Resensi

Islam Kosmopolitan; Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan

Banyak orang mempersepsikan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai orang yang aneh, unik, berani, nyeleneh dan oleh sebagian orang disebut ngawur.  Sebagai kepala negara, ia berani mengambil keputusan tegas, walau keputusan tersebut dianggap tidak populer. Imbasnya banyak lawan politik yang berusaha menjatuhkannya. Sebagai kiai, ia tidak segan-segan mengemukakan pendapat mengenai suatu ajaran agama yang berbeda dengan mainstream sebagaimana dipahami masyarakat pada umumnya. Dari pendapat-pendapatnya ia kerap mendapat kecaman. Bahkan dalam konteks sosial, Gus Dur mempertanyakan adanya Arabisasi Islam. Namun Gus Dur adalah seorang cendikiawan yang bertanggungjawab atas segala yang diucapkannya.

Menyeluruh dan berwawasan luas, atau bisa juga disebut universal dan kosmopolitan, merupakan komponen utama yang ditawarkan Gus Dur dalam setiap pemikirannya. Sebagaimana para ulama, Gus Dur menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam bentuk tulisan. “Islam Kosmopolitan” merupakan salah satu buku yang mengumpulkan berbagai jenis tulisan Gus Dur pada medio pertengahan 70-an hingga 90-an.

Di dalam buku ini terdapat tiga peta pemikiran Gus Dur yang dibagi atas tiga bab. Pertama menyangkut ajaran, transformasi dan pendidikan agama. Kedua, mengenai nasionalisme, gerakan sosial dan anti kekerasan dan terakhir membahas pluralisme, kebudayaan dan hak asasi manusia. Masing-masing bab memuat sepuluh karya tulis Gus Dur.  Ketiga bab tersebut sangat terpengaruh oleh kehidupan Gus Dur sebagai santri, kiai, budayawan, aktivis, hingga politisi.

Dalam buku ini saya menyimpulkan bahwa sebagian besar pemikiran-pemikiran Gus Dur berpusat pada al-kutub al-fiqhiyah atau kerap disebut sebagai maqashid asy-syari’ah. Apa itu al-kutub al-fiqhiyahAl-kutub al-fiqhiyah merupakan lima buah jaminan dasar yang diberikan Islam kepada semua manusia. Kelimanya adalah (1) keselamatan fisik (hifdzu an-nafs); (2) keselamatan keyakinan (hifdzu ad-din); (3) keselamatan keluarga dan keturunan (hifdzu an-nasl); (4) keselamatan harta benda dan milik pribadi dari gangguan (hifdzu al-mal); dan (5) keselamatan hak milik dan profesi (hifdzu al-aqli). Kelima ajaran tersebut merupakan bentuk universalisme Islam.

Peta pemikiran Gus Dur sebagian besar sudah terbaca pada tulisan pertama di dalam buku ini, Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam. Dalam tulisan tersebut, Gus Dur mengajak para pembacanya untuk memahami Islam secara luas, bukan hanya terpaku pada dua sumber utama alkitab dan assunah. Ia mencontohkan bagaimana Imam Syafi’i mengambil sebuah hukum melalui metodologis tertentu, bukannya langsung menarik hukum dari nash. Gus Dur memaknai Islam sebagai sebuah substansi daripada sekedar teks yang tertulis.

Dalam bernegara, Gus Dur menolak adanya politik agama. Di salah satu tulisannya ia dengan tegas memberi judul “Hindari Negara Berasumsi Agama”. NU mendukung adanya Negara Republik Indonesia dan menolak adanya Negara Islam Indonesia yang digagas Kartosuwiryo. Para ulama NU bahkan menyatakan NII sebagai bughat (pemberontak) yang harus dibasmi.

Gus Dur setuju terhadap ajaran Islam yang fungsional daripada sekedar ornamen belaka. Islam merupakan nilai yang dinamis, bukan nilai yang stagnan. Dengan lima jaminan sebagaimana disebutkan di atas, Gus Dur menggagasnya sebagai bentuk perlindungan kaum minoritas atas nama kemanusiaan. Perbedaan pandangan ataupun keyakinan tidak perlu diperselisihkan karena hal tersebut merupakan keniscayaan.

Cara memaknai teks-teks Alquran yang dilakukan Gus Dur pun sangat luas cakupannya. Ia memaknai dengan mempertimbangkan banyak hal. Misalnya dalam memahami hadis “jangan serahkan urusan penting pada wanita”, Gus Dur meninjau aspek historisnya. Jaman dahulu di Arab wanita bisa dirampas apabila qabilahnya kalah dalam peperangan. Sangat wajar hadits tersebut muncul karena dikhawatirkan strategi atau sisi rahasia suatu qabilah dibocorkan oleh wanita yang dirampas.

Yang terpenting adalah, semua pemikiran Gus Dur selalu mempertimbangkan aspek-aspek kodrati manusia. Ia membela golongan yang memang logis untuk dibela. Masalah keyakinan dan kepercayaan merupakan aspek kodrati yang tidak dapat diubah kecuali ada campur tangan dari-Nya. Gus Dur tampil di depan untuk membela mereka yang ditindas. Namun berbeda apabila yang meminta perlindungan ialah orang-orang yang non-kodrati. Dalam permasalahan homoseksual misalnya, Gus Dur mengatakan mereka adalah orang-orang yang sakit. Jadi tuntutan untuk melegalkan mereka tidak perlu dilakukan, karena mereka menyalahi kodrat kemanusiaan.

Salah satu hal terpenting dalam buku ini menurut pengamatan penulis adalah, menunjukkan Gus Dur sebagai seorang yang dihasilkan oleh proses. Di dalam buku tersebut dicantumkan tulisan-tulisan Gus Dur tentang pesantren, rumah paling awal baginya. Bagaimana pun Gus Dur yang dikenal belakangan merupakan sosok yang muncul dari bilik pesantren. Ini membuktikan sosok Gus Dur tidak lupa dari tempat asalnya, walau ia sendiri tak jarang mengkritik model pembelajaran di pesantren.

Tidak semua muatan yang ada di dalam buku tersebut bisa saya tuliskan di sini. Secara umum buku tersebut sangat menarik dan membuka wawasan kita untuk menjadi orang yang kosmopolit. Gus Dur menjelaskan suatu hal tidak hanya dari sudut pandangnya sebagai seorang muslim. Ia kerap mengemukakan pendapat dan contoh dari tokoh-tokoh lintas agama. Buku ini mampu menjelaskan alasan Gus Dur berpendapat mengenai suatu permasalahan ditinjau dari berbagai perspektif. Dalam istilah saya, buku ini merupakan peta pertanggungjawaban pemikiran Gus Dur. Siapapun yang ingin mengenal pemikirannya, buku ini menjadi salah satu rujukan yang tepat. []

Tulisan ini pernah dimuat di santrigusdur.com dengan judul Peta Pertanggungjawaban Gus Dur

Peresensi; Sarjoko Wahid

Judul                : Islam Kosmopolitan; Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan
Penulis             : Abdurrahman Wahid
Cetakan            : 2017
Penerbit           : The Wahid Institute

Islam Kosmopolitan; Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan
Click to comment

Komentar

To Top