Catatan Perut

Perkara Budaya Baca

Seorang teman bertanya tentang kiat membaca. Ia bolak-balik ikut pelatihan-pelatihan yang biayanya setara dengan biaya untuk hidup sebulan di Jogjakarta. Ia juga rajin ikut kuantum-kuantum yang merajalela di mana-mana. Hasilnya? “Saya tetap saja kurang bergairah. Malah sering dihinggapi rada malas membaca,” jawabnya.

Ketika saya tanya dalam sebulan ia mampu menghatamkan berapa buku, ia hanya menggelengkan kepala. Katanya pertanyaan saya keliru. Harusnya berapa halaman sebulan. Saya tercekat. Kasihan, sudah habis uang banyak tapi urusan baca buku tetap begitu-begitu saja.

Kepada kawan itu saya menjawab bahwa bangsa kita memang bangsa yang basis peradabannya bukan peradaban tulis, namun peradaban cangkeman alias oral. Budaya kita adalah budaya tutur yang mendasarkan diri pada hobi bercakap-cakap, bukan berserat-tulis.

Kondisi seperti ini menjadikan kita harus bertarung sekuat tenaga untuk bangkit dan bergerak menjadi pribadi yang harus melewati tiga fase melek huruf. Yakni, melek huruf teknis dengan tahu a-b-c-d, melek huruf fungsional dengan cara membaca sebatas pada apa yang menjadi tuntutan bagi penunjang pekerjaan kita, dan terakhir melek huruf budaya yang ditandai dengan posisi kita yang sudah mau membaca apa saja. Membaca bukan lagi dimaknai sebagai tuntutan, namun lebih dari itu membaca sudah menjadi kebutuhan.

Persoalannya tiga fase melek huruf tersebut menjadi semakin sulit jika basis kebudayaan kita adalah kebudayaan yang doyan omong. Di sinilah pangkal persoalannya. Kita adalah masyarakat tutur, bukan masyarakat tulis yang kesadaran tulis menulisnya sangat tinggi.

Ambil contoh misalnya untuk kasus yang remeh remeh saja: Indomie. Semua manusia yang pernah tumbuh dan berbiak di Nusantara, paling tidak pasti pernah mendengar, tahu, atau bahkan sebagian merupakan konsumen tetap Indomie. Mie instan ini sangatlah populer, bahkan sebagian warung menasbihkan dirinya sebagai warmindo: warung makan Indomie.

Sekali waktu saya pernah bertanya acak kepada sesiapa saja yang pernah mengaku makan Indomie. Pertanyaan saya, apakah mereka pernah membaca aturan cara memasak yang termaktub di bagian belakang bungkus Indomie? Hampir seluruhnya menyatakan tidak pernah membaca. Ketika saya kejar lagi, apakah mereka tahu di bungkus itu terdapat tulisan tentang aturan dan tata cara masak dan penyajian? Mereka menjawab tahu. Lalu mengapa mereka tidak membacanya? Sampai pertanyaan ini mereka tidak menjawab. Lalu saya sampai pada kesimpulan nisbi bahwa masyarakat kita bukan masyarakat yang memiliki budaya baca.

Kalau pertanyaan dan penelitian ini kita teruskan, maka kemungkinan akan menjadi lebih menarik. Akibat tidak membaca aturan masak dan penyajian, Saya mengamati setidaknya ada tiga metode memasak Indomie yang kerap dilakukan. Pertama, dengan cara memasak air di panci. Ketika air sudah mendidih maka Indomie dimasukkan berserta bungkusnya, tentu saja sebelum itu bumbu-bumbunya dikeluarkan. Metode ini, yakni memasak Indomie dengan sekaligus bungkusnya saya sebut sebagai metode celup. Cara membuatnya persis ketika akan membuat teh celup.

Kedua, ini bisanya dilakukan anak kos. Mereka menyalakan dispenser. Air yang seolah-olah mendidih (pseudo mungkal-mungkal) itu kemudian dituangkan ke dalam bungkus Indomie. Metode ini dimakan dengan metode rendem.

Ketiga, ini yang paling ekstrem. Metode ini saya temukan di kala saya masih di pesantren dulu. Santri-santri, dengan membawa Indomie tentunya, pergi ke tempat tukang Mie Ayam. Mereka menyodorkan Indomie kepada tukang Mie Ayam agar ‘diedit’. Beberapa menit kemudian, simsalabim, Indomie itu bertransformasi menjadi Mie Ayam ‘jadi-jadian’.

Demikinalah kenyatannya. Ketiga metode memasak dan cara menyajikan indomie itu tak akan pernah kita dapatkan dalam bungkus kemasan Indomie. Lalu, kepada teman yang bertanya soal resep membaca saya katakan “Percayalah, kemalasan (membaca) dan kebodohan di satu sisi memang menjengkelkan, namun di saat yang lain ia begitu menggemaskan dan membahagiakan”. []

Perkara Budaya Baca
Click to comment

Komentar

To Top