Celomet

Amien Rais, Sepakbola dan Usaha Menjadi Legenda

Aku sudah lama ingin menulis tentang beliau dan sepak terjang beliau akhir-akhir ini. Terakhir, keinginan yang bulat dan mulai tersebut, gagal terwujud dengan baik saat beliau orasi aksi menolak Perpu Ormas dan keinginannya bertemu Jokowi. Tentu bukan kesalahan beliau kalau aku tak bisa menulis sebelumnya. Semua terjadi karena waktuku sibuk dan padat merayap sebagai pengangguran.

Amien Rais. Nama tersebut adalah legenda reformasi negeri ini, Indonesia. Meski yang turun dijalan-jalan, berkumpul di gedung DPR adalah mahasiswa, beliau adalah inisiator Gerakan 98. Gosipnya, dia adalah orang pertama kali yang menggunakan kata reformasi, bukan revolusi, evolusi atau lain kata si, si yang lain. Akurasi kebenarannya, maaf, aku tak benar-benar tahu dan paham.

Menyebut Amien Rais layaknya kita akan mengingat Gus Dur, Megawati dan beberapa tokoh reformasi di luar Orde Baru yang akhirnya masuk lingkaran kekuasaan eksektuif pasca reformasi. Gus Dur menjadi Presiden, Megawati menjadi Wakil Presiden.  Amin Rais pernah mendapatkan jabatan prestius saat itu, Ketua MPR RI. Meski lembaga MPR saat ini bukan lembaga tertinggi negara, dahulu, saat dia menjadi ketua, berhasil menaikkan Gus Dur dan melengserkannya juga. Sama halnya dengan Megawati. Dia melantik Megawati yang menggantikan Gus Dur dan melanjutkannya sampai periodenya selesai.

Menyebut Amien Rais, Semua orang mengenal sangat baik dalam pemahaman maupun kenangan. Menjadi Ketua Umum Muhammadiyah, akademisi kampus di Yogyakarta, tokoh masyarakat dan tokoh reformasi 1999, Pendiri sekaligus deklarator Partai Amanat Nasional, dan sampai sekarang sebagai sesepuh partai tersebut adalah alasan-alasan yang tak perlu dirinci dan didetailkan untuk  menetapkan Amien Rais sebagai legenda hidup bangsa dan negara Indonesia. Amin Rais adalah legenda yang layak untuk diperhatikan.

Tapi begini. Nasib Amin Rais dalam peta kekuasaan eksekutif memang tak sebaik sesama tokoh reformasi. Gus Dur menjadi presiden, Megawati menjadi presiden pula, dan Amin Rais baru menjadi kandidat untuk mengikuti jejak kedua tokoh di atas.

Melihat perjuangan Amin Rais, mengingatkan aku pada atlet sepakbola seperti Ronaldo De Lima El Phenomena dari Brasil, Michael Ballack dari Jerman, Atau Ibrahimovic Abra Kadabra dari Swedia yang gagal menikmati Piala Liga Champion UEFA. Nama terakhir (Red: Ibrahimovic Abra Kadabra) belum pensiuan dan masih cidera. Terakhir, dia menjadi pemain MU “Setan Merah”. Atau Stevend Gerrad yang mendedikasikan pemainannya untuk The Reds Liverpool, yang tak pernah menikmati juara Liga Inggris meski mampu menikmati juara liga Champion.

Atlet-atlet legenda sepakbola itupun telah berusaha, berjuang dan berdedikasi untuk meraih cita-citanya, mendapatkan Piala Liga, kejuaran atau turnamen sekalipun. Tapi apadaya, usaha adalah perjuangan, harapan yang menjaganya tapi umur tetap batas nyata. Mereka bertahan, menyerah lalu memahami jika semua tak dipaksakan. Mereka pensiun dan menjelaskan pada kemampuan masing-masing.

Hal yang sama telah dilakukan oleh Amien Rais. Mendirikan partai, menjadi calon presiden, menjadi sesepuh partai, dengan latar belakang yang handal dan bisa dipertanggungjawabkan, dia belum mampu membayar lunas rasa penasarannya. Hingga kemudian dia menghilang, dan sibuk dengan kesibukannya sehingga banyak orang yang menganggapnya telah pensiuan dari dunia politik. Menerima takdir menjadi legenda tanpa piala, lalu menjadi guru bangsa yang selalu siap memberi petuah-petuah pada anak muda. Usaha  untuk merawat semangat reformasi dengan usaha.

Jadi, jika akhirnya akhir-akhir ini Amien Rais sering muncul di media dengan segala hiruk pikuknya, tak ada yang salah. Sah-sah saja. Bisa jadi dulu, beliau tidak pensiun dari dunia politik tapi cuti. Berhenti sejenak. Semacam refleksi dan kontemplasi untuk mendapatkan sesuatu yang baru untuk kembali ke medan laga.

Tapi kadang gelanggang yang tersediapun suka lucu dan menipu. Di tengah usaha-usaha yang tak kunjung berhasil, kadang tiba-tiba lahir dan berkembang dengan cepat pemain layaknya Xavi, Messi, atau Ronaldo yang tiba-tiba bisa mendapat piala dan mengoleksi sebagai kejayaan yang tak pernah dimiliki legenda.

Begitu juga dengan politik. Apa yang terjadi dan berkembang saat ini, membuat kita sering ketinggalan kereta. Dan tak sedikit pemain yang mencari metode dan cara demi sebuah usaha piala demi menghindari Legenda tanpa piala. Bisa berganti klub seperti Thierry Henry dari Arsenal ke Barcelona, Tetap satu klub seperti Paolo Maldini dan Francisco Totti, atau seperti Clerence Seedorf yang menjadi pengoleksi Piala Liga Champion dengan klub paling banyak. Semua sah dan boleh-boleh saja. Yang melarang, justru itu melanggar aturan.

Akhirnya, kita harus jujur. Tak semua legenda kehidupan mendapatkan piala. Sekeras dan sekuat apapun usaha. Dalam kehidupan apapun. Politik, ekonomi, olahraga atau apapun, bahkan para juara pejuang keadilan justru tersandung, terinjak dan lalu mati oleh keadaan yang tak siap menerima usaha-usaha yang tak mengenal putus asa. Tapi juga tak salah, Jika Amien Rais tak menyerah dan berjuang dengan semangat tiada tara untuk mendapatkan piala yang dulu pernah didapatkan oleh Gus Dur, Megawati dan lain sebagainya. Layaknya pejuang, siapapun  ingin menjadi pahlawan. Mungkin, ini yang paling mungkin dan realitasnya memang begitu, meskipun caranya yang berbeda.

Ini terakhir dan sangat paling akhir, apapun yang dilakukan oleh Legenda Reformasi tersebut adalah usaha dan perjuangan yang pasti memiliki tujuan. Kita lihat saja, apakah tujuan tersebut tercapai dan memperkirakan apa tujuan tersebut. Selamat berdoa

Allah Maha Tahu. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Amien Rais, Sepakbola dan Usaha Menjadi Legenda
Click to comment

Komentar

To Top