Celomet

Santri Zaman Now

Peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober tahun ini lebih meriah dibanding tahun sebelumnya. Dari mana kita tahu lebih meriah? Dari media sosial. Setidaknya bisa disimpulkan dari foto-foto dan video yang beredar dari berbagai daerah. Ada juga peristiwa kecil yang tidak diinginkan di satu daerah yang justru membuat peringatan hari santri lebih semarak.

Bentuk peringatan hari santri tahun ini biasa-biasa saja: Baris-berbaris dengan kain sarung, paduan suara santri putri, upacara bendera di kantor kementerian agama, dzikir akbar oleh pengurus NU yang dihadiri oleh masyarakat ramai dan para pejabat serta politisi setempat.

Bunyi-bunyiannya juga sama seperti tahun kemarin: Seputar resolusi jihad dan peran kaum santri dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Namun ada yang baru dan sangat menarik dalam peringatan hari santri tahun ini, yaitu munculnya istilah “santri zaman now”, yang secara otomatis berbalikan dengan “santri zaman old”. Menariknya adalah istilah ini bisa jadi alternatif pengganti istilah modern dan tradisional yang seringkali memojokkan kaum santri. Klaim tradisional yang melekat pada diri santri itu sering bernada peyoratif, meskipun maknanya mestinya tidak begitu.

Istilah “santri zaman now” ini sebenarnya hanyalah main-main. Namun di dunia medsos sekarang ini justru yang main-main itu malah menjadi serius, dan yang serius hanya menjadi bahan bercandaan. Santri zaman now adalah santri tidak gagap dengan perkembangan zaman dan siap menyongsong zaman baru yang lebih keren.

Santri zaman now ditandai dengan tersebarnya para santri di banyak sekali bidang dan dunia peran, tidak seragam dan juga tidak monoton. Di zaman now ini, ada santri yang jago main bola, kartunis, komikus, tukang bikin aplikasi ini itu, ahli wireless, youtuber, dan sutradara film. Ada yang ahli di bidang astronomi, nuklir, energi alternatif, ada yang memunculkan banyak penemuan baru mencengangkan yang dipatenkan, ada ahli statistik, pebisnis online dan silakan dirinci sendiri masih banyak lagi bidang keahlian yang mungkin tidak terpikirkan pada tanggal 22 Oktober 1945 silam.

Menariknya lagi, semua santri bisa masuk kategori santri zaman now, termasuk yang berpenampilan biasa-biasa saja atau yang berwajah tradisional. “Zaman now” ini berkaitan dengan karekter dan respon terhadap perkembangan zaman dan kesiapan menyongsong zaman baru.

Karena sifatnya hanya bercandaan, istilah “zaman now” ini juga tidak berarti menyudutkan santri yang masih berada di zaman old. Kadang-kadang santri zaman now juga perlu kembali ke zaman old sambil tersenyum-senyum dan sebaliknya santri zaman old juga bolem masuk ke zaman now, semampunya.

Hari santri adalah janji kampaye capres Jokowi 2014. Menariknya, para pendukung capres Prabowo juga dua tahun ini ikut meramaikan hari santri dan tidak ada masalah dengan itu.

Kata seorang senior santri yang misterius, Gus Iim (setidaknya ini yang diriwayatkan oleh Muhammad Zunus), ketika santri diberi kesempatan sedikit saja untuk melakukan mobilitas sosial, maka dengan sekejap santri akan mudah beradaptasi dan tiba-tiba sudah berada di depan. Mengapa? Karena para santri tidak pernah didoktrin hanya menguasai satu bidang saja dan melupakan bidang kehidupan yang lain. Satu lagi, para santi sudah diajarkan hidup mandiri dan mengatasi tantangannya sendiri. []

Sebelumnya, tulisan ini pernah dimuat di nu.or.id dengan judul yang sama.

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Santri Zaman Now
Click to comment

Komentar

To Top