Celomet

Nikahilah KOPRI-Mu, Maka Sempurnalah PMII-Mu

Posisi KOPRI dalam PMII

Sesuai yang tercantum di dalam anggaran rumah tangga (ART) PMII pada bab VIII tentang Korps PMII Putri atau yang kemudian disingkat KOPRI adalah badan semi otonom yang secara khusus menangani pengembangan kader putri PMII berperspektif keadilan dan kesetaraan gender. Dengan begitu, perempuan PMII mempunyai mandat penuh atas kepemimpinannya di dalam kepengurusan pembentukan kader-kader perempuan.

Seorang kader PMII mempunyai usaha dalam pergerakannya untuk menghimpun dan membina mahasiswa Islam Indonesia berdasarkan sifat dan tujuan PMII untuk menjadi pribadi muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berilmu, berbudi luhur, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya. Serta komitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam kedudukannya di kepengurusan, KOPRI mempunyai kewajiban untuk melaksanakan setiap program kerjanya. Namun, KOPRI juga masih mempunyai tanggungan untuk ikut serta dalam mensukseskan kegiatan yang ada di kepengurusan PMII. Begitu sebaliknya. Jadi, antara KOPRI dan PMII adalah dua hal yang terus bersinergi dan berjalan secara bersama-sama terlepas dari KOPRI mempunyai AD-ART dan PO tersendiri.

Indikasi Sempurna dan Pemahaman Kesetaraan Gender

Belakangan ini, kader PMII sedang gencar menyerukan kesepakatan sosial yang menyatakan bahwa kesempurnaan seorang kader laki-laki PMII adalah dengan menikahi kader KOPRI. Lalu? Jika seandainya seorang kader laki-laki PMII tidak menikahi kader KOPRI, lantas apakah totalitas dan kualitas seorang kader laki-laki PMII otomatis tidak sempurna? Saya pikir terlalu picik jika memang benar demikian. Jika laki-laki peka terhadap statemen itu, tentu mereka akan tersinggung. Kenapa? Karena jika memang benar, sepintar apapun laki-laki itu artinya dia tidak akan pernah bisa sempurna jika tidak menikahi KOPRI.

Kita menyadari betul bahwa statemen tersebut hanyalah guyonan kader belaka di tengah hiruk pikuknya dunia aktivis. Namun, apakah indikasi sebenarnya jati diri seorang PMII? Apakah dia yang membangun sifat-sifat PMII sejati yang memiliki aura keagamaan, kemahasiswaan, kebangsaan, kemasyarakatan, independen, dan profesional? Bagi seorang aktivis kesetaraan gender; feminis, akan mengancam keras hal tersebut walaupun niat awal adalah sebuah guyonan.

Saya menjadi ragu kepada sesiapapun yang membuat meme tersebut. Konteks secara implisit juga tidak bisa dideteksi jika hanya dengan menggunakan nilai-nilai dan norma yang berlaku di Indonesia yang memang notabene-nya adalah negara yang erat dengan unsur budaya patriarki.

Apakah kata “Nikahilah KOPRI-mu, maka sempurnalah PMII-mu” adalah statemen pemujian terhadap perempuan atau hanya guyonan yang akhirnya jatuh pada merendahkan posisi perempuan. Atau bisa jadi kemungkinan, bahwa laki-laki memang tidak merasa sempurna tanpa keberadaan perempuan.

Kadar kesempurnaan jika menurut Ibnu Sina adalah seorang yang memiliki tingkat ilmu yang telah sampai pada tingkatan kesucian sedemikian sehingga terlepas dari segala pengaruh materi dan keterikatan raga. Saya pikir, jika mengacu pada AD/ART PMII, jelas! Bahwa indikasi kesempurnaan seorang kader adalah dia yang sudah mampu mencapai semua yang dituju oleh PMII itu sendiri.

KOPRI yang bergelut di pembahasan isu gender tentu akan menganggap bahwa ihwal meme tersebut adalah pelanggaran paradigma yang berlaku yang disepakati seluruh kader PMII. Jangan-jangan, kader KOPRI yang mengaku sebagai penggerak kesetaraan gender justru mengamini seksisme ini.

“Nikahilah KOPRI-mu, maka sempurnalah PMII-mu” dalam perspektif gender, masuk ke dalam kategori seksisme yakni merendahkan satu individu atau kelompok yang merendahkan individu atau kelompok lainnya. Namun, perihal seksisme tidak berbicara perempuan atau laki-laki. Bisa jadi yang direndahkan adalah perempuan, dan bisa jadi yang direndahkan adalah laki-laki.

Semisal perendahan prestise terhadap laki-laki, ketika ia menjadi seorang pengangguran. Maka orangtua atau anggota keluarga yang se rumah akan bertanya kenapa nganggur? Tidak demikian jika perempuan menjadi penganggur dan diam di rumah. Contoh lain, laki-laki tidak dibolehkan untuk menyapu di kalangan orang Jawa. katanya pamali, karena itu adalah tugas perempuan.

Penulis berpikiran positif, kemungkinan yang membuat meme “Nikahilah KOPRI-mu, maka sempurnalah PMII-mu” adalah orang yang memang kurang paham atau mungkin juga tidak tahu kesetaraan gender yang pada akhirnya menimbulkan kebiasan gender dalam pembuatan meme tersebut. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Nikahilah KOPRI-Mu, Maka Sempurnalah PMII-Mu
Click to comment

Komentar

To Top