Resensi

Islam Indonesia, Islam Paripurna

“Sebaliknya, Islam Indonesia, Islam dan budaya lokal berada dalam posisi saling memberi dan menerima, yang tetap berpijak dari nilai-nilai Islam, sehingga menghasilkan bentuk Islam yang berkarakter Indonesia. (Hal. 386)

Selama ini, Islam orang Indonesia dianggap tidak paripurna atau kaffah lantaran masyarakat muslimnya mengamalkan bid’ahkhurafat, dan tahayul serta tidak menjalankan syariat Islam secara menyeluruh. Selain itu, Islam Indonesia juga dinilai sebagai Islam pinggiran, periperal, dan tidak murni atau otentik lagi karena agama dan budaya begitu melekat.

Lalu, yang menjadi soal adalah Islam yang kaffah atau paripurna atau rahmatan lil ‘alamin itu yang seperti apa? Semua pasti menjawab bahwa Islam kaffah atau rahmatan lil ‘alamin adalah Islam sebagaimana yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad dahulu kala. Lalu, timbul pertanyaan lanjutan; Islam yang dipraktikkan Nabi Muhammad itu yang seperti apa? Dari sini, umat Islam terbelah menjadi dua kelompok: tekstualis dan substansialis. 

Kelompok tekstualis menilai bahwa Islam  kaffah atau paripurna atau rahmatan lil ‘alamin adalah Islam yang hanya merujuk kepada al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman yang leterlek. Sedang, kelompok substansialis menilai bahwa Islam kaffah atau paripurna atau rahmatan lil ‘alamin adalah Islam yang merujuk bukan hanya pada al-Qur’an dan Hadits an sich, namun juga ijma’ ulama, qiyas, dan lain sebagainya. Pemahaman kelompok kedua ini terhadap al-Qur’an dan Hadits pun bersifat kontekstual, dilihat dari asbabun nuzul dan asbabul wurud teks tersebut.

Buku Islam Indonesia Islam Paripurna: Pergulatan Islam Pribumi dan Islam Transnasional ini merupakan tanggapan terhadap gugatan kebenaran dan kelengkapan pengamalan Islam di Indonesia. Gugatan ini muncul sejak medio tahun delapan puluhan dan terus berkembang hingga saat ini.

Kelompok-kelompok Islam yang mempertanyakan ‘keabsahan’ –bahkan menganggap tidak sah- Islam Indonesia tersebut berasal dari luar. Maka dikenal lah dengan sebutan gerakan Islam transnasional seperti Salafi-Wahabi, Hizbut Tahrir, Gerakan Tarbiyah, dan lain sebagainya. Sedangkan, Islam yang berkembang di Indonesia dan sudah ‘bercampur’ dengan budaya setempat dengan segala keunikannya dikenal dengan Islam Indonesia atau Islam Nusantara. Masing-masing memiliki tipologi dan karakteristik yang berbeda-beda sebagaimana yang diungkapkan oleh buku ini.

Pada bagian awal hingga tengah, buku ini berusaha untuk mengupas bagaimana ideologi, pandangan keagamaan, sosial, politik, dan strategi penyebaran kelompok-kelompok gerakan Islam transnasional. Pun bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan dan keagamaan masyarakat Indonesia.

Sedangkan, bagian tengah hingga akhir membahas tentang Islam pribumi, Islam Indonesia yang dalam hal ini ‘diwakili’ oleh Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam yang jumlah pengikutnya terbesar di Indonesia.  Di sini, dipaparkan bagaimana pandangan-pandangan NU dalam konteks sosial, politik, ekonomi, dan budaya masyarakat serta keagamaan, kenegaraan, kebangsaan, dan keindonesiaan. Pada bagian ini juga diterangkan bagaimana sikap NU terhadap gerakan Islam transnasional.

Setiap pembahasan diulas secara komprehensif dan kaya akan referensi. Misalnya dalam bab Manifesto Gerakan Islam Transnasional. Pada bagian ini, gerakan-gerakan Islam transnasional diulas satu persatu secara singkat namun komprehensif: mulai dari tujuan, semangat yang diusung, keterlibatan dalam politik serta visi sosial dan politik. Siapa saja yang ingin mengetahui sepak terjang gerakan-gerakan Islam transnasional dan pandangan-pandangan NU dalam berbagai hal –terutama kebangsaan dan keindonesian- secara ringkas dan menyeluruh, buku ini bisa menjadi jawabannnya.

Singkatnya, buku ini ingin menegaskan bahwa Islam Indonesia adalah juga Islam yang kaffah atau paripurna untuk bangsa Indonesia. Tidak kalah sahnya dengan kelompok yang mengusung Islam kaffah. Sedangkan, Islam kaffah yang didengungkan oleh kelompok Islam transnasional adalah Islam yang juga berdasar kepada budaya. Yakni budaya lokal di negara-negara Timur Tengah seperti Salafi-Wahabi (Arab Saudi), Hizbut Tahrir (Palestina), Gerakan Tarbiyah (Mesir), dan lainnya. []

Resensi ini pernah dimuat NU Online dengan judul yang sama

Peresensi; Ahmad Muchlison Rochmat

Data Buku :
Judul                : Islam Indonesia, Islam Paripurna
Penulis             : DR. M. Imdadun Rahmat
Cetakan            : Pertama, 2017
Penerbit           : Omah Aksoro Indonesia

Islam Indonesia, Islam Paripurna
Click to comment

Komentar

To Top