Catatan Perut

Berhari Santri Saban Hari

Ada dua hal yang saya belum bisa benar-benar pahami saat pertama kali menginjakkan kaki di pesantren. Pertama, soal mengapa orang harus jauh-jauh meninggalkan rumah dan mondok ke pesantren. Kedua, tulisan بكيكجع  بكيكجع بكيكجع  yang kerap saya temukan di kitab-kitab anak-anak santri itu artinya apa?

Untuk soal kedua, biarlah ia menjadi misteri. Adapaun soal yang pertama, saya mencoba merenungkannya.

Begini, pertama kali menginjakkan kaki di pesantren, Saya ingat betul ada perasaan masygul bukan kepalang. Waktu itu saya berusia belasan tahun, menginjak SMP. Saya terus bertanya, mengapa orang jauh-jauh belajar ilmu agama, lepas dari keluarga, penuh dengan bejibun aturan ini itu, padat dengan kegiatan begini begitu dan seterusnya dan sebagainya. Kok ndak belajar agama di rumah saja. Lebih nyaman dan tidak repot tentunya.

Selama masa-masa SMP saya memanggul beban pertanyaan tersebut. Sembari tertatih-tatih beradaptasi serta bertarung melawan perasaan tidak betah tinggal di pesantren, saya putuskan untuk memendam dalam-dalam pertanyaan itu. Saya tidak menemukan figur yang tepat untuk melabuhkan pertanyaan itu. Figur tepat barangkali ada, namun saya ndak punya keberanian untuk menguarkan pertanyaan itu. Alhasil saya diam dan mendekap pertanyaan itu, siang dan malam, terik dan hujan.

Sepuluh tahun setelah saya lulus SMA dan boyong meninggalkan pesantren, pelan-pelan kesadaran itu tumbuh. Mula-mula saya mendapatkan jawaban bahwa paling tidak di pesantren kita belajar keteladanan pada figur yang konkrit: pengasuh pesantren atau kiai. Sosok kiai memang figur sentral. Kehadirannya menjadi semacam kitab keteladanan dalam menjalani kehidupan yang selalu terbuka untuk kita pelajari, kita maknai, kita tafsiri, dan syukur-syukur bisa kita tiru dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Cara memabangun kedekatan antara satri dan kiai, setidaknya di tempat saya nyantri, menurut saya sangat menarik. Kami tidak pernah memanggil pengasuh kami dengan kiai, Yi, atau Pak Kiai sebagaimana orang Jakarta memanggil sosok-sosok alim ini. Kami memanggil pengasuh dengan sebutan bapak. Pun demikian, kami memanggil ibu pengasuh dengan ibu. Pilihan diksi bapak dan ibu ini belakangan saya sadari adalah bagian kecil dari ikhtiar untuk merapatkan jurang psikologis antara santri dengan kiai.

Seingat saya, pengasuh kami lebih banyak memberi contoh dengan perbuatan dibandingkan menasehati secara verbal. Bapak tidak begitu banyak berbicara. Bibirnya selalu basah dengan zikir kepada yang kuasa.

Keteladanan barangkali merupakan barang mewah dan mahal yang semakin sulit dicari belakangan ini. Banyak orator, bejibun khatib, meruah penceramah, namun sedikit sekali yang bisa diteladani. Ada jarak yang terlampau menganga antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Padahal, orang baik adalah mereka yang berhasil menihilkan jarak antara apa yang dia ucapkan dengan apa yang dia lakukan. Satunya perkataan dengan perbuatan, barangkali demikianlah mudahnya formula untuk merumuskan siapa itu sosok orang baik.

Saya menjadi teringat Kiai Azizi Habullah. Saya mendapatkan rekaman suara ceramah kiai weton Pesantren Lirboyo ini dari seorang kawan. Sekali tempo Kiai Azizi berkata bahwa ceramah itu jika hanya berhenti pada aktivitas ceramah maka niscaya pendengar tidak akan bisa mendapatkan manfaat apa-apa. Banyak orang yang ahli orasi dan terampil menceramahi, namun sedikit yang bisa diteladani. Kiai Azizi mengutip Kitab Jurumiyah “Al-kalãmu huwal lafdzul murakkabul mufīdu bil wadh’i”. Kalam (perkataan) itu akan berfaedah atau benar-benar bermanfaat dan berguna jika ia murakab atau tersusun dari lisan dan juga hati serta lisan dan perbuatan. Ringkasnya begini, jika ingin menjadi teladan maka segera tutuplah jurang yang memisahkan perkataan dan perbuatan.

Soal keteladanan ini, saya ingat betul, sekali waktu saya melihat sendiri betapa Bapak, kiai pengasuh kami di pesantren, dahar (makan) dengan lauk yang sama persis dengan apa yang kami makan. Nasi putih, tempe dan tahu goreng dengan sedikit sambal yang lebih dominan saosnya dibandingkan cabainya. Untuk jenis lauk seperti ini, kami biasanya menyebutnya dengan istilah lauk pramuka (merujuk kombinasi warna tahu dan tempe yang mirip warna seragam Pramuka). Inilah keteladanan. Inilah satunya perkataan dengan perbuatan. Nasehat yang dilakukan dengan cara memberi contoh.

Belakangan, saya baru sadar bahwa membangun karakter dan kesadaran itu tidak bisa ditunaikan sehari semalam sebagaimana permintaan Rara Jongrang kepada Bandung Bondowoso untuk membikin candi. Kesadaran kerap kali datang belakangan. Seperti saya, baru sadar nikmatnya menjadi santri bertahun-tahun kemudian setelah saya lulus dan boyong meninggalkan pesantren.

Santri saya kira bukan predikat, atau barangkali identitas yang kasat. Bukan. Santri adalah laku kehidupan yang tersusun dari cara pandang, cara berpikir, danj juga cara bertindak. Sebab santri adalah laku, maka ia tidak bisa diringkus dalam sebuah definisi yang sembrono semisal “mereka yang mempelajari ilmu agama” sebagaimana KBBI mendefinisikannya.

Saya memilih menjadi santri saban hari, meskipun hanya setahun sekali diperingati. Selamat Hari Satri. []

Berhari Santri Saban Hari
Click to comment

Komentar

To Top