Resensi

Mengagungkan Nabi Muhammad dengan Perayaan Maulid

Sejak tanggal 20 November ini kita sudah memasuki salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam agama Islam, bulan yang ditunggu-tunggu oleh mereka yang mencintai sang pembawa risalah Islam dan pemberi syafaat kepada seluruh umat. Bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dunia muslim menyebutnya Maulid, Maulud, Milad, Mevlut dan sebutan lainnya.

Nabi terakhir tersebut lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal H. atau 20 April 571 M. Sejarah mencatat bahwa kelahiran beliau berbarengan dengan rencana Abrahah, pengikut Nasrani (Kristen) fanatik yang menjadi gubernur Yaman, keturuan Abyssinia, Etiopia. Beserta pasukan gajahnya, ia melakukan agresi militer besar-besaran ke Mekkah dengan tujuan memindahkan Ka’bah ke negaranya, akan tetapi pasukan tentara berkendara gajah tersebut berhasil dicegah oleh burung-burung yang membawa batu yang berasal dari tanah yang terbakar (batu-batu neraka), agresi militer pun akhirnya gagal total. Berdasarkan peristiwa ini, orang-orang lalu mengenang kelahiran nabi sebagai ‘Amu al-Fil (Tahun Gajah). (halaman 17).

Ada beberapa keistimewaan yang terjadi sebelum, sesudah, dan saat prosesi kelahiran itu. Diceritakan bahwa sang ibunda, Aminah berkata, “Dalam suatu malam serombongan burung masuk ke rumahku, sangat banyak, sehingga seluruh ruangan rumahku terpenuhi olehnya. Burung tersebut berparuh zamrud dan bersayap merah delima.” Cerita lain datang dari seseorang yang menyaksikan dan membantu prosesi kelahiran tersebut (bidan), al-Syifa. Ia berkata, “Ketika itu, aku mendengar suara dari alam lain yang mengatakan ‘Tuhan memberi berkah kepadamu,’ dan ketika itu pula suasana di arah timur dan barat sangat terang benderang sehingga aku dapat menyaksikan beberapa istana Damaskus melalui cahaya tersebut.” (halaman 16).

Sesaat setelah Nabi Muhammad lahir, Ka’bah seakan-akan bersujud; pepohonan yang sebelumnya kering seakan tersenyum melalui dedaunan nan hijau, bunga yang mekar, serta buah yang lebat dan segar. Patung yang dianggap tuhan oleh orang kafir roboh; api yang juga disembah oleh orang majuzi padam; hewan pun kegirangan, ia tiba-tiba sehat dan kuat. Kelahiran beliau merupakan anugerah tak terhingga untuk alam semesta. Ia disambut dengan sukacita, bukan hanya oleh ciptaan Allah yang ada di bumi, melainkan juga makhluk di langit.

Ibnu al-Jauzi (ulama pengikut Ahmad bin Hanbal) menggambarkan peristiwa yang agung itu dengan sebuah ungkapan indah: “Ketika Muhammad lahir, Malaikat di langit menyiarkan beritanya dengan suara riuh rendah. Jibril datang dengan suara gembira. Arasy bergetar. Para bidadari surga keluar menebarkan aroma wewangian. Ketika Muhammad lahir, Aminah, ibunya, melihat cahaya menyinari istana Bosra. Malaikat mengelilinginya dan membentangkan sayap-sayapnya sambil menyenandungkan puja puji kepada Tuhan.” Malam kelahiran Nabi Muhammad merupakan satu-satunya malam yang bertaburan cahaya yang memancar dari langit biru yang bening. (halaman 23).

Keistimewaan lain juga dialami oleh seorang ibu yang menyusui nabi, Halimah al-Sa’diyyah, seorang perempuan yang sangat miskin, anaknya sendiri sering menangis karena kelaparan dan kekurangan air susu. Setelah kedatangan Muhammad kecil, hidupnya berangsur lebih baik dan terus membaik. Ternak kambingnya yang semula kurus berubah menjadi gemuk, air susunya menjadi bertambah banyak. Muhammad kecil telah memberinya berkah berlimpah ruah.

Beberapa ulama-sastrawan terkenal seperti Syekh al-Barzanji, al-Bushairi, Majduddin al-Baghdadi, Ka’ab bin Zuhair, Yusuf bin Ismail al-Nabhani, dan para penyair lain menyenandungkan kidung-kidung madah dan puisi-puisinya untuk melukiskan dan menggambarkan kegembiraan alam semesta dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad. Dalam karya-karya sastra tersebut juga terdapat pujaan dan sanjungan kepada beliau, juga seaka-akan terlukis sebuah kerinduan umatnya yang sangat dalam, ingin rasanya menatap aura yang terpancar dari wajah anggun beliau. Ingin rasanya mencium tangan yang penuh kelembutan kasih-sayang dan kesucian. Akan tetapi, semua itu tak akan terjadi secara nyata dan kasatmata.

Lalu, orang-orang yang benar-benar mencitai beliau mencari cara untuk bisa meluapkan rasa rindu, beberapa orang memilih merayakan hari atau bulan kelahirannya, dengan cara membaca karya-karya sastra tersebut. Pada saat membaca puisi-puisi tersebut, orang-orang yang hadir bangkit berdiri dalam sikap penuh penghormatan terhadap sang Nabi. Mereka membayangkan seakan-akan sang Nabi datang dan hadir di tengah-tengah mereka.

Dalam sejarah disebutkan bahwa orang yang mengawali perayaan peringatan Maulid Nabi ini adalah Raja al-Muzhaffar Abu Sa’id Kaukibri, penguasa Irbil, sebuah kota yang terletak di negara Irak bagian utara. Ia menyelenggarakan Maulid Nabi dengan sangat megah dan besar-besaran. Perayaan ini dihadiri oleh para pejabat kerajaan, para ulama dari berbagai disiplin ilmu dan para kaum sufi. Kehadiran para ulama dan kaum sufi ini dipandang sebagai bukti bahwa mereka menganggap perayaan atau peringatan tersebut sah adanya, dan tak melanggar agama. Mereka menganggap perayaan ini adalah sesuatu yang baik, meskipun tak pernah dilakukan oleh Nabi atau para sahabatnya, karena perayaan tersebut merupakan sebuah cara untuk menghormat dan mengagungkan sosok pemberi syafaat. (halaman 33).

Tradisi yang baik ini kemudian diikuti oleh generasi selanjutnya dan dilestarikan dari masa ke masa, hingga sampai pada zaman now ini. Pada saat ini orang-orang semakin banyak yang menyelenggarakan Maulid tersebut. Di Turki, seminggu menjelang Maulid, masjid-masjid dihiasi dengan lampu-lampu dan lampion-lampion warna-warni. Halaman rumah penduduk dibersihkan dan dicat putih. Acara resmi Maulid di negeri ini diadakan di masjid-masjid di seluruh negeri, terutama di ibukota Ankara. Tidak hanya di negara Islam, acara perayaan Maulid ini juga digelar di negara minoritas muslim, seperti di Rusia, Jerman, Perancis, Inggris, dan negara-negara lain.

Di Pulau Madura, khusunya Sumenep, kabupaten ujung timur, perayaan Maulid umumnya diselenggarakan secara bergiliran dari satu rumah ke rumah yang lain, mulai dari awal-awal bulan sampai pada hari terakhir bulan Rabiul Awal, baik perayaan tersebut secara sederhana: dengan hanya membaca puisi dan pujian-pujian secara bersamaan dengan tetanga dan famili terdekat, maupun diselenggarakan dengan agak megah. Mendatangkan group shalawat yang menyanyikan madah-madah Nabi, dan mengundang penceramah terkenal untuk mengurai perjalanan hidup Nabi. Sekali lagi hal ini bertujuan salah satunya untuk mengagungkan dan mengharap syafaat dari beliau, tak lebih.

Akan tetapi ada sebagian umat muslim yang tidak setuju dengan adanya perayaan Maulid nabi, Ibnu Taimiyah, tokoh salafi awal disebut banyak orang sebagai orang yang memandang bahwa perayaan Maulid Nabi adalah bid’ah, karena tidak pernah dipraktikkan langsung oleh Nabi dan para sahabatnya. Tak ayal ketika Ibnu Taimiyah menganggap demikian, karena ia termasuk penganut tradisi tekstualis ketat. Pandangan ini kemudian diteruskan dengan semangat Islam tekstualis yang radikal oleh Muhammad bin Abdul Wahab, para pengikutnya biasa disebut dengan Wahabis, mereka terus menyebarkan ajaran bahwa “Maulid Nabi sebagai praktik keagamaan yang sesat.” (halaman 40).

Terlepas dari semua itu, yang jelas Maulid Nabi merupakan sebuah cara untuk mengagungkan, menghormati, dan mengenang perjalanan hidup Sang Pembawa Cahaya Keimanan. Dan dari adanya perayaan tersebut kita mengharap adanya tambahan pundi-pundi amal shaleh kita melalui sedekah yang diberikan kepada para undangan, selain  itu momen tersebut bisa dijadikan sarana untuk mempererat tali persaudaraan kita. Wallahu A’lam. []

Peresensi; Saiful Fawait

Data Buku :
Judul                : Merayakan Hari-hari Indah Bersama Nabi
Penulis             : KH. Husein Muhammad
Cetakan            : Pertama, Maret 2017
Penerbit           : Qaf

Mengagungkan Nabi Muhammad dengan Perayaan Maulid
Click to comment

Komentar

To Top