Celomet

Kenapa Ber-PMII? Temani Aku Bercerita

Mahasiswa tentunya identik dengan semangat yang membara. Hal itu tidak terlepas dari dorongan ambisi untuk berkarya bagi Indonesia. Mahasiswa bukanlah sebagai murid yang hanya patuh pada petuah sang guru. Mahasiswa, identik dengan pemikir yang bebas. Kita diberi kebebasan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan kita. Segala unit kegiatan mahasiswa, maupun organisasi kemahasiswaan tersedia bagi para mahasiswa yang haus akan aktivitas di luar jam perkuliahan.

Menjadi mahasiswa, tentu kita akan mengenal banyak istilah baru yang selama ini tidak kita dengar ketika berada di bangku sekolah. Mulai dari UKT, SKS, hingga skripsi. Selain itu, mahasiswa dituntut untuk cakap dalam bidang akademik maupun non akademik. Dunia kampus tidak membatasi mahasiswanya untuk bergerak sebagai garda depan agen penerus bangsa. Kita adalah pemimpin Indonesia di masa yang akan datang. Saat berbicara tentang pemimpin, tentunya kita perlu yang namanya proses. Hal tersebut akan kita pelajari, ketika kita memberanikan diri untuk terjun dalam dunia organisasi.

Memilih organisasi, tak semudah memilih ikan di pasar. Diperlukan kehati-hatian dan informasi yang cukup untuk mengetahui, apakah organisasi tersebut cocok dengan tujuan kita jangka panjang atau tidak.

Merebaknya fenomena faham ekstrim hari ini, menjadi alarm bagi keutuhan NKRI dengan segudang keanekaragamannya. Sebab, tujuan utama ideologi tersebut adalah untuk mengubah ideologi Indonesia. Sebut saja, misalnya ideologi yang mengusung khilafah, yang ‘katanya’ ingin menerapkan sistem pemerintahan berlandaskan al-Quran dan al-Hadist. Padahal, berbicara tentang sistem negara Islam, bahkan Arab Saudi pun malah menerapkan sistem kerajaan dalam menjalankan pemerintahannya. Hal ini tentu membuat kita semakin bertanya-tanya dan menarik untuk dikaji agar tidak dengan mudah terpengaruh oleh doktrin-doktrin.

Terlepas dari persoalan itu semua, kita tidak ingin terjerumus pada perbedaan aqidah yang sangat fundamental dalam melaksanakan kehidupan beragama. Oleh karena itu, masing-masing organisasi pasti mempunyai garis ideologi yang diusung. Maka di sini menjadi penting untuk kita timang dan jeli memilih, sebelum kita bergabung.

Berbicara soal organisasi pergerakan, pilihan saya jatuh pada PMII, kepanjangan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. PMII didirikan pada tanggal 17 April 1960 di Surabaya. Ketua pertamanya adalah Mahbub Djunaidi. Organisasi ini mengusung ideologi sama dengan ibunya, Nahdatul Ulama. Islam yang ramah, Islam yang memberi rahmat bagi semua makhluk.

Mahbub (ketua pertamanya) berperan penting dalam organisasi pergerakan ini. Kepiawaiannya dalam menulis, mampu membakar semangat para pemuda pada masa itu. Hal yang sangat menarik ialah kumpulan esainya yang berisi kritik pedas kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada kaum kebanyakan. Kritiknya pedas, akan tetapi diramu dengan unsur humor. Sehingga orang yang dikritik tidak merasa sakit hati namun tetap menohok. Tulisan-tulisannya selalu ditunggu oleh pembaca surat kabar di masanya.

Semangat perlawanan Mahbub lewat tulisan, sebagai kader dari organaisasi yang pernah ia pimpin, memacu saya untuk terus berkarya dalam bidang kepenulisan. Sebagai generasi muda, tentu karya ialah hal yang nyata, Sebagai generasi muda pula, kita tidak perlu latah dengan trend perkembangan yang ada, Pemuda harus memiliki prinsip yang kuat dalam hidupnya, agar tujuan hidup dapat tercapai. Jangan seperti generasi micin yang labil, maunya enak tanpa mau bersusah payah berproses.

Selain itu, Mahbub Djunaidi ini, perlu kita maknai sebagai refleksi atas sikap pemuda masa lampau, menjadi teladan yang perlu kita ikuti dalam memperjuangkan kebenaran di negeri ini. Sebagai pembelajar yang baik, kita juga harus tau, dari mana asal diri kita, dari mana sejarah kita. Seorang pejuang asal Sumatera Barat, Tan Malaka pernah berkata, “Jangan meniru Barat, namun belajarlah dari Barat. Jadilah murid Timur yang baik.”

Kalimat tersebut dapat kita maknai sebagai wujud sikap yang seharusnya kita miliki. Belajar boleh dari manapun, tetapi ciri khas, budaya, asal kita, tidak boleh ditinggal. Jangan sampai kita menanggalkan identitas sebagai bangsa Indonesia. Dan ber-PMII tidak merusak itu semua. Bahkan ia menguatkan sendi-sendi kita dalam berbangsa dan bernegara.

Bergabunglah bersama kami, Salam pergerakan. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Kenapa Ber-PMII? Temani Aku Bercerita
Click to comment

Komentar

To Top