Catatan Perut

Dua Kalimat Mujarab Membubarkan Pengajian

Mula-mula saya harus berterus terang dulu bahwa saya tidak sedikitpun memiliki minat untuk berbaku argumen dan berdebat soal bab pembubaran pengajian. Simpel saja, perkara bubar membubarkan sebetulnya perkara yang biasa dan lumrah saja bagi saya. Tapi namanya juga manusia, persis seperti kata Pram, fenomenanya bisa-biasa saja tapi tafsirnya yang haibat-haibat dan warbiyasah. Perdebatannya juga meruah dan meriahnya luar biasa. Dari mana dan di mana perdebatan itu? tentu saja sumber dan arena perdebatan itu dari ‘grup sebelah’.

Kalau mau jujur perkara bubar membubarkan ini harusnya kita fasih dan hafal betul, sefasih kita menyanyikan lagu Jaran Goyang Nella Kharisma dan Sayang-nya Via Vallen. Namun, nyatanya kita memang benar-benar bukan bangsa pembelajar yang baik. Benar kata orang, barangkali satu-satunya penyakit akut kita adalah lupa. Lupa diri, lupa identitas, lupa sejarah, juga lupa tentang lupa itu sendiri. Persis kata Joko Pinurbo, di bangsa kita ini sejarah terkunci, kuncinya terbuat dari lupa. Maka wajar saja, jangankan untuk kejadian bertahun-tahun yang lalu—era demokrasi terpimpin, orde baru, atau soal reformasi—lha wong soal berapa kali kita kentut kemarin hari saja kita lupa, kok.

Ada banyak saran dan rekomendasi yang konon kreatif guna membubarkan pengajian: pakai kampanye menanam pohon, kampanye HIV AIDS, dan juga meneruskan logika nomor togel semacam 212, misalnya. Pembubaran pengajian dengan model yang telah disebutkan tersebut dalam hemat saya itu masih terlampau biasa dan masuk kategori “masalahnya itu-itu saja, penyelesaiannya begitu-begitu saja, namun mengharapkan hasil yang berbeda”. Kategori yang saya sebutkan belakangan ini adalah ketagori definitif dari sebuah kedunguan yang dibuat oleh Einstein dan diterjemahkan secara ciamik oleh AS Laksana.

Saran dan rekomendasi tersebut dugaan saya datang dari mereka yang tidak pernah merasakan pendidikan pesantren. Maksud saya barangkali kawan yang satu ini tidak pernah nyantri atau mondok. Kalau misalnya pernah nyantri pasti kawan yang satu ini paham betul bahwa untuk membubarkan forum apapun, besar maupun kecil, kubro atau sughro, termasuk pengajian, istigasah, manakib, tahlil, dan salawatan, kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang aneh, picik, propagandis, apalagi kasar dan keras. Di pesantren membubarkan pengajian cukup dengan dua kalimat. Apa dua kalimat itu?

Pertama, wallahu a’lam bis showab. Kalimat ini jamak digunakan pada sebuah forum pengajian dengan skala kecil. Biasanya digunakan pada forum ngaji kitab dengan jenis pengajian blandongan—yakni seorang kiai membacakan kitab dan santri menyimak dan memberi makna pada kitabnya–. Jika Pak Kiai sudah mengucapkan wallahu a’lam bis showab maka tanpa perlu aba-aba, sekonyong-konyong pengajian itu akan bubar.

Kedua, Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad. Kalimat ini lazim digunakan untuk pengajian-pengajian yang berskala besar dengan jamaah ratusan, bahkan ribuan atau puluhan ribu. Istilah yang ngetren disebut dengan pengajian atau tablig akbar. Istilah yang terakhir ini sebetulnya saya sangat tidak sepakat. Sebab selain secara gramatikal salah, mestinya tablig kubro, bukan tabligh akbar, saya masih terniang-niang pertanyaan seorang kawan yang sampai saat ini belum bisa lunas saya jawab. Begini pertanyaannya “Tablig akbar itu artinya pengajian besar, Allahu Akbar artinya Allah maha besar. Lalu pernyataannya tablig akbar itu segede apa? Kok istilahnya sama dengan sifat Tuhan.”

Untuk jenis-jenis pengajian berskala besar semacam itu, sekali lagi kita tidak perlu kekerasan atau gerakan-gerakan propagandis seperti menanam pohon dan lain sebagainya, yang kita butuhkan hanya kalimat “Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad”. Jamaah langsung bubar. Habis perkara.

Makanya ketika Banser dituduh membubarkan, saya agak kaget dan heran, sebab saya yakin betul cara membubarkan Banser bukan seperti itu. Tugas Banser itu menjaga, bukan membubarkan. Tugas membubarkan itu tugasanya mubalig, kiai atau panitia. Kalau pengajiannya sudah selesai ya dibubarkan. Begitu saja kok sulit sekali nalar kita memahami. Apa akibat terlalu banyak mengkonsumsi micin?

Saya ingat betul, seorang kawan, santri baru, di pesantren dulu awal-awal mengikuti pengajian bertanya: artinya wallahu a’lam bis showab itu apa sih? Saya jawab wallahu a’lam bis showab itu artinya “bubar, bubar, bubar.” []

Dua Kalimat Mujarab Membubarkan Pengajian
Click to comment

Komentar

To Top