Cerpen

Kode (Bukan) Seperti Biasanya

Cerita cinta nampaknya memiliki beribu episode dalam setiap tema ceritanya. Aku sendiri tidak tahu, saat ini sedang berada di episode berapa dan akan berakhir dengan cerita yang seperti apa. Tidak pernah sesekali aku membayangkan cerita yang buruk akan semua kisah ini. Meski aku terkadang membenci pasangan ku kala itu, harapanku pada akhir cerita adalah bahagia. Meski aku yang harus melihat kebahagiaannya terlebih dahulu, sebelum mereka melihat kebahagiaanku. Ya, semua masa laluku. Semua lelaki yang pernah menajdi judul episode dalam kisah yang katanya adalah cinta itu. Satu per satu dari mereka sudah memiliki cerita akhir yang menurutku bahagia. Aku sama sekali tidak peduli, setinggi apa kebahagiaan mereka atau seburuk apakah kisah sedih mereka. Aku sudah tidak peduli.

Ketidak pedulian ini berawal dari sebuah rasa ingin tahu yang sangat tinggi tentang semua eposide laluku. Setelah melihat, bagaikan seorang detektif, aku menguntit perjalanan mereka. Ah, rupanya sudah baik-baik saja dan nampaknya aku sudah dianggap tertelan di bumi. Rasanya sudah tidak adala lagi Lili yang mekar. Lili yang menghiasi meja makan mereka, masa lalu. Aku berfikir bahwa, aku adalah Lili yang melayu. Semenjak itulah, aku berani untuk menggugurkan semua kelopakku hingga aku menjadi biji Lili yang baru kembali. Benar saja, pepatah yang selalu berbisik padaku “gugur satu tumbuh seribu” begitu pula dengan episode cinta Lili. Berkali-kali aku gugur, kini aku mendapatkan sebuah buku baru dengan judul yang sangat menggoda untuk aku baca.

Aku membuka lembar cerita baru lagi, tapi ini bukan cerita tentang cinta. Aku hanya ingin menuliskannya dalam sebuah buku kosong, tentang bagaimana perjalananku mengejar seorang Adam. Sosok lelaki yang berhasil menyihirku dengan gaya bahasanya, ketika aku bertemu dengannya beberapa bulan silam. Kelembutan dan ketenangannya dalam berbicaralah yang menyihirku agar membeli buku cinta. Episode demi episode yang lalu aku sering berjuang agar lelaki yang sedang aku incar, bisa ngobrol dan berbicara denganku dalam jangka waktu yang tidak singkat. Bukan dengan balasan chat singkat atau hanya bentuk sopan santun saja ketika aku sedang bersamanya. Adam, seorang lelaki yang nampak dewasa dan berpenampilan rapi. Pemikirannya cerdas dan mandiri.

Episode ini dimulai dari ketika ia mengajakku makan malam. Awalnya makan malam berdua ini dilatar belakangi oleh berkas kerjanya yang tertinggal dalam tasku beberapa waktu silam. Berkas ini hendak discan dan dikirimkan ke suatu email karena ada urusan pekerjaan. Bagiku, hal ini mudah dan tidak merepotkan. Alhasil, akulah yang membantu Adam dalam menyelesaikan urusan tersebut, hingga berujung pada sebuah makan malam bersama. Tentu saja aku tidak memiliki pikiran apapun, baik suka atau hal-hal yang ingin kulakukan agar Adam juga tertarik padaku. Kala itu, justru hal sebaliknya. Justru akulah yang tertarik dengan Adam. Bukan dia yang tertarik denganku. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu, apakah Adam mengetahui akan perasaan hatiku saat ini. Karena selama ini, sampai saat ini, akulah yang selalu terlebih dahulu menanyakan kabar padanya. Meski hanya basa-basi, aku berharap akan berlangsung percakapan yang menyenangkan dan tidak habis untuk dibicarakan. Sama seperti episode laluku, ketika aku sedang terarik pada seorang lelaki. Baik aku atau dia dulu yang menanyakan kabar, aku harap percakapan ini tidak berlangsung dalam hitungan menit selesai. Tapi berujung dengan “Sudah malam, besok disambung lagi ya”.

Aku tidak tahu, apakah daya kreativitasku berkurang saat aku chat dan bertegur sapa dengan Adam. Sangat menurun, jika dibandingkan dengan aku ngobrol langsung dengan Adam atau jika dibandingkan dengan episode laluku. Episode dimana aku berhasil menyihir jari lelaki agar saling bertukar kabar dan bertukar cerita. Meski hanya cerita kecil atau cerita yang sama sekali tidak penting. Sihirku gagal pada sosok Adam. Sihir dimana yang aku anggap sebuah kode yang memiliki arti “aku ingin ngobrol, chat, dan bertukar kabar denganmu, wahai Adam, datanglah padaku dan bawakan aku dongenaganmu yang tak pernah aku bosan mendengarnya”. Sayangnya, semua basa-basiku adalah basi yang layak untuk dibuang dan tidak disentuh satu kalipun. Hanya itulah, kata yang tepat untuk aku ucapkan dalam perjuangaku memikat hati Adam.

Aku merasa, ia sama sekali tidak tertarik untuk bercakap denganku, apalagi menjadi pendampingku. Benar memang, aku sangat sulit sekali memilih hati lelaki dan melihat mana hati yang jujur dan hanya ada maunya saja. Aku berfikir semua pertemuanku dengan Adam semua chat dan percakapanku dengannya, adalah sebuah kode yang bukan seperti biasanya. Kode yang aku pikir sangat mudah untuk dipecahkan dan aku berhadap kode ini bukan sembarnag kode. Karena aku mengenal Adam bukan karena disengaja. Hingga pada akhirnya antara semangatku mengejarnya kalah dengan rasa takutku yang lebih besar. Saat ini, aku memutuskan untuk menjaga jarak dengan Adam dan tidak akan mengawali pembukaan percakapan yang aku inginkan seperti yang lalu. Aku pun tidak akan menjawan dengan imbuhan emot ikon senyum bahagia ketika aku bercakap dengannya. Layaknya bunga Lili yang putih, kini aku sudah bercorak dan bercampur dengan warna lain. Kini Lili dan Adam sudah berjarak dan tidak ada pengejaran Lili mengejar Adam dalam sebuah kode.

Hingga pada akhirnya, di suatu hari.

“Nak, silakan dilihat dulu cincin dan gelangnya. Aku rasa kamu akan cocok jika memakai gelang warna perak bercorak emas ini. Bandulnya berlambang daun maple. Sangat cocok dengan auramu saat ini.” Kata perempuan tua di area Kota Tua, Jakarta. Aku sontak terkejut dengan perkatan nenek, darimana ia bisa mengetahui pikiranku sedang gugur dan aku sangat suka dengan daun maple. “Kau tidak perlu cemas nak, lihat saja dulu. Mungkin ada corak lain yang ingin kau lihat. Coba lihatlah ada cincin bercorak salju. Mungkin juga cocok utuk jarimu saat ini.” Sambung nenek lagi. Pikiranku hanya sebatas, ia hanyalah penjual yang sedang memanggil pembeli dengan cara mencocokan aura. Tetapi, aku berbalik arah dan menuju pada nenek, ketika ia berkata, “Nak, aku memiliki gelang yang unik. Layaknya sebuah cahaya, cahaya ini akan memberikanmu sebuah petunjuk dalam keganduhan hatimu ketika berpuisi tentang Adam di episode barumu ini. Tidakkah kau tertarik dengan daganganku ini nak?”

“Nenek, kenapa menawarkan dagangan dengan cara seperti itu? Apakah yang nenek katakan ini, sesungguhnya untukku? Atau sebenarnya nenek ingi bicara denganku?” kataku pada penjual gelang tersebut. “Hahahaha, nak. Nenek pernah berada diumurmu saat ini, nenek tahu bagaimana persaanmu saat ini. Ketika nenek menawarkan barang ini dan kau terkesima. Tenanglah, ini hanya jualan nenek saja. Apakah kau tertarik membelinya?” ucap nenek singkat. Aku terpaku dan memandangi nenek penuh dengan tanya.

“Gelangnya bagus nek, tapi aku tidak tahu mana yang cocok denganku. Maukah nenek memberiku pencerahan?” kataku.

“Semuanya cantik kan. Kau pilih saja yang kau suka. Atau kau ingin ada yang memilihkannya untukmu?” kata nenek sambil berdiri dan menekatiku.

“Aku tidak bisa memilih gelang yang tercantik diantara semua keindahan ini Nek.” Sahutku pada nenek.

“Aku juga tidak tahu Nak, melihat bagaimana kerasnya hatimu saat ini. Janganlah kau ambil cuek lelaki yang dahulu sangat kau inginkan dan seorang lelaki yang berhasil merubah paradigma mu akan putus harapan. Aku tahu nah, dia berhasil menyihirmu keluar dari pikiran gelapmu kala itu. Kesalahanmu hanyalah satu Nak. Kau terlalu terburu-buru. Maka dari itu, kau tidak menikmati indahnya perjalanan ketika kau sedang menggunakan hak tinggimu. Maksud nenek adalah, ketika kau berjalan dengan hak tinggi. Seharusnya kau hati-hati agar tidak terjatuh. Begitu pula dengan seroang Adam yang kau anggap ia tinggi. Kau harus perlahan, tapi kenapa kau sekarang tidak berjalan Nak? Kau justu malah berhenti di depanku dan ingin membeli gelangku.”

Tiba-tiba, datanglah seorang lelaku di samping nenek, ia berkata “Nek, sudah adakah pesananku? Gelang dengan untaian daun maple?” aku hanya tertunduk dan tidak menolehkan muka kearah suara itu.

“Gelangnya sudah nenek siapkan, tetapi sepertinya gadis ini juga menyukainya. Aku harus bagaimana? Ia memegang gelang tersebut dan sepertinya hendak ingin membelinya juga. Aku hanya membuatnya satu saja. Jika kalian mau berdiskusi, silakan. Akan aku tinggalkan kalian.” Kata nenek.

“A.. nenek. Tidak perlu, jika ini sudah ia pesan. Aku tidak membelinya tidak apa. Aku memilih yang lain saja tidak apa Nek,” kataku.

“Lili?” kata lelaki itu. Sontak pun aku menolehkan muka ke arahnya, ternyata ia adalah Adam. Rupanya ia yang memesan gelang ini, dengan sikap biasa dan sedikit kasar aku memberikan gelang tersebut pada Adam. “Maaf, saya telah lancang dengan merebut gelang ini. Saya tidak tahu, jika gelang ini adalah pesanan.” Kataku.

“Benar, kau memang lancang. Gelang ini sudah aku pesan lama dan ingin aku berikan pada seseorang yang sangat berarti untukku. Karena kau, aku hampir kehilangan gelang ini. Aku hampir saja, tidak tahu bagaimana aku merebut hatinya kembali dan meminta maaf atas perlakuanku padanya, kala itu.” Kata Adam dengan kasar.

“Ya. Hampir kan. Bukan sudah. Saya permisi.” Kataku sambil meninggalkan nenek dan Adam. Tetapi Adam menarik tanganku, “Tunggu dulu. Kau harus bertanggung jawab atas tindakanmu itu.” Katanya.

“Maaf, itu bukan urusan saya. Toh saya tidak membelinya.”

“Bukan masalah kau membelinya atau tidak. Gara-gara kamu, ia sedikit kesal denganku. Karena kau menyentuh gelang yang akan ku berikan untuknya.”

“Kamu datang sendiri kesini, bagaimana dia bisa tahu.”

“Tentu saja, ia sedang melihat dari sana. Di balik café itu.” Kata Adam sambil menunjuk sebuah café. “Kau harus ikut denganku dan menjelaskan semuanya.”

Adam mengucapkan terima kasih pada nenek dan memberikan upah atas jasanya. “Uangnya banyak sekali Nak. Ini berlebihan.” Kata nenek. “Tidak nek, justru ini aku rasa masih kurang atas semua jasa nenek, termasuk hari ini.” Kata Adam.

Sesampainya di café, aku tak melihat seorang perempuan yang mungkin sedang menunggu seseorang, tapi Adam tidak mengajakku ke arah sana, ia justru mengajakku di tempat dekat jendela. “Kau harus menjelaskan semua ini, dan memakai gelang ini. Baru aku akan memaafkanmu karena hampir merebut gelang ini.”

“Mana wanita itu?” tanyaku. Sambil memakai gelang tersebut dengan harapan lekas pergi dari café.

“Ada di sini. Aku ingin menaikah dengannya. Tapi aku takut, ia menolakku karena ia mengira aku tidak tahu, jika ia menyukaiku. Aku diam dan membisu padanya karena aku malu dan aku tidak tahu harus bagaimana. Perasaan yang berbeda ketika aku melihat….” Perkataannya aku potong, “Aku bertanya. Mana wanita itu.”

“Kau mau menjelaskan semuanya, jika ini hanya salah paham?”

“Ya.”

“Oke, dia ada di depanku saat ini. Memakau baju warna oranye.”

“Mana?”

“Kau, Lili.” []

Kode (Bukan) Seperti Biasanya
Click to comment

Komentar

To Top