Resensi

Ini Tentang Problem Bahasa Kita

Perihal permasalahan bahasa lisan, tentu akan bersinggungan dengan sejarah, kebutuhan, tuntutan dan perkembangan zaman. Nah, dalam perkembangan zaman inilah yang menimbulkan masalah baru yang pada akhirnya mendapatkan legitimasi oleh beberapa lapisan masyarakat. Inilah yang melatarbelakangi Fariz Alniezar menulis buku yang berjudul “Problem Bahasa Kita; Kritik Bahasa dari Iwak Pitik sampai Arus Balik” yang diterbitkan oleh Kaktus Yogyakarta, Oktober 2017.

Buku yang sangat epik dan wajib dibaca untuk menambah wawasan pengetahuan di bidang bahasa Indonesia. Dalam tuntutan dan kebutuhan juga berkaitan dengan masalah adanya makna ilmiah yang tidak ada di dalam bahasa Indonesia tetapi ada di dalam bahasa asing. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah dan tim penyusun melakukan adopsi bahasa dari bahasa asing menjadi bahasa Indonesia. Contoh kongkret adalah kata incumbent.

Satu contoh misalnya yang sangat menarik di dalam buku ini adalah perbedaan antara “email” dan “surel”. Beberapa orang mungkin akan berpikir bahwa di antara keduanya jelas tidak ada perbedaan. Kemungkinan akan berpikir “email” adalah bahasa Inggrisnya dan “surel” adalah bahasa Indonesianya. Tapi nyatanya, jika mengacu pada KBBI email dan surel tidak ada kaitannya sama sekali. Email yang artinya adalah lapisan gigi paling luar, sedangkan surel artinya adalah email yang selama ini kita ketahui.

Naasnya, kesalahan ini terus berlanjut karena kita masih kerap menemukan di dalam korp surat instansi pemerintah maupun swasta yang belum bisa membedakan antara keduanya.

Begitu juga dengan arti dari kata mudik. Dalam buku ini, penulis menjelaskan sesuai dengan makna yang tercantum di dalam KBBI dan pemaknaan asal kata yang berarti berlayar jauh. Sedangkan yang kita ketahui oleh beberapa orang zaman sekarang menganggap bahwa mudik adalah pulang kampung ketika menjelang lebaran. Jika melihat dari sejarah bangsa dan demografi Indonesia yang memang notabenenya adalah negara maritim, ihwal makna “mudik” memang ditujukan untuk hal tersebut.

Bahasa yang tergantung pada sistem kekuasaan dalam pemerintahan juga ada. Sehingga menimbulkan perpecahan yang dianggap tidak tepat dan mengurangi esensi dari bahasa tersebut. Semisal kata “buruh” yang akrab identik dengan masa Orde Lama, lambat laun kemudian diubah menjadi kata “karyawan” karena adanya peralihan kekuasaan pemerintahan ke masa Orde Baru. Padahal makna antara “buruh” dan “karyawan” adalah bekerja dan menerima upah dari orang lain. Akan tetapi, kata “karyawan” dianggap sebagai kata yang lebih tinggi daripada kata “buruh”. Padahal keduanya sama saja, tidak ada bedanya.

Masih banyak lagi kekeliruan yang harus kita benahi. Di lain sisi karena kita sudah terlanjur mendengar istilah-istilah yang tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang baku. Membaca tulisan dalam buku ini adalah salah satu obat untuk menebus kesemrawutan bahasa lisan orang kita, orang Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi nasional.

Ditulis dengan bahasa yang ringan dan mengalir. Menarik untuk dibaca karena terdapat banyak sekali informasi di dalamnya yang tidak kita sadari selama ini. Namun dibeberapa bab, gaya dan alur penulisannya seperti diulang-ulang, sehingga sebagai pembaca bisa menebak arah dan tujuan penulis. Kekurangan itu tetap saja tidak menutupi kelebihan dan keriangan yang ada dalam setiap bab.

Salam iwak peyek. []

Peresensi; Dwi Putri

Data Buku :
Judul                : Problem Bahasa Kita; Kritik Bahasa dari “Iwak Pitik” sampai “Arus Balik”
Penulis             : Fariz Alniezar
Cetakan            : Pertama, Oktober 2017
Penerbit           : Kaktus

Ini Tentang Problem Bahasa Kita
Click to comment

Komentar

To Top