Celomet

Nilai Spiritual dalam Kitab Kamasutra yang Harus Diketahui

Seksualitas merupakan gambaran surga duniawi yang harus dinikmati oleh setiap makhluk, baik itu manusia, hewan dan tumbuhan. Seksualitas merupakan hubungan demi keberlangsungan keturunan dan populasi. Perspektif manusia melakukan hubungan sekesualitas ada dua, untuk keturunan dan kepuasan. Kitab Kamasutra memberikan gambaran seksualitas manusia untuk melakukan hubungan intim dengan berbagai varian gaya serta bagaimana meningkatkan rasa seksualitas ketika melakukan hubungan intim. Namun seiring meningkatkannya ilmu komunikasi seperti internet, buku kamasutra mulai tergeser oleh peradaban karna beredarnya situs–situs pornografi, yang mudah manusia akses untuk sekedar meningkatkan rasa seksnya. Padahal dalam Buku Kamasutra ini mengandung makna filosofis keindahan tubuh manusia yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Kamasutra jika di-seraching di google kebanyakan memperlihatkan gambar–gambar pornografi, jarang sekali  mempelihatkan pembahasan filosofis. Hingga orang hanya mampu memaknai bahwa kamasutra ini sebatas penambah nafsu syahwat belaka tidak ada makna prudential yang disampaikan. Orang–orang beragama seperti umat Islam skeptis akan membahas kamasutra karna terdoktrin oleh dunia internet dan dogma dosa zina karena kebanyakan kamasutra memperlihatkan gambar pornografi. Perlu merefleksi kembali dengan membuka buku di setiap lembaran kamasutra karna di bagian awal ada makna filosofis juga spiritual.

Kamasutra seakan menjadi hal terlarang untuk dibahas dalam agama. Hanya sebagian orang atau kelompok liberal yang mampu memberanikan dirinya untuk memahami kamasutra dan membuat sebuah forum diskusi tanpa mempertimbangkan larangan para cendikia agama. Jika kita membahas secara mendalam dengan menghubungkan perspektif agama dan filosofis, akan tersirat sebuah pesan moral kepada manusia bahwa kekuasan Tuhan menciptakan manusia begitu sempurna. Sehingga kamasutra ini menggambarkan bagaimana menghubungkan surga dengan dunia melalui proses intim seksualitas.

Persoalan hubungan kamasutra dengan agama maka kita akan mulai dari lahirnya kamasutra ini dari tangan agama Hindu. Kemudian kita akan sambungkan ke agama Islam, bagaimana memahami seksualitas dengan beberapa gaya erotika seksual.

Filosofis Kamasutra dan Pesan Moral

Kuil-kuil di Khajuraho, suatu desa di India bagian Madhya Pradesh, tersohor dengan pahatan-pahatan patungnya yang bermuatan eksotis. Begitu pula relief di candi Hindu dari abad ke-10, Muktesvara Deula di Orissa, India. Indonesia juga punya, salah satunya Candi Sukuh di Jawa Tengah, juga dari masa Hindu. Seni pahat ini punya alasan tertentu. Filosofinya, alamiah dan lazim bagi seseorang untuk menjalani kehidupan penuh “kama” atau gairah cinta. Tapi dia akan jadi objek yang terkekang bila tak dapat mengendalikan nafsu-nafsunya.

Kebanyakan publik pahamnya salah tentang Kamasutra, hanya menggambarkan secara dangkal nafsu manusia terhadap seks. Nyatanya bila dipahami lebih mendalam, Kamasutra memberikan ilustrasi yang tidak saja indah tapi juga paparan filosofis yang substansial tentang kondisi alamiah manusia. Secara rohaniah, kamasutra dapat diartikan sebagai ajaran-ajaran (sutra) mengenai cinta  (kama). Dalam ajaran agama Hindu, kamasutra dihormati sebagai salah satu dari Veda Smrti. Artinya, di dalamnya memuat kebijaksanaan dari Veda sebagai kitab suci agama Hindu.

Kamasutra secara transedental memberikan pengalaman secara rohani Hindu. Kamasutra dipandang umat Hindu sebagai kitab penting untuk memandu kehidupan etis manusia. Teks ini mendeskripsikan dengan indah proses keintiman sepasang manusia. Mengapa Kamasutra disanjung sebagai pedoman dalam mencapai kebahagiaan? -garis besar keyakinan dari agama Hindu adalah cinta- Hinduisme meyakini bahwa proses keintiman mencitrakan eksistensi manusia yang tinggi.

Bagian filosofis dari kamasutra terletak di bagian pengantar atau bab kedua. Pada bagian ini, Vatsyayana mengutip Veda, yaitu dalam hubungannya dengan “Catur Purusarthas” atau Empat Tujuan Hidup, pandangan hidup umat Hindu tentang  tahapan hidup yang ideal dan seimbang. Catur Purusarthas terdiri dari dharma atau kebaikan, artha atau kesejahteraan material, kama atau cinta dan kepuasan indrawi, dan moksha atau pembebasan diri menuju Tuhan. Vatsyayana menulis: “Dharma lebih baik dari artha, sedangkan artha lebih baik dari kama.” Vatsyayana menekankan bahwa kebaikan dan kebijaksanaan adalah pencapaian tertinggi bila dibandingkan kekayaan dan cinta.

Mengutip apa yang diutarakan Vatsyayana dalam Kamasutra, “Dapat dilihat bahwa mereka yang terlalu menyerahkan diri pada kehidupan seksual yang berlebih-lebih, sesungguhnya mereka memusnahkan diri mereka sendiri”. Dari sini memberikan sebuah diskursif filsafat timur atau lebih detailnya kepada teks kamasutra bahwa gambaran tubuh pada Buku Kamasutra bukan propagasi semata, melainkan gambaran tubuh tersebut menceritakan keindahan tubuh manusia yang diciptakan oleh sang maha kuasa dan tersimpan sebuah kenikmatan intim. Plato, seorang filosof barat pernah berpendapat bahwa seksualitas adalah ilmiah bahkan kewajiban bagi setiap mahluk termasuk manusia, bukan pada penerusan gen atau populasi tetapi keperluan individu setiap manusia.

Kandungan mistimisme seksualitas menurut Foulcaut, yang memang membedah kamasutra yang kemudian hasil bedahannya dibukukan dalam The Desiring Man, “Manusia tidak saja cukup sebagai mahluk rasional, mahluk berhasrat. Hasrat–hasrat tersebut irasionalnya adanya kepuasan seksual misalnya, merupakan sensasi di luar dari komprehensif rasional kita. Pengalaman kenikmatan yang disebabkan oleh persinggungan tubuh begitu transedental sehingga menimbulkan mistimisme kenikmatan intim.”

Perihal tersebut membuahkan penalaran bahwa intim kenikmatan seksualitas ada cakupan tanaman Ilahia. Dalam tubuh manusia terkadung spritualitas yang bukan hanya nafsu syaitan tetapi keagungan tuhan menciptakan kenikmatan di sela–sela  tubuh manusia.

Kandungan Kamasutra di al–Qur’an

Ketakjuban ketika berhubungan intim  mengandung unsur ilahia, sehingga memberikan analogi tentang pandangan Islam yang cedikiawannya terkadang alergi membahas seksualitas. Jika melirik perkataan Gusdur – al-Qur’an itu kitab pornografi – memang ada beberapa ayat al-Qur’an mengandung unsur seksualitas yang tidak hanya pada populasi keislaman tetapi ada sebuah unsur kenikmatan, kepuasan klimaks. Para pakar zaman dahulu memberikan perspektif yang berbeda, seperti kitab seks “al-Raudh al-‘Athir fi Nuzhat al-Khatir” yang ditulis oleh Muhammad an-Nafzawi seorang ulama terkemuka Tunisia abad 16.  Bahkan al-Qur’an sendiri tak luput menjadikan persoalan seks sebagai sorotan. Di dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang baik secara langsung maupun tidak langsung berbicara tentang persoalan seks.

Dengan bahasa halus al-Qur’an mengatakan, “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka”. (QS. Al-Baqarah:187) dan juga dalam QS. Al-Baqarah :223 yang berbunyi, “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman”. 

Kalau dilihat dari sebab turunnya -asbabun nuzul- ayat ini turun lebih disebabkan karena banyaknya anggapan bahwa mendatangi istri atau menyenggamai istri hanya diperbolehkan dari satu arah (satu gaya) saja. Padahal tidaklah demikian. Oleh karena itu penulis lewat bukunya -sebagaimana kitab-kitab seks terdahulu- ingin menyampaikan bahwasanya Islam lewat al-Qur’an memberikan penegasan bahwa hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan suami istri boleh dilakukan dengan berbagai cara variasi dan posisi seperti yang dikehendakinya, asalkan tidak bersenggama atau memasukkan dzakar atau penis ke dubur istri.

Tentang teks kamasutra ini memiliki relasi antara Kitab Kamasutra dan al–Qur’an. Kecenderungan publik memahami teks kamasutra akan mudah menjustifikasi bahwa buku ini sebagai teks pornografi semata tanpa memandang aspek historis, filosofis, apalagi berdasarkan kepada agama. Salah satu yang menyebabkan populernya stigma porno, lebih disebabkan oleh terjemahan yang tak memadai. Para peneliti studi Sansekerta menuding Sir Richard Francis Burton tak menjabarkan teks Kamasutra secara koheren. Kebudayaan populer pun lebih kerap mengeksploitasi bagian-bagian dari kamasutra yang menjelaskan tahap-tahap erotis dari hubungan seksual dibandingkan kebijaksanaan pesan moralnya kamasutra. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Nilai Spiritual dalam Kitab Kamasutra yang Harus Diketahui
Click to comment

Komentar

To Top