Cerpen

Gelas Plastik dan Cerita Tentang Demokrasi

Pada suatu malam, terlihat sepasang kekasih sedang larut dalam percakapan ringan di bawah rindangnya cahaya bulan yang bergelayut di langit. Mereka berdua tampak sibuk menyeruput kopi bertempatkan gelas plastik yang dipesannya dari hasil tangan tukang kopi keliling, tepat di depan bangunan yang menjadi salah satu ikon di kota tersebut. Sebut saja di depan Gedung Sate, Bandung.

“Kenapa lebih pilih tempat ini?” tanya gadis itu pada kekasihnya,

“Sengaja”

“Biar dunia tahu kalo kita pasangan kere?”

“Iya. Ha ha ha”.

Mereka kemudian memuntahkan tawa secara bersamaan.

“Masih mau jadi kepanjangan lidah rakyat?” tanya gadis itu lagi,

“Iya”

Kere kok sombong!”

“Ha ha ha. Lho, kenapa memang?”

“Zaman sekarang, mau berbuat baik saja semuanya harus pake modal. Setidaknya kamu harus punya semua perangkat-perangkat legitimasi. Baik data, intelijen, media dan seterusnya dan sebagainya”

“Iya. Terus?”

“Kamu punya apa?”

“Punya kamu”

“Ha ha ha”.

Tidak butuh waktu lama, dua gelas kopi mereka menjadi tidak berasap lagi. Dijamah dinginnya kota Bandung malam itu. Untungnya Bandung sudah menjadi kota yang padat kendaraan sekarang. Sehingga, asap knalpot kendaraan yang lalu-lalang ikut berhasil membantu menghangatkan kembali kopi mereka yang hampir membeku.

“Kalau mau dapat hasil yang besar, otomatis umpannya juga harus besar. Segalanya serba transaksional. Itu sudah seperti jadi rahasia umum. Sementara kita tahu, pemilih di Indonesia didominasi oleh jenis yang demikian. Ini celah yang dimanfaatkan oleh para pelaku. Ditambah lagi, para pemilih intelektual, ideologis atau yang lainnya seperti malah kehilangan wajahnya. Itu juga sebabnya politik uang tetap jadi peluru andalan pada setiap momentum pesta demokrasi” sambung gadis itu,

“Predator. He he he”

“Maksudnya?”

“Para pelaku politik yang harusnya mengedepankan pendidikan politik berdasar humanitas politik, justru malah menjadikan animalitas politik sebagai prinsip dasar. Insting kebinatangan dalam rangka merayakan nafsu. Etika politik sudah tidak lagi dipakai. Hak politik para pemilih, lebih banyak didapat dari hasil dagang rupiah. Modal politiknya bukan lagi lewat menanam sebanyak-banyaknya investasi sosial, melainkan, sebesar-besarnya money politik yang dibagikan.

Degradasi kultural politik, jelas-jelas dikembangbiakkan oleh tingkah-tingkah seperti ini. Mental para pemangsa. Siapa sasaran mangsanya? Jelas para pemilih. Akibatnya, para pemilih kecanduan menjadi para peminta-minta karena terus diajarkan suap sebagai hal yang lumrah. Sisanya, meroketnya jumlah angka golput yang diproduksi sebab dari hilangnya rasa kepercayaan”

“Pasti ada pemicunya kan?”

“Iya. Salah satunya disebabkan oleh terus meningkatnya konservatifisme politik di kalangan kelas menengah. Ini menjadi sinyal negatif bagi demokrasi kita. Khususnya untuk Indonesia. Money politik merupakan bentuk kegiatan pengkerdilan. Bahkan parahnya, sudah seperti menjadi kurikulum wajib setiap penyelenggaraan pesta demokrasi. Sementara para pemilih kita terus-terusan dibius transaksi gelap ini. Bahkan pundi-pundi kegiatan ini justru banyak didistribusi dari sosok-sosok yang seharusnya menjadi panutan.

Demokrasi tidak akan menghasilkan apapun, jika dalam prosesnya saja sudah diciderai, bahkan dibuat cacat. Para pemilih harus benar-benar tahu, selagi suaranya dihargai sampah, maka output produk-produk kebijakan orang yang membeli suaranya juga tidak akan jauh-jauh dari sampah”.

Tiba-tiba saja gadis tersebut menatap tajam mata pasangannya. Tanpa diduga sebelumnya, tetesan air mengalir deras di pipi gadis itu. Suasana sejenak berubah menjadi haru. Tatapannya berubah menjadi nanar. Namun amat disayangkan, yang mengalir bukanlah air mata, melainkan air yang tersembur dari bibir pasangannya saat bicara.

“Kenapa, kok, tatapannya jadi berubah begitu?”

“Tidak apa-apa. Pokoknya, semuamu aku jatuh cinta” jawab gadis tersebut,

“Ha ha ha”

“Terus!!!”

“Terus?”

“Iya”

“Pemimpin yang lahir dari serangan fajar, kelak, kursinya akan jadi pasar. Jadi pantas, jika selama ini suara kamu tidak pernah didengar. Karena hak bicara kamu saja sudah dimahar. Jangan harap bisa menuntut ini dan itu lagi. Sebab, sesuatu yang sudah dibeli, otomatis itu sudah tidak lagi menjadi hak kamu. Kecuali kamu menolak untuk menjualnya. Itu perkara lain lagi. Dia tidak punya hak untuk menolak sebagai pelayan tuannya. Sebagai kepanjangan tangan suara yang telah diwakilkan kepadanya”

“Lantas kapan pemilu bisa bersih?”

“Pemilu baru akan bersih, jika semua taraf ekonomi rakyatnya sudah berada di atas rata-rata. Dan rakyat, tidak lagi menjadi alat perangnya para penguasa”

“Lho, kopiku mana? Kok, habis juga?”

“Iya, tidak sengaja keminum juga”

“Haus?”

“Iya”.

Setelah itu, hujan tawa. []

Gelas Plastik dan Cerita Tentang Demokrasi
Click to comment

Komentar

To Top