Celomet

Meme; Melihat Tragedi dengan Humor

Beberapa tahun terakhir ini, rasa-rasanya ada yang berubah di pikiran dan sikap masyarakat dalam memandang dunia politik di Indonesia, terutama yang selalu berselancar di dunia maya. Hal itu terjadi ketika meme tentang politik menjadi boom di media sosial. Orang yang sedari dulu sudah menjadi pengamat politik, kini kian bersemangat berkomentar. Orang yang tidak mengamati kondisi perpolitikan di Indonesia, bahkan membencinya, sekarang banyak yang mulai berangsur-angsur menerimanya. Selain penyampaian informasi dalam bentuk visual atau gambar yang menarik, meme-meme tentang politik kerap dibumbui humor, sehingga dapat diterima oleh masyarakat.

Pasca pilpres 2014 kemarin, buzzer-buzzer politik mulai memenuhi pos-pos strategis di dunia maya, terutama di media sosial. Pertarungan cyber berdampak pada meningkatnya kejenuhan masyarakat terhadap politik di Indonesia. Walaupun ketika mendekati pengumuman hasil perhitungan suara, mereka semua kembali antusias dan membuang rasa jenuh itu jauh-jauh.

Pilgub DKI pun tak kalah seru untuk diamati. Menariknya, semakin banyaknya meme satire bahkan bisa dibilang mem-bully habis-habisan tokoh lawan politiknya. Netizen lebih menerima konten yang berisi humor atau satire daripada konten yang berisikan tentang SARA serta makian. Di era kecanggihan teknologi di mana penggunanya masih bisa meminta wifi gratis ini, meme-meme tersebar dengan cepat, sehingga tak jarang isu yang diangkat menjadi trending topic, atau viral. Antusias masyarakat dalam menggunakan peranannya di dunia politik semakin meningkat.

Meme tentang politik tidak hanya digunakan buzzer salah satu kubu untuk melawan kubu lainnya, tetapi banyak juga dari masyarakat yang membuat meme dengan berisi kritikan untuk pemerintah. Walaupun hanya berbentuk gambar dengan desain seadanya, namun meme tidak bisa dianggap remeh.

Bagi masyarakat yang kesehariannya masih membutuhkan humor, meme adalah senjata yang paling berbahaya. Dulu, belum ada teknologi secanggih seperti sekarang. Senjata paling ampuh untuk melawan ya dengan pena, dengan menulis di media cetak, melalui pembacaan puisi, dan pementasan seni budaya.

Di era orde baru misalnya, banyak para penulis yang dipenjara dan diasingkan, bahkan tak jarang setiap sastrawan dan seniman dicekal di setiap pementasan karyanya. Kalau tidak percaya, silahkan ajukan pertanyaan ke Mbah Pram, Tan Malaka, dan banyak tokoh yang menyuarakan gagasannya lewat tulisan. Tulisannya lugas, tegas dan di mata pemerintah pada waktu itu memang membahayakan.

Walakin, sebenarnya ada senjata paling ampuh dan susah untuk dilawan, yaitu humor. Bagi yang tidak merasa tersinggung, ia bisa tertawa dengan puas. Tetapi bagi yang merasa tersinggung, ia hanya bisa marah-marah dengan sesuatu yang lucu dan itu kurang berguna. Ingin membalas dengan humor, tetapi humor tidak bisa muncul dari hati yang sedang marah dan pikiran yang sedang gelap. Kalau tidak percaya, tanya saja dengan Mahbub Djunaidi.

Tulisan-tulisan beliau satire, dan mengajak pembaca masuk dalam sebuah cerita dan dapat merasakan penggambaran suasana dengan jelas. Humor adalah senjata paling ampuh untuk melawan bukan berarti tidak bisa dipenjarakan lho ya. Kalau masih tidak percaya, silahkan ngangsu kawruh dan nguda rasa bersama Emha Ainun Nadjib. Beliau masih keliling Indonesia menemani masyarakat dengan pengajian dan humor-humornya.

Tulisan-tulisan beliau juga tidak kalah satire dari Mahbub Djunaidi. Emha mampu menggunakan sudut pandang dan inti cerita yang susah untuk diprediksi. Selain itu, masih banyak tokoh-tokoh lain yang menggunakan humor atau satire untuk mengkritik seperti, Goenawan Muhammad, Arswendo, Jacob Soemarjo dan lain-lain.

Kalau dulu, sebuah tulisan kritik kepada pemerintah menjadi senjata yang paling berbahaya, zaman sekarang sepertinya pemerintah atau pihak-pihak tertentu menyadari bahwa meme lebih berbahaya. Belum lama ini, Setya Novanto melaporkan beberapa akun media sosial yang membuat meme tenang dirinya dengan alasan pencemaran nama baik. Sama halnya dengan era orde baru, segala macam bentuk perlawanan akan masuk penjara atau dicekal.

Namun, situasi saat ini membuat respon masyarakat berbeda dengan zaman orde baru yang penuh dengan rasa was-was dan ketakutan. Setelah peristiwa Setya Novanto tersebut, netizen bukannya takut dan kapok membuat meme-meme nyinyir, tetapi malah semakin membabi buta. Bahkan hampir setiap hari, bullying terhadap tokoh yang dianggap nyeleneh di setiap aktivitasnya. Selain Setya Novanto, ada lagi pejabat baru yang sejak awal kampanye sudah menjadi bulan-bulanan netizen di media sosial. Sampai hari ini pun, meme tentang bapak satu ini menjadi konsumsi hangat netizen.

Hanya di Indonesia kita bisa menemukan kelucuan di mana-mana. Serius! Di gorong-gorong pun kita bisa menemukan kepala daerah, di meja dewan sedari dulu selalu serius untuk merumuskan ide-ide humor terbaru, bahkan ormas sekelas NU pun membuat ormas-ormas lain tidak ingin kalah dan berinisiatif membuat Muhammadiyah garis lucu, MTA garis humor, Wahabi garis kocak, walaupun sebenarnya yang lucu itu Gus Dur, bukan NU.

Mengalahkan lawan dengan menggunakan humor itu elegan, tidak menguras energi, tetapi lawan merasakan sakit hati yang luar biasa. Tidak bersusah payah mengangkat senjata atau belajar jurnalistik bertahun-tahun, hanya bermodal wajah polos dan sepeda saja sudah cukup. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Meme; Melihat Tragedi dengan Humor
Click to comment

Komentar

To Top