Celomet

Dari Cadar sampai Mendengarkan Musik, Sekarang Ada Aturannya

Perkara mahasiswi bercadar biarlah itu urusan institusi kampus yang memiliki otoritas mengatur tertibnya perkuliahan. Toh di kampus yang sama juga mahasiswi dengan rok mini tidak diijinkan. Atau mahasiswi dengan kaos u can see juga tidak pernah terlihat mondar-mandir di lingkungan kampus.

Masalah terbesar kita adalah usulan larangan merokok di mobil pribadi dan mendengarkan musik. Ini berlaku general. Tidak peduli kuliah di mana, kerja apa, agamanya apa, sukunya apa, berhidung mancung atau pesek, atau bahkan berambut gondrong atau botak.

Konon katanya biar fokus saat menyetir. Ambillah contoh kawan saya yang sudah menerbitkan sejumlah buku, jurnal, atau tulisannya langganan di media nasional, sebut saja Fārïz Alniézär dan Muhammad Nurul Huda. Hisapan rokok, dentuman musik, dan tegukan kopi lah yang membuatnya fokus menghasilkan karya. Ada juga yang sambil lalu mengunyah permen karet. Atau mungkin ada yang sambil ngelus paha selingkuhan di sampingnya. Untuk bisa fokus tiap manusia punya caranya masing-masing selama tidak mengganggu khalayak. Lalu di mana si “fokus” ini berada?

Mungkin kalau anda merokok di dalam mobil anda sendiri, lalu Anda tidak punya asbak portable sehingga membuangnya ke jalan maka jelas, anda merugikan khalayak. Kalau hanya asap yang membumbung ke angkasa, apa masalahnya? Toh asap sisa pembakaran dari kendaraan jauh lebih membunuh. Pernah dengar kan orang meninggal di dalam mobil yang menyala, kaca tertutup rapat, dan berdiam di satu lokasi dalam waktu berjam-jam? Ini akibat asap kendaraan yang menyelinap masuk ke dalam mobil. Toh tidak juga ada slogan di pom bensin “Pertamax Membunuhmu!”

Karakteristik mendasar dari negara totaliter adalah semua perkara hidup warga negara mesti diatur. Bukan kah ini sejenis gejala? []

Dari Cadar sampai Mendengarkan Musik, Sekarang Ada Aturannya
Click to comment

Komentar

To Top