Catatan Perut

Menjadi Cerdas Sekaligus Imajinatif Bersama Pojok Kampung

Meskipun bertahun-tahun tinggal di Jakarta, saya tak bisa keluar dari teror untuk tidak menonton acara berita yang paling fenomenal yang hanya tayang di TV lokal Jawa Timur: JTV. Acara berita itu bernama “Pojok Kampung”. Saya tidak tahu mengapa diksi yang dipilih untuk menamakan acara berita itu pojok kampung, bukan slempitan deso misalnya.

Peduli setan dengan nama yang dipilih. Yang panting saya sangat terhibur dengan acara berita itu. Bukan semata karena isi beritanya, namun lebih dari itu soal bahasa yang digunakan. Benar saja, bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dialek Surabaya. Orang Jawa Timur menyebutnya boso jowo suroboyoan yang cak cuk cak cuk.

Banyak yang saya catat dari siaran berita itu, namun secara garis besar menurut saya acara tersebut memiliki fungsi hiburan yang luar biasa segar dibandingkan unsur informasi sebagaimana lazimnya berita-berita di tv nasional yang acap membuat kening kita semakin berkerut dan menyebabkan lahirnya salah satu dari tujuh tanda penuaan dini.

Diksi dan satuan lingual yang dipilih untuk mengantarkan sebuah berita, semencekam apapun berita itu–misal soal pembunuhan dan pemerkosaan, di bibir pembawa acara “Pojok Kampung” terasa enteng dan segar, malah lucu dan menghibur. Jika anda jatuh bangun dan merem mendelik babak belur akibat dihajar kerasanya kehidupan, maka saran saya tak perlu piknik ke mana-mana, belajarlah sedikit bahasa jawa, kemudian mulailah hari-harimu dengan rutinan menonton acara “Pojok Kampung”.

Saya pernah mendengar seorang pakar linguistik berkata bahwa tingginya sebuah kebudayaan atau bahkan peradaban itu bisa dilihat dari mula-mula detail dan kreativitas peradaban tersebut memotret sebuah gejala atau fenomena lalu kemudian memaknainya dan setelah itu menamai fenomena tersebut secara spesifik. Malah ada yang bilang bahwa peradaban yang besar itu jika bisa melukisakan sebuah fenomena dengan kreatif dan imajinatif. Imagination more than knowledge kata Eisntein.

Soal perkara yang belakangan disebut ini, bahasa Jawa adalah pionirnya, mungkin bahasa daerah lain di Indoensia juga seperti itu. Ia detail mengartikan sesuatu. Atas fakta kebesaran kebudayaan inilah barangkali yang membuat bangsa-bangsa lain segan dan tak berani menginvasi bangsa kita secara militer. Apa sebabnya? Karena kita punya budaya “tawur” yang itu tak ditemukan dalam kosakata bahasa lain termasuk bahasa yang barbarian samacam Inggris, Arab dan Mandarin sekalipun.

Oleh karena itu pula, barangkali UFO yang konon akan mendarat di Monas menurut informasi Lia Eden jadi bergedik dan mengurungkan niatnya. Selain tentu saja alasan birokrasi yang ruwet di negeri ini.

Baiklah, untuk mengukuhkan bangunan argumentasi saya tersebut agar kukuh secara epistemologi dan tidak dituduh asal ngomong, maka berikut ini saya sampaikan sejumput saja lema yang semoga membuat anda uwuwuwu:

Mbok Dewor
Istilah ini dipakai untuk menerjemahkan kata janda. Wanita yang sudah tidak bersuami. Sebetulnya ada lema lain di dalam bahasa Jawa untuk mengartikan lema janda yakni rondo, namun entah mengapa yang dipilih adalah frasa Mbok Dewor.

Dulur, umahe mbok Dewor ndek daerah Kremil amblas polahe diterjang angil pentil mungser.

Oh iya, angin pentil mungser itu terjemahan dari angin puting beliung. Silahkan, bayangkan pelan-pelan, bagaimana wujud pentil yang mungser itu.

Empal Bewok Pistol Gombyok
Dua frasa untuk dipakai menggambarkan kelamin laki-laki secara fisikal. Bahasa Jawa sebetulnya punya lema lingga dan yoni untuk menyebut falus dan vagina, namun entah mengapa, setan kreatif-imajinatif mana yang merasuki tim kreatif “Pojok Kampung” hingga tercipta frasa urakan yang membuat bibir kita stroke mendadak akibat tak bisa menahan tawa atas lema pistol gombyok dan empal brewok itu.

Untuk kedua frasa tersebut kita bisa berspekulasi dengan mengimajinasikannya. Pistol yang rimbun dan empal atau daging yang penuh dengan semak belukar (brewok). Njaldur tapi segar dan tidak jorok.

Dulur, Sak marine diprikso, dokter njelasno lek Empal Brewok e Bunga mari dileboni karo Pistol Gombyok e wong sing saiki sik diuber-uber mbek Pulisi.

Tendangan Sak Karepe Dewe
Dalam berita sepak bola, tendangan servis yang dihasilkan akibat pelangaran disebut dengan tendangan bebas. Nah, di “Pojok Kampung”, tendangan bebas itu diterjemahkan menjadi tendangan sak karepe dewe.

Dulur, Mancahester United menang siji kosong musuh Liverpool. Gol dicetak Wayne Rooney lewat tendangan sak karepe dewe. Yap, tendangan sak karepe dewe adalah tendangan bebas, tendangan yang berasal dari kehendak diri sendiri, bukan dari wasit apalagi dari penonton.

Lema dan frasa di atas, tidak jorok. Malah sebaliknya segar dan membuat kita rileks. Jika memang anda tersiggung dan marah jika mendengar kata dan frasa seperti di atas maka anda tidak cocok tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Atau bahkan Indonesia. Hengkanglah dari sana. Ke mana? Entahlah, mungkin yang cocok ke Meikarta.

Susu kentel dicampur mbarek kopi, ojo ngaleh chanel empal brewoke mbalek mari iki

Menjadi Cerdas Sekaligus Imajinatif Bersama Pojok Kampung
Click to comment

Komentar

To Top