Resensi

Cerita Marsose Yang Jatuh Cinta

Fiksi sejarah adalah jenis cerita yang dilematis. Karena sifatnya yang fiksi, ia mesti setia dengan imajinasi. Sementara karena sifat historisnya, ia seolah diharuskan setia dengan fakta. Eksperimentasi fiksi sejarah yang dahsyat, sebut saja Arus Baliknya Pramoedya. Lumayan sedikit sastrawan yang berhasil dengan eksperimentasi sejarah. Remy Sylado adalah salah satu yang berhasil dengan cemerlang. Ia menulis fiksi sejarah tentang Muhibah Ceng Ho dan pelacur mata-mata Mata Hari dengan sangat mengesankan. Novel Malaikat Dari Lereng Tidar ini adalah fiksi sejarah Remy berikutnya. Dengan lebih menekankan sentuhan personal.  

Karya ini memang sebagaimana diungkapkan oleh penulisnya, dimaksudkan untuk merunut kenangan keluarga. Memori ini ia telusuri dari Ambon, Magelang, sampai Aceh. Memang, Remy sendiri mengungkapkan karya ini adalah 101 persen imajinasi, namun tetap saja kita akan banyak menemukan detail cerita di sana-sini sehingga mungkin saja menganggap ini adalah cerita asli. Mungkin gara-gara “misi” menelusuri memori ini, imajinasi Remy tidak seliar biasanya. Belokan (twist) plotnya pun agak datar dan bisa ditebak.

Remy berkisah tentang Jehezkiel Tambayong, kemudian disebut Jez, yang memilih untuk menjadi marsose. Cita-cita sebagai prajurit Belanda melambangkan semacam kebahagiaan dan kebanggan bagi sang tokoh utama. Jez bertemu dengan Tumirah, yang kemudian disebut Mirah, di Magelang. Magelang, sebagaimana diketahui, di masa lampau menjadi pusat pelatihan tentara Belanda.

Latar utama dari novel ini adalah Magelang dan Aceh. Kota Seribu Bunga menjadi awal mula pertemuan dua sejoli sekaligus perjuangan pertama Jez.  Sementara itu, tanah rencong adalah kawah candradimuka di mana Jez mematangkan dirinya sebagai tentara dan manusia.

Ceritanya pada saat itu adalah saat masih bergeloranya Perang Aceh di kawasan Serambi Mekkah. Belanda terus menerus gagal menjajah Aceh karena alot dan bandelnya masyarakat di sana. Masyarakat di sana, diilhami oleh ideologi Perang Suci melawan para kaphe (orang kafir), dari anak-anak sampai tua ikut serta angkat senjata. Selain itu konon ada seorang Perancis, si Francois, yang membantu pengaturan strategi perang gerilya di sana. Francois inilah tujuan dari pengiriman Jez dan kawan-kawan ke Aceh. Gara-gara cerdiknya otak si Francois, Hindia Belanda telah kehilangan banyak sumberdaya.  Sebagian besar novel ini bercerita tentang persiapan Jez untuk bertempur di medan laga di Aceh ini.

Gaya penokohan dalam novel ini terkesan klise, sangat hitam putih. Jez dan Mirah adalah protagonis yang seolah selalu baik dan benar, sementara itu si Soembino adalah antagonis yang selalu berotak busuk. Selain itu, corak kedesaan ditampilkan dengan sangat kental melalui tokoh Mirah beserta keluarganya. Namun, Remy mampu mengatasi klise penulisan itu dengan detail-detail cerita dan deskripsi yang akan menghanyutkan kita pada proses cerita meskipun kita seolah dapat menebak akhir baiknya.

Novel ini agak berbeda dengan novel-novel lain Remy. Penyair cum musikus ini biasanya meletakkan wanita sebagai tokoh utama, tetapi tidak dalam novel ini. Mata Hari, Paris Van Java, Mimi lan Mintuna, Perempuan Bernama Arjuna, Kembang Jepun, dan tentu saja, semuanya bertokoh utama wanita. Tokoh wanita dalam karya-karya Remi digambarkan sebagai makhluk yang kuat, cerdas nan tangkas meskipun seringkali mengalami nasib yang pahit.

Sampul novel, melambangkan malaikat wanita, seolah menjanjikan hal yang sama di novel Remy yang satu ini. Namun,  sang tokoh utama adalah Jez alih-alih Mirah. Bisa jadi karena kehidupan marsose jauh lebih rumit dan menarik daripada Mirah si penjaga warung. Apapun alasannya, gaya bercerita Remy menurut saya agak melemah dengan pemilihan sang tokoh. Kebiasaan Remy untuk “memerankan” wanita tangguh, secara kurang mulus ia pindahkan ke karaktor lelaki Jez dalam novel ini. Mirah tetap tampil dengan karakter wanita yang tegar, namun karakter ketegaran Jez sebagai seorang marsose kurang begitu meyakinkan. Metafor malaikat yang termaktub dalam judul pun tidak begitu tersampaikan melalui karakter Mirah.

Namun, menurut salahsatu kekuatan karya ini adalah pemilihan tokoh tersebut jika dipandang dari sudut lain. Membaca seorang prajurit militer menjadi tokoh utama sebuah novel adalah sesuatu yang jarang. Apalagi seorang marsose yang pandai merangkai kata dan gemar berpuisi romantis. Inilah salahsatu yang membuat saya bertahan sampai rampung membaca karya ini.

Faktor lain yang kian membuat novel ini menarik untuk dibaca adalah sebagaimana karya Remy yang lain adalah kemahiran Remy dalam mengolah kata dan cerita. Remy memang karena kemampuan poliglotnya mampu memberikan warna kosakata yang sangat jarang ditemukan dari penulis lain. Berbagai kosakata, bahasa, dan dialek disatupadukan dengan apik. Cerita yang pada dasarnya sangat sederhana, soal lelaki yang begitu tergila-gila dan berjuang demi wanita yang dicinta pun menjadi sangat berwarna.

Kekuatan Remy ini tentu bukan tanpa sebab. Ia adalah salahsatu sastrawan kita yang gemar dan getol dalam melakukan riset. Buktinya dapat kita lihat di catatan-catatan kaki seringkali muncul. Karena menyangkut sejarah masa lampau, meskipun ini fiksi, Remy merasa memiliki tanggungjawab untuk menjelaskan secara ilmiah sebuah konsep, kejadian, dan tempat dalam posisinya di masa tersebut. Karenanya selain memperkaya pengalaman bathin, novel ini juga menambah perbendaharaan pengetahuan sejarah kita. []

Peresensi; Muhammad Nafi’, Editor lepas

Data Buku :
Judul                : Malaikat Dari Lereng Tidar
Penulis             : Remy Sylado
Cetakan            : Maret, 2014
Penerbit           : Kompas Gramedia

Cerita Marsose Yang Jatuh Cinta
Click to comment

Komentar

To Top