Cerpen

Tiga Makhluk Istirahat

Tiba-tiba semua kaca di seluruh dunia pecah. Tak terkecuali. Di bagian bumi yang malam menjadi gelap gulita. Seluruh lampu padam, tak terkecuali. Di bumi, tak ada seorang pun yang bisa merias diri, atau sekadar menyisir rambut di depan cermin. Tak ada. Seluruh yang sekerabat dengan kaca, pecah membentuk potongan-potongan persegi kecil, amat kecil. Saat itulah semua orang menjadi paham, betapa pentingnya sebuah kaca. Tanpa kaca, gedung-gedung tampak telanjang, pembatas kamar mandi orang terkaya tampak miskin, lemari pendingin rusak, konstruksi pembangunan macet, seluruh orang kebingungan. Semua kegiatan menjadi terhenti.

“Menyedihkan. Ada apa ini? Mengapa tak ada satu pun kaca di dunia ini? Televisi rusak, telepon genggam menghitam, kacamata tebal tak ada guna. Banyak orang buta seketika ini.”

“Dunia sedang kacau, bung!”

Pesawat udara berjatuhan. Kapal selam tenggelam. Bumi diriuhkan hanya sekadar hilang satu jenis benda. Ke mana perginya kaca? Pembuat kaca tercanggih pun tak bisa menjalankan pembuatan kaca lagi. Bagaimana bisa, saat mulai menempa pertama kali pun langsung berhamburan? Kemudian banyak orang yang tercengang tak mengerti, bergumam bahwa kejadian itu serba tak masuk di akal. Fenomena mengerikan tersebut tak dapat diliput dengan gambar. Penyiar radio di seluruh dunia terhenti, karena kaca di ruangannya berhamburan, merusak beberapa alat elektronik. Saat itu hanya penyiar radio amatiran yang bisa mengungkap segala kengerian tentang hancurnya kaca. Penyiar amatiran itu bernama Syair.

Sebagaimana namanya, setiap menyampaikan informasi, dia lantunkan seperti syair. Sebagian orang yang mendengar tak percaya pada pesan yang disampaikannya, karena itu tampak fiksi. Pelafalan yang mendayu-dayu, penekanan kalimat yang kadang pelan kadang cepat, seperti lakon sandiwara radio. Atau kadang terdengar seperti penyiar bola. Gaduh, amat gaduh. Sebagian lagi, dari orang-orang yang mendengar percaya dan merasa terhibur. Berita yang berisi bencana tapi terdengar seperti komedi kala Syair mengucapkannya kata demi kata. Tahu di mana Syair menyiarkan beritanya? Dia berdiri di atas puncak gunung tertinggi Indonesia. Seharusnya tidak ada jaringan di sana, tapi entahlah, dia memiliki sinyal khusus yang dirangkainya sendiri, yang dapat menjangkau seluruh gelombang, baik yang di dataran tinggi atau rendah. Bahkan, dari saking tidak masuk akalnya, siaran radio Syair sampai ke seluruh pelosok negeri di muka bumi. Di negara-negara maju, yang gelombang radio untuk penyiarannya tidak dikembangkan lagi, karena sibuk mengembangkan alat elektronik yang lebih canggih, tidak ada yang percaya bahwa radio itu disampaikan dari bagian bumi Indonesia. Orang Indonesia yang kebanyakan memang sudah beranak-pinak di luar negeri, sedikit paham bahasa ibu mereka. Jadilah orang yang ingin tahu informasi dari berita itu menerjemahkannya ke bahasa tempat mereka tinggal. Di belahan dunia, orang Indonesia sibuk menerjemahkan bahasa.

Sejauh peradaban dunia, tidak ada suatu kejadian yang amat aneh hingga sama rata terjadi di seluruh dunia. Apa karena pertentangan tentang kesetaraan gender, atau karena perang di bagian bumi timur yang tak berkesudahan, hingga bumi dilanda suatu misteri yang dapat membuat semua orang berpikir pada arah yang satu? Tentang kenapa semua kaca hancur, mereka sepakat tidak bisa mengerti. Ditambah lagi, bagaimana seorang penyiar radio yang mengenalkan dirinya bernama Syair yang sedang menyiarkan secara langsung kejadian aneh tersebut di puncak gunung tertinggi Indonesia bisa dipercaya? Umat manusia bertanya-tanya. Ada yang menjawab pertanyaannya sendiri bahwa itu adalah tanda-tanda kiamat. Ilmuwan terkemuka yang beragama Islam menyatakan, hal itu terjadi karena ulah malaikat peniup terompet yang begitu kecil frekuensinya, tapi hanya berpengaruh pada setiap benda yang mengandung kaca di muka bumi ini. Diprediksinya lagi, tiupan dengan frekuensi yang lebih tinggi sedikit lagi akan membuat seluruh benda yang mengandung metal sama hancurnya seperti kaca. Hingga pada tiupan terakhir membuat gunung-gunung rata, dan membiarkan manusia menyaksikannya sebagai orang terburuk di akhir zaman, termasuk dirinya. Tapi sudahlah, itu hanya prediksi dan praduga seorang ilmuwan yang sedang bingung. Beda halnya dengan Syair, dia berkata-kata penuh kelucuan.

“Warga dunia budiman yang tak beriman. Percayalah bahwa ramalan yang ada dalam setiap kitab suci adalah benar. Kehilangan hal kecil kita sering tak memedulikan, kehilangan satu jenis benda berupa kaca di muka bumi ini tak masalah, bukan? Sabda-sabda dari ratusan tahun silam tak ada yang mengunyah. Kata-kata dianggap sampah, yang dimakan lalu disimbah. Berhentilah berbohong agar tak seperti anjing menggonggong. Berhentilah tak percaya kalau yang kusampaikan adalah hampa. Dari bumi tertinggi Indonesia, mari kita bersama menyanyi, nyanyian paling sunyi.”

Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Syair menangis, suaranya lantang, sebagaimana seorang yang tampak bersandiwara. Syair harap semua orang tahu, kalau nyanyian universal dan paling sunyi yang dilakukannya tangisan. Maka menangislah dia sejadi-jadinya, tapi para mendengar lewat radio yang tersisa—yang hancur sebagiannya karena terbuat dari kaca—tertawa-tawa. Tangisan Syair terdengar lucu di telinga mereka.

“Seraya menyanyikan lagu kesunyian, biarlah aku mengucapkan kata dan fakta yang nyata. Kukatakan fakta yang nyata karena adanya di depan mata adalah riil yang fiksi. Seseorang yang tak lagi bisa bercermin, rumah yang tak lagi berbaju, mata yang seakan berkaca-kaca, adalah kenyataan yang tidak nyata.”

Logat yang terkesan lucu semakin dipermainkan oleh Syair, dengan kata yang diselai senggukan tangis terkesan seperti tabuhan orkestra. Atau seperti tabuhan gendang dan ketipung Roma Irama. Berita menyedihkan disambut dengan gelak tawa. Tak ada yang mengerti.

“Pada ibu-ibu yang saat mau pergi selalu tak bisa berpaling dari cermin, rasakan wajah kalian telah pecah di atas puing-puing. Pada bapak-bapak yang sok tampan, rasakan berewok dan sungut kalian akan terbengkalai di sela-sela puing-puing. Pada pemuda dan pemudi, rasakan, kalian tak bisa lagi bergaya. Kecuali berkaca pada kembaran kalian sendiri, itu pun kalau ada.”

Syair menghentikan kalimatnya dengan tangis yang mendayu, seperti lagu paling sedih sepanjang masa. Seperti alunan seruling bambu orang China, atau kadang terdengar seperti alunan gendang orang Indonesia, kadang pula seperti musik DJ anak-anak muda. Syair yang kreatif dalam syairnya.

Kalimat berikutnya dari Syair tak terdengar ke pelosok dunia, padahal itu adalah kalimat akhir yang akan panjang dan berisi informasi penting tentang keadaan dunia yang sesungguhnya. Tapi sudah terlambat, dia terlalu asyik bersyair.

Kalimat seorang Ilmuwan yang beragama Islam itu benar adanya, bahwa setelah hilangnya kaca akan ada satu benda berikutnya yang lebur di muka bumi ini. Karena dalam kisah ini semua terkesan tidak nyata, maka tak apalah menggunakan kata tiba-tiba. Tiba-tiba saja bagian dari alat penyiar radio Syair menjadi persegi-persegi kecil, amat kecil, seperti serpihan kaca yang dia dapati. Ah, sudah terlambat, gumam Syair. Disusul seluruh gedung-gedung di belahan dunia yang rebah ruah. Mereka seperti seorang yang kelelahan dan ingin cepat-cepat terlentang. Gedung tertinggi di Dubai seperti rumah pasir yang dibuat anak-anak di pinggir pantai. Gedung putih Amerika, bahkan yang miring tambah miring lalu benar-benar rebah, miring yang mempermudah rebahnya. Kota-kota besar berubah seperti tumpukan sampah. Banyak orang yang tak mau mengerti tentang hilangnya satu benda yang kecil kegunaannya di awal-awal tetap abai. Dan dari keabaian mereka itu pulalah, mereka seperti mengubur diri sendiri dalam puing-puing rumah burungnya.

Ilmuwan yang memprediksikan kejadian tersebut tercengang. Kalau sampai yang ketiga dari prediksinya benar, maka sungguh celaka dirinya. Padahal, yang membuatnya masuk ke agama itu karena pengetahuan yang menuntunnya. Lalu mengapa dirinya harus merasa seperti orang yang paling buruk-buruknya orang di akhir zaman? Ilmuwan tersebut mulai gemetar. Segala kata pertobatan dilontarkan, tak terhitung lontarannya.

Beda halnya dengan Syair, dia keluar dari gubuk tempat dirinya menyiarkan radio. Dia tahu, bahwa seluruh radio di dunia ini juga mengalami nasib yang sama seperti alatnya. Tapi dia tidak tahu kalau prediksinya berakhir pada kesalahan besar. Hilangnya benda berjenis logam dan metal membuatnya kacau. Syair kehilangan cara untuk menyampaikan pesan terakhirnya. Percuma, dia berteriak dari puncak gunung tertinggi itu pun tidak akan bisa sampai ke pelosok negeri.

Tak kehabisan akal, Syair turun gunung, ingat akan seseorang. Berlari cepat seperti akan menggelinding ke lerengnya. Di arah yang dituju Syair, beberapa warga menunggu. Mereka adalah warga yang tak terjamah kehidupannya, tempat tinggalnya, bahkan masuk ke dalam peta teritorial negara pun tidak. Dari saking tak masuk akalnya, mereka menganggap desanya adalah tempat mistis. Warga di sana dapat memahami benda-benda, memahami suara angin, air, batu, tanah, dan roh semesta. Amat mistis memang, tapi itu riil. Sungguh.

Orang-orang yang menunggu kabar dari Syair membuka mata dan kuping lebar-lebar. Mengapa pemuda itu turun? Sudah selesaikah pengumuman yang disepakati untuk disampaikan ke seluruh warga dunia? Jawaban itu segera mereka dapat setelah Syair menggeleng-geleng seraya menahan rasa lelah. Padahal bisa tinggal berguling-guling dari atas menuruni lereng, tapi dia memilih berlari saja untuk keselamatan.

“Terpaksa, kita menggunakan cara terakhir. Kukira kau akan melupakan dirimu sebagai penyair, Syair. Rupanya kau tak dapat diandalkan. Terbuai pada keahlian diri, lupa pada amanat, egois. Baiklah, kita mulai bersama-sama untuk menyampaikan sesuatu yang harus kita tebarkan pada seluruh saudara kita. Jangan hanya ngos-ngosan seperti itu, cepat!”

Satu orang berbadan tinggi, warna kulitnya kecokelatan dan tampak berwibawa menggertak Syair. Hal seperti itu amat jarang terjadi, tapi tingkah Syair kadung kelewat di matanya. Jadilah marah yang disertai kasih sayang itu buncah.

“Buka gerbang gua gaib. Seluruh lelaki dan pemuda berkumpul di mulut gua. Kita mulai sebelum benar-benar terlambat. Atau seluruh saudara kita di muka bumi celaka.”

Seharusnya, Syair berpikiran sama seperti yang disampaikan orang yang menasihatinya tadi. Andai dia mengatakan lebih cepat, mungkin orang-orang di seluruh dunia yang berada di dalam gedung dan suatu tempat yang mengandung metal atau logam itu bisa terselamatkan. Syair merasa berdosa. Dia berdosa karena telah terbawa pada misi pribadinya tentang penyadaran.

“Ingat redaksi katanya. Yang lupa, akan saya ulang kembali. Dengarkan baik-baik.” Orang yang memandu agar semua lelaki berkumpul di mulut gua memelototi Syair, pemuda itu merasa bertambah dosa.

“Kepada seluruh umat manusia di muka bumi. Minumlah air yang ada di sekitar kalian sebanyak-banyaknya. Yang ada di atas perahu kayu segeralah menepi. Yang ada di atas gunung segeralah turun. Cari air dan minum sebanyak-banyaknya. Karena bumi akan segera gersang dalam beberapa waktu ini. Hilangnya kaca dan logam adalah awal peringatan alam untuk kita semua. Sekali lagi, minum sebanyak-banyaknya.”

Semua orang mengangguk dan menghafal dengan cepat kalimat yang disampaikan pemandunya. Maka, serempak mereka menarik napas. Perut mereka membesar, berharap suara yang disampaikan lantang dan jelas. Orang yang memandu mengangkat tangan, dan saat nanti tangan itu turun, mereka harus serempak memulai kata-kata yang sudah diperjelas tadi.

“Kepada seluruh umat manusia di muka bumi. Minumlah air yang ada di sekitar kalian sebanyak-banyaknya. Yang ada di atas perahu kayu segeralah menepi. Yang ada di atas gunung segeralah turun. Cari air dan minum sebanyak-banyaknya. Karena bumi akan segera gersang dalam beberapa waktu ini. Hilangnya kaca dan logam adalah awal peringatan alam untuk kita semua. Sekali lagi, minum sebanyak-banyaknya.”

Suara itu kompak menggema melewati lorong gua gaib dan tersebar ke segala lorong gua di seluruh dunia. Namun, yang terdengar di seluruh telinga manusia tampak seperti deruan terompet yang amat keras.

Ilmuwan yang beragama Islam juga mendengar dengungan suara keras dan semakin keras tersebut. Maka semakin khusuklah dia meminta ampun atas segala dosanya. Dan semakin yakin kalau prediksi akan datangnya kiamat adalah benar. Gunung-gunung akan rata, dan manusia dibiarkan menyaksikannya. Ilmuwan tersebut tersungkur mendengus tanah. Sujud sesujud-sujudnya. Dalam.

Syair beserta seluruh warga mistis telah salah prediksi lagi. Keterbelakangan yang membuat mereka tak bisa menyadari bahwa suara serempak yang tidak pernah mereka lakukan sama sekali terhadap gua gaib akan terdengar seperti terompet raksasa. Mereka menganggap pesannya telah sampai, dan mereka bisa beristirahat tenang. Padahal setelah kalimat serempak mereka usai dilontarkan ke mulut gua gaib, seluruh air di muka bumi menyusut. Gunung-gunung berapi yang memiliki banyak magma berhamburan karena tak ada lagi air laut yang menjadi pendinginnya. Ilmuwan yang sujud sejadi-jadinya itu tak sadar bahwa seluruh rumput di sekitarnya pun menjadi layu. Manusia akan benar-benar berakhir tanpa air. Hal yang Ilmuwan tersebut anggap kiamat menjadi nyata.

Terakhir, orang yang sebelumnya memandu seluruh lelaki di desa mistis baru sadar, dia belum menyampaikan pada seluruh saudaranya di belahan dunia perihal, mengapa kaca, metal, dan air menjadi lebur dan seakan lenyap? Dia ingin mengajak seluruh lelaki desa untuk mengatakan penyampaian terakhirnya di depan mulut gua gaib. Tapi urung melihat semuanya kadung bersantai-santai. Dia tak mau mempersulit lagi. Hanya sekadar penjelasan, baginya tak begitu penting dibanding kabar.

Syair medekati orang yang amat diagungkannya tersebut. Lelaki yang sering memberinya nasihat dan memarahinya dengan sayang. Namun sebelum benar-benar mendekat, orang tersebut merengkuh bahu Syair dan mengajaknya kembali ke mulut gua gaib yang masih terbuka.

“Kita lupa menjelaskan perihal hilangnya air, kaca, dan logam pada saudara kita. Maukah kau menemaniku untuk mengatakannya?”

Tanpa berkata-kata, setelah satu kalimat yang sedikit panjang disuruh untuk dihafal, Syair mengikuti orang tersebut di belakangnya.

“Air, kaca, dan logam memilih untuk beristirahat sementara waktu.” Serempak kalimat tersebut mereka ucapkan.

Ilmuwan yang sedang sujud mendengar dengungan tersebut, maka berakhirlah sudah dunia. Ilmuwan itu menjadi tikus. []

Jakarta, 25 November 2017

Tiga Makhluk Istirahat
Click to comment

Komentar

To Top