Cerpen

Pohon Sedih

Kesedihan yang selalu tertuang itu telah menumbuhsuburkan pohon di pinggir kuburan. Setiap orang yang sedihnya berkepanjangan, orang tersebut akan menceritakan kesedihannya pada pohon, beserta dengan tangis yang menguras air mata. Seseorang yang kesedihannya ringan dilarang pergi ke pohon itu.

Bertahun-tahun, pohon itu menyimpan segala kesedihan, yang membuat batang dan rerantingnya kuat menyongsong atas. Tidak ada yang tahu pasti pohon itu ditanam siapa dan bagaimana mulanya. Semua orang mengenalnya sebagai tumbuhan yang memang tumbuh sendiri tanpa campur tangan manusia. Tumbuh dari tubuh raja bijak masa lalu. Cerita itu beredar dan terus berkembang dengan bumbu yang semakin sedap di telinga.

Suatu waktu yang petang dari matahari lelah yang bergurau dengan siang, penyimpangan terjadi. Seorang gadis tanpa kesedihan yang sangat pergi ke pohon itu. Tangannya membawa segamit pisau dan tali. Karena kesedihan tidak bisa dilihat dan diukur tingkatnya hanya dari luar, orang yang melihat gadis tersebut diam tak menegur atau menanyakan, apakah gadis itu benar-benar memiliki kesedihan yang sangat.

Satu atau bahkan lebih orang yang mengadu di bawah pohon kesemuanya memiliki alasan yang sama, tapi tidak untuk gadis itu. Dia tak memerlukan alasan untuk bersedih. Walau sebenarnya bagian dari kesedihannya itu pantas untuk dijadikan alasan.

“Manusia terlalu sering beralasan, aku tak mau seperti mereka-mereka,” ucap gadis tersebut di suatu petang menyaksikan siluet matahari terbenam.

Waktu itu hanya percakapan ringan antara aku dan dia. Untuk disambungkan dengan kejadian beberapa waktu berikutnya, rasanya tidak ada keterkaitan dengan kejadian dia pergi ke pohon pinggir kuburan untuk bersedih. Keseharian dan hidupnya penuh dengan tawa, tak ada sekali pun kudapati kesedihan di sana. Jadi bagaimana jadinya hingga dia pergi dengan membawa peralatan aneh ke pohon tersebut?

Di percakapan yang selanjutnya, gadis itu mengatakan dunia adalah keluarganya.

“Tidak ada musuh di dunia ini. Semua adalah teman, keluarga dan sesuatu yang harus dijaga. Bersama keluarga tidak ada kata sedih, barang sekali tampak kemarahan dan pertengkaran tetaplah membawa kebahagiaan. Aku akan berusaha tersenyum untuk semuanya.”

Gadis yang cukup unik dalam mengartikan kehidupan. Lalu tetap menjadi pertanyaan mengapa dia pergi ke pohon? Semua orang tahu kalau dia tidak pernah bersedih, sedang orang yang tak pernah bersedih tentu tak tahu kesedihan mendalamnya seperti apa. Itu bahaya sekali kalau sampai berada di bawah pohon dan mengadukan kesedihan yang bukan kesedihan. Akibatnya mengerikan. Belum ada kejadian tampak yang terlihat di kalangan masyarakat setempat, tapi cerita dan desas desusnya lebih mengerikan dari kematian oleh kekejaman. Lebih tak bisa dibayangkan ketimbang akhir dari dunia.

“Orang yang melanggar ketentuan pohon, orang itu akan menjadi bagian dari pohon, hidup tapi tak hidup. Akar-akar pohon akan menangkapnya, melilit mencekik tapi masih bisa bernapas. Setelah tertangkap lalu menjadilah bagian dari pohon. Entah itu sebagai buahnya, batang, ranting, daun atau akarnya. Orang yang melanggar ketentuan pohon lebih menderita dari pada siapa pun. Setiap orang yang datang mengadukan kesedihan, dia harus mendengarnya, selalu sepanjang ada orang yang datang mengadukan kesedihan dengan cerita panjang mengharukan. Hukuman lebih yang paling menakutkan adalah kala pagi dan senja.”

Itu kalimat seorang kakek tua yang sudah meninggal beberapa waktu sebelum gadis yang tak mau kusebut namanya itu kenal denganku. Juga sebelum kejadian mengerikan yang menimpanya. Mendengar petuah dan ceritanya saja aku sudah tak dapat membayangkan, bagaimana terjebak dalam hukuman pohon, tak mati dan tak hidup tapi bisa merasakan keberadaan. Ditambah lagi kesedihan yang berkepanjangan.

Gadis itu, masih dengan gadis itu aku berusaha mengerti, merangkai apa yang dilakukannya dengan apa yang diceritakan kakek tua yang sudah meninggal. Kakek itu melanjutkan penjelasannya, sedikit samar aku mengingatnya.

“Kalau suatu waktu ada orang yang seperti kuceritakan, tentu tidak akan ada orang yang tahu. Tahu-tahu, kalau mereka melakukan pengaduan kesedihan secara serempak di bawah pohon, salah satu dari mereka hilang begitu saja tanpa ada yang menyadari. Mau sadar dari mana, sedang semua sibuk mengemukakan kesedihannya dan menghayati kesedihan itu hingga begitu mendalam? Tentu sulit mengetahuinya. Tapi ada satu cara agar kau tahu, Anak Muda.”

Kurang lebih kakek tersebut mengatakan hal yang demikian. Tapi aku lupa satu cara agar aku tahu yang telah diucapkannya. Tapi, sepertinya jawabanku berada pada gadis yang tak mau disebutkan namanya itu. Perihal mengapa dia tak mau disebutkan namanya, aku ingat betul percakapanku dengannya.

“Saat pergi, seseorang meninggalkan nama, dan nama itu selalu membawa kenang yang menyakitkan. Iya bagi mereka yang pergi lalu terlupakan begitu saja, sebuah nama tak begitu berarti. Tapi bagi orang yang telah menebar kebahagiaan, kepergiannya akan tampak seperti gerundang yang terdampar, membawa bekas panjang yang menyakitkan. Aku tak mau hal itu terjadi.”

Perkataan gadis itu, aku mengingatnya dengan lengkap. Orang di tempat ini hanya mengenalnya dengan sebutan gadis. Tak lebih. Lalu di suatu kejadian seperti yang sekarang berlangsung, aku berusaha mengartikan ucapannya dengan transparan. Sesekali menyanding dan menghubungkannya dengan kalimat kakek tua yang sudah mati.

Aku belum juga mengerti. Gadis yang tak mau disebutkan namanya, barangkali memang tidak memiliki nama itu masih mengiang di kepala. Kejadiannya singkat, sesingkat petir yang menebang dahan pohon. Gadis yang tak diketahui asal usulnya karena selalu menebar kebahagiaan itu… ah, sangat disayangkan. Di suatu setelah matahari lelah menerpa bagian tanah, gadis itu lenyap begitu saja setelah duduk bersimpuh di bawah pohon. Mata ini melihat dengan jelas walau singkat.

Nah, sekarang aku mulai bisa mengingat cara yang diberikan kakek tua itu. Untuk mengetahui kejadian dari orang yang kena hukum pohon yang bertengger di dekat kuburan itu adalah dengan melihatnya dari bawah ketiak di waktu matahari mulai terbenam. Saat itu kejadiannya pas sekali. Saat lelah dari memikul kayu bakar dari hutan yang tak jauh dari sawah, aku pulang terlalu petang. Tubuh penuh keringat, wajah basah. Demi menghapus bulir yang membuat basah itu, aku menunduk berusaha mengelap wajah dengan ujung bawah baju. Tanganku terangkat, yang jelas membuat kepalaku berada di bagian bawah pundak. Saat itulah, tanpa berniat mengintipnya, mata ini melihat kejadian singkat tersebut.

“Untuk bisa melihat seseorang yang tak memiliki kesedihan mendalam terhukum itu, kau harus melihatnya di waktu senja lewat bawah ketiakmu. Itu pun kalau kau berani. Tak ada orang yang berani melakukannya, kecuali orang yang mengatakan cara tersebut. Orang itu segera gila, menjadi tua lebih cepat, dan akan meninggal begitu saja setelah selesai menceritakan pengalamannya pada orang lain.”

Kakek tua pernah menjelaskannya demikian. Jelas semua yang dikatakannya hampir kulakukan. Lalu tentang gadis itu, aku melihatnya dan masih sempat menyapanya dari kejauhan sebelum dia bersimpuh di bawah pohon. Aku mengingatnya.

Hanya cerita untuk gadis itu. Tak lebih. Gadis itu entah bagaimana mengapa harus pergi ke pohon tempat mengadu kesedihan. Bukankah tak pernah ada kesedihan di balik bibirnya?

Hari sebelum dia pergi, dia sempat membeli pisau dan tali di pasar. Semua orang yang tahu kalau dia membeli pisau dan tali itu hanya untuk membuat penjemur baju di halaman rumahnya. Gadis itu tinggal sendirian, dan harus mengerjakan sesuatu sendirian pula. Jadi tak dapat disangkal kalau barang yang dibelinya itu untuk yang demikian, membuat tempat penjemur pakaian.

Apa karena tak ada yang membantunya membuat penjemur pakaian hingga dia bersedih lantas membawa peralatan itu ke bawah pohon? Atau dia sedih karena uang yang telah lama dikumpulkannya habis untuk membeli pisau dan tali? Mungkin pula gadis itu suka pada seorang pemuda, karena tak bisa mengungkapkan rasa sukanya dia bersedih dan pergi ke pohon? Ah, banyak sekali kemungkinan hingga mengapa dia ke pohon.

Atau tentang kematian? Dia tidak takut pada yang namanya kematian. Di suatu percakapannya denganku dia mengatakan, kematian tak lebihnya awal dari kehidupan sesungguhnya, yang lebih membahagiakan, katanya.

“Kalau hidup sudah semembahagiakan ini, apalagi setelahnya?”

Gadis tersebut mengatakannya dengan penuh antusias. Aku mengingat semuanya. Tawanya, lalu senyum yang buncah di sela-sela kalimatnya. Semua itu indah dan membahagiakan. Lantas apa dan di mana letak sedihnya?

Tentu dia sudah menjadi lahapan pohon karena tak sedih tapi bersimpuh di bawahnya. Sudah jelas demikian. Tapi selalu ada yang janggal. Bagaimana orang yang selalu bahagia masih sempat pergi ke pohon itu? Ditambah lagi gadis tersebut tahu kalau tidak dengan kesedihan mendalam, lalu pergi menceritakan kesedihan pada pohon, nantinya akan berakhir celaka. Hal mengerikan yang akan terjadi padanya.

Gadis itu, mungkin menceritakan kesedihannya seraya tersenyum. Karena pohon tahu tingkat kesedihannya yang tak mendalam, dia menghukumnya. Tapi tetap saja menjadi masalah, mengapa gadis itu melakukan kebodohannya.

Coba kukumpulkan kejadian-kejadian. Jauh sebelum kakek tua yang meninggal, pernah seorang bercerita kalau dulu ada orang yang mati setelah melakukan hal konyol demi mengintip kejadian-kejadian di pohon dekat kuburan. Karena takut yang sangat, orang itu mengintip di balik ketiaknya, memejamkan mata sedikit-sedikit. Lalu dilihatlah kejadian sesungguhnya. Orang itu menceritakan ketakutannya, lalu mati. Lalu, jauh hari sebelum kakek tua mati, seorang ibu-ibu mendapatinya berjalan menuju pohon tempat menumpahkan kesedihan. Beberapa hari setelah itu kakek tua mati. Satu dua kalimat dari orang yang melayat berbisik, mungkin dia telah menceritakan tentang apa yang diintipnya.

Sudah jelas, kakek tua itu mati karena mengintip dan menceritakannya, menurutku. Karena tidak ada sesuatu yang bisa mengalahkan ketakutan selain rasa penasaran. Ditambah lagi, dia mati setelah sehari sebelumnya menceritakan tentang pohon dan cara mengetahui kejadian orang menghilang padaku. Duh kakek tua, mengapa dia melakukannya.

Tentang gadis yang lenyap karena hukuman pohon. Tetap saja aku belum bisa merangkai kejadian penyebab dia demikian. Aku berusaha menceritakan semuanya agar ingatan yang bersambungan muncul.

Pernah gadis itu memandangku diam-diam. Saat melakukan percakapan pun, itu tidak terjadi satu atau dua kali. Gadis itu selalu saja bisa membahas sesuatu yang membahagiakan. Tentang lelucon dan apa saja yang bisa ditertawakan. Bahkan saat bercerita kematian, dia masih bisa menertawainya, mengubah kematian seakan-akan adalah pertunjukan yang lucu.

“Coba kau gelitik orang yang berbaring kaku itu, pasti dia akan terbangun karena tak kuat menahan geli,” ucap gadis itu.

“Ya jelas tidak akan bangun, kan sudah mati,” ucapku.

“Tidak ada orang yang mencobanya, andai ada pasti bangun.”

Setelah kalimat itu pecahlah tawa. Pernah suatu pula dia menertawakan orang yang sedang sedih, menggelitiknya, hingga orang yang bersedih itu tertawa geli. Atau pula pernah dia mengejek tetangga yang marah-marah pada anaknya dengan ejekan yang lucu. Ejekannya tak bisa ditiru, karena itu disertai mimik dan pengulangan kalimat marah-marah si tetangga dengan suara kecil yang segera membuat dada seperti buncah ingin tertawa. Tak ada kesedihan. Aku selalu memerhatikannya. Tapi perhatianku tentu sama seperti orang di tempat ini. Siapa yang tidak akan memerhatikan dia saat melucu?

Jawaban mengenai kelenyapannya di bawah pohon. Aku harus memastikannya dengan mengungkapkan kesedihan di sana. Anggaplah ini kesedihan yang amat sangat, atau karena penasaran dari hal tak masuk akal warga sekitar. Aku ingin membuktikan tingkat kesedihanku. Kesedihan yang datang dari rasa penasaran perihal gadis itu.

Lama aku merenung dan bercerita seperti yang kuceritakan tadi. Perihal gadis yang lenyap di bawah pohon dan tingkahnya yang membuatku seperti kehilangan. Panjang lebar kuungkapkan. Tapi belum juga terjadi apa-apa. Padahal aku tak begitu sedih, atau apalah. Ditambah, seharusnya aku bersedih perihal kematian yang akan segera datang karena sudah mengintip kejadian di bawah pohon lewat bawah ketiak. Itu pun kalau hal ketidaksengajaan dihitung sebagai mengintip. Jadi aku tidak mempermasalahkan aku akan mati setelah menceritakannya atau tidak. Itu pula mungkin yang membuatku berani mengungkapkan kesedihan yang tidak begitu sedih pada pohon. Gadis itu mengajarkanku dengan cukup menertawakan kematian, jangan menangisinya. Pohon belum juga menghukumku, menangkapku dengan akar-akarnya misal. Itu sangat aneh.

Tentang gadis itu, aku tak mau memikirkannya lagi, karena seperti ada rasa sakit mengingat kebahagiaan dan tawa yang dibuatnya lenyap. Aku pergi dari bawah pohon, menuju rumah dengan jalan yang mulai temaram.Di bawah pohon, aku tak mengeluarkan airmata. Tapi setelah melangkah pergi, semerta-merta ada yang jatuh membasahi lengan tangan. Kurasa langit mulai gerimis. Saat satu langkah lagi terayun, basah sebelah tangan yang lain terulang. Aku menyeka mata. Rupanya berjatuhan dari sana. Aku melihat bawah. Mata ini mendapati tali putih untuk jemuran dan pisau. Ada lumuran darah dari tali putih tersebut. Remang-remang dapat kukenali kalau itu darah.

Tali dan pisau, itu milik gadis itu. Entah, semerta-merta pikiranku menarik kesimpulan. Tali bisa saja mencekik leher dengan bergantung diri. Sedang pisau cukuplah untuk memutus urat-urat di bagian tubuh. Tidak mungkin gadis sebahagia itu ingin mengakhiri hidupnya.


“Lalu apa yang terjadi, Mat?”

“Yang terjadi berikutnya adalah kebingungan. Aku baru tahu bahwa di balik bibir yang selalu tersenyum tersimpan luka yang begitu dalam dan menyayat. Gadis itu tidak hanya sebatangkara, pernah juga dia diabaikan dan terasingkan. Tingkah konyol yang membuat tertawa semua orang adalah bagian dari pelampiasan dan balas dendamnya. Aku tidak tahu, ternyata dari kesedihannya yang panjang masih ada yang lebih menyedihkan.”

“Apa itu, Mat?”

“Tak bisa mengungkapkan dan menakhlukan kesendirian dengan berharap ada pendamping. Penolakan secara halus lebih menyakitkan dari sekadar tipu-tipu. Tapi, gadis itu selalu menipu dirinya, hingga suatu ketika tak kuat menahan tipuan rasanya. Kepiluannya yang sangat besar, membuat dia tahu dan mengerti kepiliuan orang lain. Itulah mengapa pohon tempat kesedihan mengambilnya, untuk sekadar mengamati kesedihan orang lain dengan senyum. Kau tahu, bukan? Orang yang sudah terbiasa dengan kesedihan, tentu orang itu dapat mendengar kisah paling menyedihkan seperti apa pun tanpa terbawa kesedihan. Mungkin itu yang terjadi pada gadis tersebut.”

“Lalu, Mat?”

“Kau janganlah terlalu banyak bertanya. Sudah kujelaskan dengan panjang lebar bercerita tadi tentang gadis itu. Juga tentangku, walau aku tak terlewat apa-apa di dalamnya.”

“Mat, Mat… jangan mati, Mat.”

Seorang lelaki yang berusaha membuat tegar sahabatnya untuk bertahan hidup menangis. Dia tahu bahwa sahabatnya itu sangat lama menyimpan rahasia perihal gadis yang selalu diceritakannya. Sahabat yang dipanggilnya Mat tak bisa bertahan lama. Mat ingin segera menyusul setelah menyelesaikan kisah tentang pohon dan perginya seseorang yang amat diharapkannya. Gadis yang tak ingin disebutkan namanya. []

Jakarta, 14 September 2017

Pohon Sedih
Click to comment

Komentar

To Top