Celomet

Ajang Kontes Baru itu Bernama Demo

Apa yang ada dalam benak ku tentang mahasiswa memang membahana. Suara lantang, pemberani, tak menyerah dan aumannya tak kalah menakutkan dibanding harimau. Kekuatannya tak kalah dengan gajah dan orasinya tak kalah hebat dari singa-singa liar yang siap menerkam.

Itu dulu. Tahun 1964, 1974 dan tahun 1998 adalah momen-momen kebanggaan mahasiswa dan mahasiswa yang layak untuk diangkat di layar lebar selebar-lebarnya. Tak hanya layak menjadi tuntutan tapi juga layak menjadi tontonan. Sejarah yang akan dikenang.

Dulu, Mahasiswa memang wajib kuliah, tapi ada lebih wajib yang tak bisa di tinggalkan dengan alasan apapun. Demonstrasi. Iya ngga? pasti. Itu cerita saat aku masih di bangku sekolah. Dan faktanya, aktifis seangkatanku, masih banyak yang tak peduli dengan IPK tinggi, mahasiswa sepanjang hayat atau tak mengikuti ujian semester demi ikut demontrasi.

Bagi mereka prestasi IPK tinggi akan kalah dengan demontrasi yang berhasil melawan polisi huru hara, menjebol gerbang anggota dewan dan lain sebagainya. Demontrasi mewakili rakyat lebih hebat di banding IPK tinggi atau tepat waktu lulus kuliah S1. Jadi bagi mahasiswa zaman old, Demontrasi itu lebih prestise dibanding IPK tinggi, meski setinggi langit.

Dan demo 20 Oktober kemarin membuatku bangga kembali kepada mahasiswa. Melihat semangat mereka,  jelas-jelas melanggar hukum demontrasi yang seharusnya selesai pukul 18.00 WIB, mereka demo sampai tengah malam. Mereka senang, mereka nyaman dan tenang sambil membaca sholawat, bertahan dengan segala keadaan, tengah malam meski itu melanggar peraturan. Dan kayaknya sih yang demo di depan istana dibubarkan paksa sama pak polisi.

Tapi kini, saat ini, mahasiswa yang dibanggakan nenek moyang bangsa ini entah ke mana. Maksudnya sedikit kabar tentang mereka; misalnya demontrasi besar-besaran karena kasus freeport, kasus kebakaran hutan, harga jual bawang merah yang murah bagi petani tapi mahal meriang bagi konsumen dan lain sebagainya. Mereka kemana? Mungkin lagi membaca berita di media sosial.

Oke, mungkin isu-isu di atas kurang populer, atau tak bisa membuat demo mahasiswa tersebut ngga viral atau ditonton kalangan pencari informasi dan berita. Tapi ada yg lebih ngilu lagi karena saat “Sang Papa Minta Bebas” menang pra peradilan kasus E-KTP, mahasiswa demo tak sesemangat 20, saat KPK di lemahkan anggota DPR dengan Pansus KPK, Mereka pun adem-adem saja, sepi-sepi saja maksudnya.

Tapi kenapa demontrasi 20 Oktober sangat besar dan militan. Mungkin kurang gaul mempermasalahkan demo tersebut, atau minimal mempertanyakannya. Begitu kaitannya istana kok ramai membahana. Entahlah, bisa jadi aku yang kurang kaya referensi.

Menurutku mahasiswa saat ini memang beda dengan mahasiswa tempo dulu, Jika dulu demontrasi adalah prestasi dan prestasi tersendiri. Tapi sekarang beda. Kayaknya sih, menurut tebakanku, mungkin berdasarkan isu-isu tertentu. Isu-isu dia memiliki ikatan lahir batin pada jiwa-jiwa bebas mereka. Jiwa-jiwa yang tak menyerah meski mereka bebas memilih apapun. mereka, orang-orang yang bebas tapi tak pernah menggunakan kebebasannya. Mereka bisa menjadi agen perubahan tapi memilih menjadi penumpang.

Misalnya, isu tentang DPR maka yang demo pendukung presiden atau rezimnya.  Kalau yang demo istana adalah pendukung parlemen atau LSM. Dan gejala atau tanda-tanda itu semakin jelas dengan aksi demo mahasiswa yang tak pernah memainkan isu-isu sentral tentang rasa tersakitinya rakyat. Tentang harga jual panen petani yang rendah, pelaku korupsi yang dibela, radikalisme intlektual mapan dan lain sebagainya.

Suatu saat, ini hanya harapan yang hampa, aku khawatir demontrasi hanya demi isu-isu kecil yang tak akan pernah membesar. Misalnya mahasiswa administrasi negara hanya akan demo tentang surat menyurat, mahasiswa PAI akan demo tentang jidat yang hitam dan celana cingkrang, mahasiswa hukum akan demo tentang mengetuk palu hakim yang benar dan lain sebagainya.

Hingga akhirnya, demo bukanlah demo. Demo adalah kontes dan ajang mengibarkan bendara dan almamater kampus. Bukan isu tentang apa yang di protes, tapi di mana demo dilaksanakan. Bukan sebagai agen perjuangan tapi kontes kemenangan dan pemenangan. Bukan tentang menyuarakan rakyat yang tertindas tapi suara-suara sarjana yang susah mendapatkan pekerjaan. Atau bukan-bukan yang lain, termasuk yang bukan-bukan.

Yang paling akhir meski tak pernah berakhir, bisa jadi di atas adalah keterbatasanku dan rendahnya bacaanku tentang aktifis mahasiswa. Bisa jadi karena terlalu banyak media sosial atau pasifnya kita pada dunia nyata.

Wallahu A’lam. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Ajang Kontes Baru itu Bernama Demo
Click to comment

Komentar

To Top