Catatan Perut

Tuntutlah Ilmu Walau Sampai Indomaret

Di suatu pagi yang cerah Bawuk metingrang di warung kopi langganan. Tangan kanan menggamit kretek favoritnya, sementara tangan kiri sibuk membolak balikkan koran yang tergeletak di meja.

Sami’an datang dengan muka ditekuk. Wajahnya terlihat sangat lelah. “Mungkin ia sedang menyunggi beban yang demikian dahsyatnya,” pikir Bawuk dalam hati.

“Kopi satu, Yu. Pahit ndak pake gula,” Ia memesan kopi kesukaannya.

Saya meliriknya sembari tetap berkonsentrasi pura-pura membaca koran yang ada di hadapan saya. Sami’an pun melirik saya. Lirikan bertemu lirikan. Dia nyengir, saya tersenyum celingukan.

“Kenapa tho sampean itu, Kok mukanya cemberut seperti itu,” tanya saya.

“Masjid semakin sepi. Ndak ada orang yang yang mau jamaah lagi. Salat jamaah tinggal dua shaf. Itu pun hanya kalau Magrib dan Isya’. Kalau Dzuhur, Asar, apalagi Subuh malah beberapa biji manusia saja. Ndak jarang lho kang, pas waktu Subuh tinggal saya saja. Jadinya kan saya multitasking, ya azan, pujian, komat, sekaligus ngimami,” jawabnya kesal.

”Aa iya?”

“Ha iya, tho,”

“Mungkin orang-orang pada sibuk. Sekarang kan musim panen. Pagi ke sawah, siang menjemur padi, malam sudah capek. Jadi mbok ya dimaklumi. Kalau sudah selesai musim panen, pasti mereka akan ke masjid jua,” jawab Bawuk berapologi.

“Ya ndak juga Kang. Orang sebelum panen juga sudah menurun kok kang. Saya kok jadi kepikiran jangan-jangan karena orang-orang sudah tidak merasa tenteram lagi di masjid”

“Hus. Jangan gitu. Ya ndak mungkin lah. Sebagai mukmin yang baik mereka pasti merasa aman dan nyaman berada di masjid.”

“Lho lha ndak mesti kang. Soalnya sejak ada ustaz baru, jamaah semakin menurun. Beberapa minggu lalu malah ada segerombolan orang yang tiba-tiba menginap di masjid. Saya ndak ngerti dari mana asalnya. Mereka menginap selama tiga minggu kang. Siang malam di masjid. Penduduk merasa aneh saja”

“Itu sebabnya menurut sampeyan jamaah akhirnya enggan ke masjid lagi?”

“Bisa jadi,”

Bawuk pamit pulang dengan menyimpan sederet perasaan masgul di benaknya. Mengapa masjid menjadi sedemikian sepi? Apa benar karena orang-orang asing yang menginap itu, ataukah karena ustaz galak yang ceramahnya sering menuding dan menyalahkan itu, ataukah ada penyebab lain yang justru lebih besar.

Bawuk memang tidak sampai berpikir, tepatnya tidak pernah tahu, bahwa mereka yang menginap di masjid itu kerap dan acap kali ‘meneror’ warga dengan sederet tuduhan bidah. Mereka memojokkan jamaah setiap kali melakukan wirid-wirid yang sudah menjadi tradisi. Bahkan, Sami’an suatu ketika juga pernah diinterupsi saat ia mbadali menjadi imam salat subuh. Kebetulan imam tetap salat subuh berhalangan saat itu, dan Sami’an didaulat menjadi imam.

Sepasca beriktidal, Samian menengadahkan tangan untuk mengumandangkan doa kunut. Lantunan doa ia panjatkan, tidak sebagimana biasanya, setiap merampungkan satu kalimat doa pasti diselingi dengan bunyi amin dari jamaah. Namun tidak demikian dengan saat itu. Tidak ada suara amin dari jamaah. Sepi. Senyap. Hening.

Sesampianya di rumah, Bawuk hanya kepikiran bahwa jangan-jangan masjid telah banyak ditinggalkan sebab ia sudah tidak menarik lagi. Kuno dan jauh dari kata dinamik.

Bawuk yakin seyakin-yakinnya bahwa kakalahan itu bukan berasal dari luar diri. Mental pihak yang kalah itu adalah mental terutama disebabkan bukan karena memang benar-benar pihak yang menglahkan itu pemanang, juara atau kuat dan hebat, sebaliknya kakalahan itu mula-mula disebabkan oleh kekalahan dari dalam kita sendiri.

“Jangan-jangan karena kita yang tidak pandai memodifikasi dan mengkreatifitasi masjid besrta segala pirantinya?” pikir Bawuk.

Agama akan jauh dari penganutnya saat ia asing dan jauh dari ‘kebutuhan’ penganutnya. Bahasa modernnya ‘tidak kekinian’.

“Seharusnya kita lebih kreatif,” gumamanya.

Bawuk tiba-tiba membayangkan masjid akan menjadi sedemikian ramai saat misalnya manajemen ketakmirannya meniru toko-toko swalayan. Sebutlah misalnya indomaret.

Jika masuk Indomaret dan toko swalayan sejenis itu, kita pasti mula-mula akan di sambut dengan senyum ramah pegawainya. “Selamat pagi, selamat berbelanja…” ucapan yang demikian terdengar karib dan bersahabat sekali di telinga. Orang yang betah berlama-lama berbelanja atau bahkan ketagihan untuk selalu datang kembali dan kembali untuk berbelanja lagi.

Coba misalnya kalau takmir masjid bersikap seperti pegawai Indomaret. Selalu pasang senyum simetris. Menyapa saban pengunjung dengan sapaan khas “selamat beribadah, sudah sunat belum?”

“Kita kan boleh belajar pada apa dan siapa saja, termasuk kepada Indomaret, bukan?” []

Tuntutlah Ilmu Walau Sampai Indomaret
Click to comment

Komentar

To Top