Catatan Perut

Menyeka Mimis: Menyimak Logika Bahasa dalam Lagu Anak-anak

Membincangkan lagu anak-anak dari sisi diksi sampai logika bahasa yang digunakan memang selalu menarik dan mengasikkan, kalau tidak mau dibilang menjengkelkan. Menyimak logika lagu anak-anak, sama artinya dengan kita harus siap-siap menyeka mimis belaka. Saya menemukan dan mencatat beberapa kejanggalan logika dalam lagu anak-anak. Sial dan celakanya, lagu-lagu yang menurut saya -cacat logika-  itu ternyata lagu-lagu yang sangat populer dan telah dinyayikan dari dulu sampai sekarang.

Berikut lagu-lagu yang saya maksudkan itu:

Pertama, Bintang Kecil. Lagu ciptaan RGJ Daldjono Hadisudibyo ini merupakan lagu favorit yang dinyanyikan ibu-ibu pada malam hari untuk menidurkan anak-anaknya. Ada dua versi lirik dalam lagu ini. Lirik pertama seperti ini “Bintang Kecil di langit yang tinggi/amat banyak menghias angkasa/aku ingin terbang dan menari jauh tinggi/ ke tempat kau berada”. Lirik kedua yang beredar seperti ini “Bintang Kecil di langit yang biru/amat banyak menghias angkasa/aku ingin terbang dan menari jauh tinggi/ ke tempat kau berada”. Entah apa sebabnya versi kedua lebih populer dibandingkan versi pertama. Setidaknya di kalangan mahasiswa yang saya ampu.

Pada bait pertama versi kedua di lagu ini, yang liriknya berbunyi “Bintang kecil di langit yang biru” jika kita simak dan perhatikan dengan seksama sejatinya mengandung cacat logika. Pertanyaannya adalah apakah warna langit memang biru ketika bintang-bintang kecil itu bermunculan? Tentu saja tidak. Birunya langit itu terjadi di saat hari terang benderang. Sementara itu kemunculan bintang adalah saat langit gelap gulita.

Kedua, Balonku ada Lima. Lagu ini barangkali sama atau bahkan lebih populer dibandingkan dengan lagu bintang kecil, namun dalam keduanya memiliki irisan kesamaan. Semukabalah dengan lagu Bintang Kecil, Balonku ada Lima ini juga mengandung kecacatan logika yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Ada kebingungan lirik di sana. Lirik lengkapnya ada dua versi. Perbedaan dua versi tersebut terdapat pada warna-warna balon. Versi pertama mengatakan: merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Sementara itu versi kedua menyebutkan: hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru.

Sengkarut lirik lagu ini pernah saya buktikan sendiri. Dalam sebuah riset kecil yang saya lakukan, enam dari sepuluh mahasiswa yang saya minta untuk menyanyikan lagu ini, mereka menyanyikan dengan lirik versi pertama, yakni menyebutkan warna balon dengan: merah, kuning, kelabu, merah muda, dan biru.

Hal itu sesungguhnya merupakan bukti sahih yang dapat digunakan sebagai argumen dan dalil bahwa polemik lirik lagu Balonku memang benar-benar terjadi di masyarakat. Meskipun hal ini jarang disadari.

Persoalannya, enam mahasiswa tersebut menjadi kelimpungan dan lunglai tak berdaya ketika saya tanya, mengapa yang meletus balon hijau yang notabene tidak kalian miliki dalam lagu tersebut?

Ketiga, Pok Ame-ame. Lagu ini lebih populer dibandingkan dua lagu sebelumnya. Lagu ini hampir pasti dinyanyikan kapan pun dan di mana pun oleh orang-orang dewasa kepada anak-anak kecil, khsususnya balita (bayi di bawah umur tiga tahun). Lirik lagu ini versi lengkapnya sebagai berikut: pok ame-ame belalang kupu-kupu/siang makan nasi kalau malam minum susu.

Pertanyaan besarnya adalah bayi mana yang aktivitasnya kalau siang makan nasi sementara malam hari minum susu? Ini aktivitas yang sangat aneh, sebab usia bayi adalah usia minum asi, belum atau bahkan sama sekali tidak makan nasi. Kita boleh dan perlu curiga, jangan-jangan aktivitas siang makan nasi dan malam minum susu adalah aktivitas bapaknya, bukan bayinya.

Pada etape inilah sejatinya penting untuk dikemukakan bahwa bahasa sejatinya erat pertaliannya dengan logika. Bahasa yang baik adalah cerminan logika yang baik pula. Sebaliknya logika yang ruwet akan menghasilkan bahasa yang ruwet pula.

Lagu adalah salah satu produk dan ekspresi berbahasa kita. Lagu yang baik bersumber dari bahasa yang baik yang dihasilkan dari logika yang baik pula. Lagu yang buruk bahasanya, pasti dihasilkan oleh logika yang payah.

Kita patut mengajukan pertanyaan, apa jadinya generasi penerus bangsa jika dididik—bahkan sejak kecil—dengan lagu-lagu yang tidak masuk akal dan cacat logika seperti itu? Sebelum mimis mengucur deras, sebaiknya saya akhiri saja artikel ini.

Menyeka Mimis: Menyimak Logika Bahasa dalam Lagu Anak-anak
Click to comment

Komentar

To Top