Cerpen

Secangkir Kopi dari Ibu

Tadi pagi ada seorang tukang Pos yang mengetuk pintu dengan kelihatan tergesa-gesa. Segera mungkin aku bergegas untuk membukakan pintu tersebut. Dan kemudian bertanya, “ada yang bisa saya bantu, Pak?”. Ia kemudian berganti bertanya, “apakah benar, ini kontrakan Tuan Joko?”. Aku agak merasa heran, dengan raut muka yang disampaikan tukang pos tersebut. Pembawannya yang mudah membuat lawan bicaranya menjadi curiga. Rasanya, ia ingin dengan cepat untuk memberikan kiriman yang dibawanya, kemudian beranjak pergi ke tempat lain. Maklum, waktu kerjanya pun tidak seperti biasanya. Waktu yang baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, bagiku itu bukan waktu yang lazim untuk seorang petugas pos dalam memulai pekerjaannya.

“Benar! Dengan saya sendiri, Pak?” jawabku.

“Ini sampeyan dapat kiriman sesuatu dari seseorang, Tuan!”

Kecurigaanku semakin tumbuh dan berkembang, apalagi setelah tukang pos tersebut menyodorkan kiriman yang terbungkus rapi dalam sebuah amplop yang berukuran cukup besar. Tidak seperti biasanya, aku mendapatkan kiriman tanpa ada pemberitahuan sebelumnya dari seseorang pengirimnya. Seingatku ini baru terjadi untuk pertama kalinya selama hidup di dunia ini. Semakin bertambah heran dan curiga saja. Pikiranku tidak karuan. Berlarian kemana-mana.

Aku belum mengulurkan tangan untuk menerima kiriman tersebut. Tiba-tiba pikiranku berjalan dan menyusuri terhadap percakapan kepada siapa saja dalam waktu dua sampai tiga hari terakhir ini. Oh, aku teringat ketika dua hari yang lalu, aku mengirimkan satu pesan singkat melalui telepon genggam kepada ibuku yang ada di rumah. Pertama, menanyakan kabar ia dan kedua adalah memberikan kabar akan kesehatan serta seraya meminta uang untuk biaya kehidupan di tanah rantau ini.

“Apa kiriman itu dari ibu saya, Bapak Pos?”  mulutku tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu.

“Saya tidak paham akan asal-usul pengirim barang itu, Tuan. Saya hanya melaksanakan tugas sesuai dengan mandat saja”

“Apakah tidak ada keterangan dalam apmlop tersebut, Pak?”

“Sama sekali tidak, Tuan. Saya juga sempat merasakan kejanggalan akan amplop yang ditujukan kepada anda tersebut. Perlu Tuan ketahui, sebenarnya amplop tersebut telah sejak lama berada di kantor pos pusat. Namun, banyak petugas yang mengesampingkan amplop tersebut. Bahkan, tak sedikit dari para petugas yang enggan untuk mengantarkan ke alamat yang sesuai tujuan. Hingga pada akhirnya, saya memberanikan diri untuk mengantarkan amplop tersebut kepada alamat tujuan yang tertera hingga saat ini.”

Amplop tersebut memang telah lama sekali mengendap di dalam gudang pusat kantor Pos. Kondisinya seakan-akan sudah mau lapuk. Perlakuannya kurang adil. Bahkan, di cerita lain, tukang Pos tersebut menyebutkan, bahwasannya kalau tidak salah, amplop tersebut harusnya telah dikirim pada waktu sepuluh tahun yang lalu. Pada beberapa waktu, saat masih berada  di gudang, amplop tersebut memancarkan semburat cahaya yang berwarna keemas-emasan. Pada waktu lain, ia bisa berubah menjadi secangkir kopi dengan sajian kopi terbaik yang terdiri dari komposisi kopi ditambah gula yang sangat begitu pas. Seakan memberikan gambaran manis dan pahitnya sebuah kehidupan.

Tidak sampai di situ saja, tukang Pos tersebut terus menceritakan apa yang ia ketahui akan amplop tersebut. Rupanya, ia adalah petugas ke sembilan yang mengantarkan amplop tersebut. Delapan tukang Pos sebelumnya yang mencoba untuk mengantarkan, semuanya berujung pada kegagalan. Ada yang berhenti di tengah jalan karena sepeda motor yang digunakan untuk mengantarkannya rusak, kemudian mengurungkan niat mulia itu. Ada yang sudah tidak betah lagi karena petugas tersebut merasakan perjalanan yang sangat begitu panjang dan kembali ke kantor untuk mengembalikan lagi kiriman itu. Ada juga petugas yang dalam perjalanan mengantarkan amplop tersebut kehabisan bekal, hingga akhirnya harus menanggung resiko menemui ajal di tengah menjalankan tugasnya. Bahkan ada petugas yang mati di tengah jalan karena depresi kemudian bunuh diri di saat perjalanan mengantarkan amplop tersebut.

“Saya orang kesembilan yang mencoba untuk mengantarkan amplop tersebut, Tuan. Betapa syukurnya saya, pagi ini saya sampai pada alamat tujuan sesuai yang tertera pada amplop. Dalam perjalanan, saya juga sempat kewalahan. Kurang lebih, dalam mengantarkan amplop tersebut, terhitung sampai hari ini genap selama tiga puluh hari. Di tengah perjalanan, saya sempat berputus asa. Tak jauh dari tempat istirahat, kulihat ada tumpukan sampah yang menggunung. Pernah ada keinginan juga, untuk membuang amlop tersebut. Namun, apalah arti sebuah kepercayaan, ketika saya tak menuntaskan tugas dengan baik? Apalah arti hidup, ketika saya hanya memilih untuk berputus asa? Apalah arti hidup, kalau saya tidak memilih untuk terus berjuang?“

Setelah mendengar pemaparan dari petugas Pos tersebut, segera kuterima kiriman yang dibungkus rapi dalam amplop tersebut. Kulihat sepintas, ia sangat begitu kelelahan. Lantas, kemudian kuajak masuk ke kontrakanku yang berkondisi ala kadarnya itu. Kutuangkan air dari cerek kepada sebuah gelas plastik yang ada di ruang dapur. Kemudian, kusajikan kepadanya dengan sedikit rasa sungkan maupun pekewuh. Tak lain dan tak bukan, karena aku hanya bisa memberikannya segelas air putih, bukan jenis minuman lain seperti kopi yang mungkin bisa akan lebih mencairkan suasana.

“Pak Pos, silakan untuk minum terlebih dahulu. Segelas air putih ini semoga menjadikan rasa lega dalam diri akan segera kembali!”

“Terima kasih, Tuan.”

“Apakah masih ada banyak kiriman yang harus anda antarkan lagi, Pak?”

“Di kantor masih sangat begitu banyak, Tuan. Tapi saya tidak tahu setelah ini harus berbuat apa. Selama kurang lebih lima tahun empat bulan, sekalipun saya belum pernah bertemu dengan keluarga saya di kampung halaman. Di kota ini, saya hanya disibukkan dengan urusan pekerjaan. Hidup saya serasa hanya berisi kumpulan deadline yang harus ditepati waktunya. Saya sulit dalam menikmati hidup. Hidup pada akhirnya yang saya dapat adalah kumpulan kemacetan, jutaan transportasi, himpunan permasalahan bangsa, kemewahan duniawi, orang-orang yang saling merasa benar, ujaran kebencian, tumpukan perkara kemanusiaan, pertengkaran dan berbagai tetek bengek lainnya yang tak ayal melahirkan hal yang memuakkan.”

Di saat jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan, tukang Pos tersebut beranjak dari kontrakanku. Dengan perasaan yang cukup menyedikan, aku merasa dari cerita ke cerita yang disampaikannya, keluarga adalah segala dari apa yang membentuk hidup kita, memberikan pelajaran bagi kita, dan sumber motivasi dalam menjalani hidup. Oh, seketika aku merasakan sebuah kerinduan pada keluarga, kampung halaman, kerinduan pada ibu, kerinduan pada ayah, kerinduan pada sawah-sawah, kicauan burung, kebun-kebun, sungai-sungai yang airnya masih sangat jernih, hutan belantara yang terhampar luas di sana.

Dan betapa bahagianya diriku, beberapa waktu setelah itu, amplop yang telah kuterima dari tukang Pos tersebut kemudian kubuka dengan perlahan. Ada secangkir kopi yang masih sangat begitu panas. Di dinding luar cangkir itu, bahkan tertera sebuah pesan yang cukup mengejutkan,

Sempatkanlah minum kopi dalam menjalankan hidup itu, biar kita tahu pahit dan manisnya yang ada di dalam kehidupan”. Yang lebih mengejutkan lagi adalah di penutup pesan tersebut, tertera sebuah nama yang tak asing bagiku. Nama itu adalah Martiah, persis dengan nama dari orang yang melahirkanku di dunia ini.

Seketika, kedua mataku dengan begitu derasnya meneteskan buliran-buliran air mata. Rasa rindu justru semakin mendominasi pada diri ini. Aku menjadi sangat begitu yakin jikalau pengirim amplop tersebut adalah ibu. Terjawab sudah, pertanyaan demi pertanyaan yang aku sampaikan kepada tukang Pos tadi terkait siapa yang mengirimkan amplop yang tertuju kepada alamatku ini. Aku yakin, ibu sangat begitu ikhlas dan tulus dalam membuatkan secangkir kopi tersebut. Kopi itu keadaannya masih begitu panas. Kuletakkan pada sebuah meja. Kuambil beberapa potongan roti sisa dari pemberian Maria kemarin. Kemudian kunikmati seruput demi seruput kopi tersebut, sembari mengimajinasikan ibu menemani minum kopi di samping tempat dudukku. Begitu pas rasa yang hadir dari kopi itu. []

Solo, 26 November 2017

Secangkir Kopi dari Ibu
Click to comment

Komentar

To Top