Celomet

Menendang Filsafat dari Ruang Kelas

Beberapa hari yang lalu, tepat saat selesai kelas dalam salah satu mata kuliah di jurusan saya, yaitu Fisika, saya sempat terkaget ketika menemukan salah satu adik tingkat yang sedang asyik masuk membaca buku. Tak tanggung-tanggung, yang membuat saya lebih terkaget adalah karena buku yang sedang dia baca merupakan salah satu jenis buku filsafat. Ini sangat begitu menarik, di kala dalam keseharian, di ruang kuliah tak banyak diperkenalkan mengenai dunia filsafat.

Memang demikian, acapkali istilah filsafat masih disalahartikan oleh sebagian besar mahasiswa atau bahkan sampai di beberapa kalangan dosen. Jangan heran ketika saat ini, kita dihadapkan pada pemahaman bahwasannya filsafat sebagai sesuatu yang abstrak, absurd atau bahkan tidak penting. Yang di mana, dari pemikiran maupun pemahaman tersebut justru melahirkan sifat dan karakter orang yang akan cenderung berpikir instan dalam menjalani kehidupan.

Tak heran ketika Taufiqurrahman melalui bukunya yang berjudul Jejak-Jejak Pencarian (2017) menyampaikan beberapa persepsi ihwal filsafat itu sendiri. Yang diantaranya adalah bahwasannya di era yang memiliki kecenderungan besar terhadap sesuatu yang instan, filsafat menjadi subjek -yang terlupakan- atau mungkin sengaja dilupakan.

Lebih lanjut, menurutnya, di saat fenomena keengganan terhadap filsafat ini merebak, pada kondisi riil di lapangan, kita banyak menyaksikan fenomena lain yang berupa sikap anti-perbedaan, intoleransi, dan kekerasan yang kian menjadi-jadi. Dan kedua fenomena itulah yang sering membuat kaum minoritas menjadi pihak yang terpinggirkan. Mereka menjadi korban dari kuasa mayoritas yang anti perbedaan.

Ketakutan

Jikalau hal ini terus berkembang dan tumbuh subur, nampaknya akan banyak bermunculan ancaman demi ancaman dalam kehidupan manusia. Beberapa diantaranya adalah: mencurigai teori, merendahkan pengetahuan, bebal dalam menanggapi sebuah permasalahan, hingga menurunnya kemampuan analisis dan terhambatnya nalar kritis seseorang. Syak wasangka yang kerapkali hadir dan mengakar di dalam kalangan mahasiswa antara lain adalah: tak mau melakukan aktivitas membaca, diskusi hingga menulis.

Hal tersebut relevan dengan salah satu esai yang pernah dituliskan oleh Zen RS dengan judul Wabah Anti-Intelektualisme (Jawapos, 2016). Baginya, wabah tersebut merupakan pandangan, sikap, dan tindakan yang merendahkan ide-ide, pemikiran, kajian, telaah, riset, diskusi hingga debat.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwasannya tidak mengherankan ketika atmosfer akademik di perguruan tinggi dirancang atau dikondisikan untuk meluluskan mahasiswa dalam waktu empat tahun, bahkan jika perlu lebih cepat. Tak perlu berlama-lama di kampus. Bacalah diktat, jangan bacaan aneh-aneh. Diskusikan saja tema-tema yang ada dalam silabus. Yang pasti-pasti saja: kuliah, kerjakan tugas dosen, wisuda, kemudian bekerja di perusahaan-perusahaan mapan atau jadi PNS.

Bijaksana

Bagi kawan saya yang notabenenya adalah masih berstatus sebagai mahasiswa baru tersebut, saya berharap memang tidak takut ataupun merasa minder dengan kondisinya sekarang yang membuatnya menjadi bagian dari kelompok minoritas. Aji mumpung masih muda dan masih memiliki waktu lebih banyak dalam berproses untuk benar-benar menjadi seorang mahasiswa. Karena saya yakin, referensi-referensi macam filsafat sains, filsafat fisika, hingga filsafat ketuhanan tak akan banyak dihadirkan dari perkuliahan jikalau tak mau berusaha dengan sendirinya. Apalagi sampai disediakan forum untuk mendiskusikannya.

Kemudian, harusnya sikap tersebut juga menjadikan dirinya mampu melakukan sebuah transformasi. Dalam arti lain adalah kembali menjelaskan kepada khalayak tentang arti filsafat yang sebenarnya. Filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. Tujuan filsafat adalah bagaimana bertugas untuk membentuk sikap keterbukaan, keugaharian, dan keutamaan.

Kita tidak mungkin bisa paham mengenai konsep Fisika yang pernah digagas oleh Aristoteles kalau tidak memahami konsep filsafat yang pernah ditulis oleh Bertrand Russell. Kita tidak mungkin dapat memahami istilah “Dialektika Socratic” jika tidak mau menelusuri jejak-jejak pemikiran maupun konsep filsafat dari Socrates. Kita bahkan tidak akan pernah terpahamkan mengenai definisi jiwa manusia yang terdiri dari tiga bagian: epithumia, thumos, dan logos, andaikan tak mau memahami filsafat yang pernah digagas oleh Plato.

Ruang kelas yang idealnya menjadi wadah bertukar pikiran, ide maupun gagasan harusnya tidak boleh dibiarkan mandek atau bahkan mati karena perbedaan yang hadir di sana. Ruang kelas tidak boleh menjadi tempat yang hanya menelorkan maupun menyalurkan gagasan-gagasan yang mengarah pada favoritisme maupun subjektivisme hingga tercetusnya ideologi yang hanya bersifat doktrinasi.

Tugas yang seharusnya ditanamkan kepada masing-masing otak kita adalah bagaimana menendang sikap anti-intelektualisme itu sendiri, bukan malah menendang filsafat dan terus mengambing hitamkannya dengan hal-hal yang tak lazim seperti: ateis, gila, absurd, tidak masuk akal maupun tidak penting bagi kehidupan. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Menendang Filsafat dari Ruang Kelas
Click to comment

Komentar

To Top