingga saat ini, setidaknya fotografi masih menjadi salah satu kekuatan dahsyat yang makin diminati oleh banyak orang. Dari generasi menuju generasi, terlebih ditopang dengan perkembangan media cetak maupun media elektronik dengan berbagai macam jenisnya. Kemudian ditambah dengan perkembangan alat-alat yang digunakan sebagai penyokong fotografi itu sendiri. Orang-orang semakin bebas dalam melakukan reproduksi maupun distribusi teknologi fotografi.

Namun, ada hal yang seharusnya menjadikan kritik bersama dalam memaknai fotografi itu sendiri. Sebagaimana dijelaskan oleh Nirwan dalam esai yang sama, bahwasannya citra fotografis memanglah bundelan kuanta informasi, dan informasi itu hanya bisa diproses manusia jika masukan yang datang adalah masukan yang masuk akal, yang kompatibel dengan sistem pengetahuan dan keyakinan manusia yang menatapnya. Sebaliknya, citra-citra yang mengejutkan, tidak masuk akal, yang tidak sesuai dengan perangkat lunak manusia bisa membuat otak hang. Setidaknya, citra-citra itu akan ditolak oleh otak untuk diproses.

Misalnya terjadi pada foto-foto yang menghadirkan keganasan dalam perang dan berbagai kekejian yang dilakukan oleh manusia. Mula-mula mungkin bisa dicerna dengan gairah yang kuat. Meskipun foto-foto itu bisa membeberkan kekejaman yang dilakukan manusia terhadap sesamanya, namun yang ditakutkan adalah menyebabkan terpendarnya banyak hal yang merongrong pikiran. Hingga yang terparah adalah menyiratkan ketakberdayaan manusia dalam mencegah perang. Yang di mana semakin banyak foto, maka semakin terpojok dan tak berkutiklah orang yang melihatnya.

Hal tersebut bisa jadi merupakan gambaran kecil dari serangkaian keluhan yang dirasakan oleh Sontag. Bahwasannya dengan meningkat maupun melambungnya kemampuan reproduksi dan distribusi teknologi fotografi ternyata tak berjalan seiring dengan luas dan kuatnya demokratisasi, justru malah menghambat gerak. Keluhan ini disuarakan Sontag dalam On Photography (1997) dan kian lantang pada karya lainnya yang berjudul Regarding the Paint of Others (2003).

Ketika orang-orang betul memahami akan kekuatan dahsyat yang hadir di kamera dalam kerangka fotografi sebagai bagian cita-cita tertinggi dari seni, politik, maupun pengetahuan ilmiah tentang konsep ruang-waktu, harusnya mampu menjawab tantangan revolusioner terhadap foto-foto yang akan mereka sebar.

Di saat fotografi memudahkan manusia untuk merekam berbagai kebrutalan yang terjadi dalam sebuah peperangan maupun tindak kekejian yang dilakukan segelintir maupun banyak manusia terhadap sesamanya dan kemudian membeberkan citra-citra tersebut, harusnya hal tersebut juga mampu menyalakan kembali rasa kemanusiaan melalui pantikan yang ada. Lebih dari itu, bukan hanya sebatas pada pertimbangan derajat keshahihan maupun eksistensi semata yang justru menghambat nalar kritis seseorang dalam menjalani kehidupan demokrasi. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

 

Fotografi dan Pergeseran Makna
Click to comment

Komentar

To Top