Resensi

Kubah Masjid dan Rekonsiliasi Kultural itu Ditunaikan

Sabtu malam (30/9), setelah wirid dan macam-macam rapalan doa dirampungkan imam, muadzin masjid di bilangan Matraman Dalam bergegas mengambil mikrofon. Beberapa informasi disampaikan termasuk keuangan kas masjid dan beberapa agenda masjid. Terakhir, sebelum informasi ditutup, jamaah yang melaksanakan sholat isya diajak untuk nonton bareng film G30S/PKI garapan sutradara Aripin C. Noer. Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama pengurus juga pemuda masjid dengan karang taruna, begitu pungkasnya.

Tak jauh dari masjid, tak lebih dari 20 jangkah manusia normal, geber kain putih sudah mengembang. Di jalan samping masjid itulah, di depan pos satpam nobar film digelar. Sebelumnya, laptop, proyektor, pengeras suara dan alat pendukung lainnya sudah lunas dicoba dan dipastikan berfungsi. Beberapa orang memang sudah kumpul, menggelar karpet, koran, sajadah ataupun alas lainnya agar bisa duduk dengan nyaman di atas aspal.

Isu PKI Bangkit, komunis bangun seperti halnya buah durian, berbunga setiap tahun sekali. September akhir, atau awal di bulan Oktober, isu itu sengaja dilempar dan dibiarkan menggelinding menjadi buah bibir dan perbincangan publik. Lalu siapa yang memanen?

Citra PKI memang buruk, dan pantas ia dibenci dan dimusuhi. Tetapi yang tidak boleh kita lupakan, mereka juga manusia. Dan tidak semua dari mereka sejahat seperti apa yang dinarasikan. Kalau Aidit, Alimin, Nyoto yang benar-benar komunis tidak masalah, tetapi untuk mereka yang dianggap anggota, juga orang-orang kampung atau petani kampung yang diduga, apa juga pantas disamakan? Ini menjadi PR yang belum lunas pada diri kita, pada bangsa ini.

Secuil Isi tentang Kubah

Buku Kubah, yang ditulis oleh Ahmad Tohari harusnya juga didiskusikan dan disebarkan di kalangan luas. Menjadi bacaan alternatif di tengah isu bangkitnya PKI. Memberi cara pandang yang tidak monoton dan tidak juga sekedar menonton film melulu. Tidak saja bicara permusuhan, tetapi juga perdamaian itu terjadi. “Kubah berisi gagasan besar rekonsiliasi pasca peristiwa tragedi 1965 yang ditulis paling awal yakni tahun 1979 dan terbit dua tahun kemudian.” Kata Gus Dur memberi pengantar wacana dalam buku.

Kubah, mengambil latar kampung yang asri bernama Pegaten, yang dikelilingi pegunungan Kendeng. Bercerita tentang manusia bernama Karman, eks tapol yang menjalani pengasingan selama 12 tahun di Pulau Buru. Kisahnya diceritakan dengan menarik mundur lika-liku kehidupan Karman, menyeret mundur kehidupan semasa kecil. Kisahnya diceritakan dengan apik dalam 11 bab. Mulai dari latar keluarga, masa kecil, kisah cintanya dengan Rifah yang berujung gagal dipinang. Juga perkenalannya dengan Margo, Si Gigi Besi dan Truman yang membawanya masuk menjadi anggota Partai komunis. Serta tak kalah penting pertemuannya dengan perempuan kampung nan cantik bernama Marni, yang kemudian diperistri dan memberinya tiga anak.

Cerita Manusia Bernama Karman

Alkisah, Digambarkan, usai mendapatkan surat tanda bebas serta kelengkapan lainnya, Karman begitu ragu akan dirinya, perasaannya tak menentu, bayang-bayang ketakutan atas dosa masa lalu, apakah ia masih diterima atau tidak? Di kepalanya ia takut orang-orang kampung memusuhinya, orang-orang mencacinya, baik dari tetangga, kerabat juga orang-orang yang mengenalnya. Ia juga memikirkan mantan istrinya, Marni, dan juga anak-anak dari perkawinannya dengan Marni. Wajahnya begitu pasi.

Langkahnya kuyu, seolah memikul beban berat di pundaknya, pikirannya juga bercabang. Usai meninggalkan kodim, Karman berjalan tak menentu, berjalan mengikuti sesuka kakinya melangkah. Pandangan matanya kosong. Tak terasa, sampailah kemudian ia di alun-alun kota, jaraknya 30 kilometer dari kampungnya Pegaten. Ia duduk di pojok alun-alun di bawah rindang pohon, ia terus memikirkan kecemasannya sampai kemudian tertidur pulas sampai adzan maghrib membangunkannya.

Segera ia berjalan menuju masjid, ia menunaikan ibadah shalat maghrib di masjid agung seberang alun-alun. Asanya perlahan mulai terbangun, kecemasannya mulai pudar. Jamaah masjid itu mau menyalaminya dan menebar senyum tanpa bertanya asal usulnya. “Mereka tidak tahu kalau aku ini eks tapol.” Pikir Karman. Tetapi setidaknya keramahan jamaah, kepercayaannya mulai tumbuh.

Akhirnya malam itu pula ia memutuskan untuk pulang ke kampung.Berjalan kaki menuju ke terminal yang jalannya tidak jauh, mencari angkutan. Banyak yang berubah di kota ini, setelah 12 tahun ia tinggalkan. Karman melihat bangunan-bangunan baru dan bertingkat yang dulu tidak ada, jalanan juga semakin ramai. Sesampai terminal, ia tidak menemukan satu angkutanpun yang bisa membawanya ke kampung.

Ia termenung, kemudian ia ingat punya saudara di kota, Gono namanya, rumahnya tak cukup jauh dari terminal. Setelah berjalan beberapa menit, sampailah ia di rumah saudarany. Di rumah Gonolah ia bertemu dengan anak pertamanya, Rudio. Ibu Gono histeris ketika melihat Karman masih hidup dihadapannya. Sampai kemudian ia menawarkan untuk tinggal di kota saja, di kampungnya ia tidak punya apa-apa lagi. Istrinya sudah kawin lagi, rumahnya sudah dijual. Di rumah Gono, ia juga mendapat kabar anak bungsunya Tono, meninggal lantaran gizi buruk. Sementara anak perempuannya, Tini masih tinggal bersama ibu dan ayah tirinya, Parta.

Kabar kembalinya Karman dengan cepat sampai di telinga penduduk Pegaten. Dengan riang gembira para penduduk berbondong-bondong menjenguk Karman. Mereka senang, tak ada dendam, dan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Termasuk juga Haji Bakir, orang yang pernah merawat Karman kecil, yang pernah juga dimusuhi Karman dengan sebutan “tujuh setan desa”. Dan yang membuat degub jantung Karman berdesir, Marni, mantan istrinya yang sebetulnya masih sayang, juga menjenguk dengan membawa setumpuk rindu yang ia lipat dan simpan di dalam hati selama 12 tahun.

Karman pun pulang dan tinggal di rumah ibunya. Sesampai di kampung, banyak yang telah berubah. Namun satu hal yang tidak berubah, sikap penduduk tetap sama, ramah dan rendah hati. Masjid Haji Bakir juga masih sama tidak ada perubahan yang berarti. Hanya saja karena umur, beberapa bagian perlu dipugar dan direnovasi, termasuk kubah masjid yang sudah reot.

Tak lama, dibentuklah panitia pembangunan, dan penduduk pun bergotong royong memperbaiki masjid. Karman yang sewaktu pengasingan mendapatkan keahlian mematri, mengajukan diri menyelesaikan kubah masjid tanpa menyewa orang di luar kampung. Ia tidak meminta imbalan apapun atas jasanya, ia ingin mengabdi kembali, kepada masjid yang sewaktu kecil mengajarinya mengaji.

Hasilnya luar biasa, kubah masjid buatan Karman begitu indah. Karman dipuji atas jerihnya, penduduk menaruh sopan, segan, juga hormat. Kini, Karman diterima kembali sepenuhnya, ia memperoleh kembali bagian yang selama ini hilang. Ia purna kembali menjadi bagian penduduk Pegaten.

Di akhir cerita, Karman berbesan dengan Haji Bakir. Anak perempuannya, Tini dilamar oleh cucu Haji Bakir. Jabir namanya, yang tidak lain anak dari Rifah, cinta kecilnya Karman.

Seperti tulisan-tulisan Ahmad Tohari lainnya, penulis buku dengan sempurna membangun narasi-narasi suasana kampung yang lugu nan polos, yang sejuk dan selaras. Seolah menjadi keahlian pula, ciri khas lain Ahmad Tohari adalah membangun cerita soal percintaan. Di buku Kubah, Ahmad Tohari juga tuntas mengaduk-aduk perasaan lewat diksi-diksi dan bangunan cerita getir Karman dan Marni. Senelangsa kisah cinta Rasus dan Srintil di buku lain, Trilogi; Ronggeng Dukuh Paruk.

Masing-masing manusia membawa masa lalunya, dan masing-masing manusia juga berhak mendapat pengampunan.

Hai jiwa yang tenteram, yang telah sampai kepada kebenaran hakiki. Kembalilah engkau kepada Tuhan. Maka masuklah  engkau ke dalam barisan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah engkau ke dalam kedamaian abadi, di surga-Ku. (Q.s al-Fajr; 27-30). []

Peresensi; Faridur Rohman

Judul                : Kubah
Penulis             : Ahmad Tohari
Cetakan            : keenam, September 2017
Penerbit           : Kompas Gramedia

Kubah Masjid dan Rekonsiliasi Kultural itu Ditunaikan
Click to comment

Komentar

To Top