Catatan Perut

Menjadi Mayoritas yang Berkualitas

Pada suatu sore saya bertemu dengan Maha Bhisku Dutavira Sthavira, seorang penganut Budha yang taat dan disegani. Kami ngobrol tentang banyak hal. Saya ingat-ingat, sepanjang obrolan kami, lebih banyak derai tawa dibandingkan perdebatan. Ia sangat lemah lembut.

Kesan itu saya tangkap dengan mudah. Ia bilang bahwa kita hanya bisa menilai akidah seseorang dari hanya sebatas apa yang nampak saja. Selebihnya itu urusan Tuhan. Saya terkesiap mendengar kalimat itu. Sebab, betapa kalimat itu beririsan betul dengan sebuah hadis nahnu nahkumu bil zahir wallhu yatawallas sarair. Kita menghukumi yang tampak, sedang yang tidak tampak itu urusan Allah.

Saya menyimak dengan seksama penjelasan Maha Bhisku. Ia menguraikan dengan gamblang konsep bagaimana seharusnya menjadi umat beragama yang hidup di belantara kemajemukan. Dengan penuh kesopanan, kelugasan, dan ketangkasan, Maha Bhiksu menyampaikan pandangannya soal kondisi terkini umat beragama di Indonesia.

Derai tawa kami tiba-tiba berhenti sesaat setelah Maha Bhiksu bercerita seperti ini: “Saya punya teman. Ia pindah warga Negara Australia dan tinggal di sana. Sudah lama sekali. Keluarganya semuanya diboyong ke sana. Ia warga keturunan China. Ia kerja di Australia dan memutusakan untuk membawa seluruh anggota keluarganya ke negeri kangguru itu, termasuk yang diboyong adalah sang ayah. Beberapa waktu lalu, sang ayah menyempatkan liburan ke Indonesia. Ia dirundung rasa kengen pada tanah kelahirannya. Hidup di luar negeri—betapa pun enak dan nyamannya—barangkali tidak akan pernah bisa menggangtikan kenyamanan hidup di negeri sendiri.”

Dia nampaknya paham betul dan meyakini pepatah “daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri,” ujar Maha Bhisku mulai meteskan air mata. Sejurus kemudian ia meneruskan ceritanya.

Naas-nya, sesampai di Jakarta, sang Ayah ini meninggal dunia. Tidak ada penyakit serius yang diidapnya. Ia hanya kaget dan shock saja. Ia kaget, schock dan takut melihat keurumunan massa aksi 212. Ia menyaksikan langsung dan sesaat setelah itu ia meninggal dunia. Semua keluarga menangisinya.

“Sang Ayah meninggal karena kaget dan ingatannya tiba-tiba terbayang pada peristiwa 1965,” demikian ujar Maha Bhiksu.

Saya ikut merasakan getaran kesedihan Maha Bhiksu. Suaranya bergetar sedemikian rupa saat menguraikan penyebab kematian Ayah temannya. Suara khas keraguan untuk mengutarakan: antara bimbang dan takut.

Saya meyakinkan kepada Maha Bhiksu bahwa fenomena yang ada belakangan adalah bukan wajah tunggal umat Islam. Ia adalah salah satu realitas yang tidak bisa dipakai untuk menggeneraliasir bahwa demikinlah sikap umat Islam seluruh Indonesia. Tegas saya katakan tidak. Saya menolak anggapan itu.

Dari cerita Maha Bhisku saya menjadi paham bahwa menjadi mayoritas maupun menjadi minoritas sesungguhnya kita sama-sama memunyai tugas yang tidak ringan. Jika kita menjadi minoritas tantangannya dalah bagaimana caranya agar kita tidak bersifat mentang-mentang.

Sebagai mayoritas kita tidak laik untuk bersikap adigang adingung adiguna. Kita tidak boleh mentang-mentang jumlahnya besar maka kita bisa seenaknya sendiri.

Soal mayoritas ini, tiba-tiba saya berpikir keras. Apa sesungguhnya makna mayoritas? Ia hanya ditentukan dari materi atau sesuatu yang sifatnya bendawi yang kasat mata, atau ditentukan yang lain yang misalnya lebih bersifat anstrak, sublim, dan tak nampak mata?

Saya mencoba membuka kamu besar Bahasa Indonesia. KBBI mengartikan mayoritas dengan jumlah orang terbanyak yang memperlihatkan ciri tertentu menurut suatu patokan dibandingkan dengan jumlah yang lain yang tidak memperlihatkan ciri itu. Definisi yang diberikan KBBI, terus terang saja, membuat saya semakin yakin bahwa yang kita maksud dengan istilah mayoritas selama ini adalah mayoritas dalam segi bendawi atau jumlah.

Mayoritas dalam soal jumlah ini berarti sudut pandangnya soal kuantitas. Hitung-hitungannya kuantitatif. Banyak-banyakan massa, tidak peduli kualitas massanya seperti apa.

Padahal menurut saya, ada makna alternatif yang bisa ditawarkan soal mayoritas ini. Makna itu adalah makna mayoritas secara kualitatif. Kita bisa menyebut sesuatu itu mayoritas bukan ditinjau dari banyaknya massa, namun lebih dari itu dari tingginya kualitas massa itu. Ini memang sedikit sulit dipraktikkan, namun lambat laun saya pikir akan bisa mengubah cara pandang kita.

Sebab kalau kita hanya terpaku mamaknai mayoritas hanya berhenti sebatas banyak-banyakan massa, pandangan ini sepenuhnya juga tidak bisa dibenarkan. Massa umat Islam memang banyak, namun apakah benar mereka ini mayoritas? Tidak. Kebanyakan mereka tidak memiliki saham penting yang memengaruhi pengambilan kebijakan di negeri ini. Modal mereka cupet. Ekonomi mereka senin-kemis. Singkatnya secara massa mereka memang mayoritas, namun secara kualitas mereka adalah minoritas.

Makna mayoritas secara kualitatif ini saya maksudkan sebagai usaha untuk mengeliminir peredaran istilah mayoritas. Sebab pada kenyatannya oposisi biner antara mayoritas dan minoritas akan bisa sangat berbahaya pada praktik kehidupan sehari-hari di bangsa yang majemuk ini.

Mayoritas minoritas itu dikotomi yang sama bahayanya dengan oposisi biner yang sudah kepalang salah: muslim dan non muslim. []

*) Tulisan ini pernah tayang sebelumnya dengan judul yang sama (16 April 2017). Redaksi mempublikasikan ulang dengan perubahan minor, di isi dan data.

Menjadi Mayoritas yang Berkualitas
Click to comment

Komentar

To Top