Celomet

Perempuan, Media, dan Dorongan Seksual

Berulang kali di setiap kesempatan diskusi di Equality Institute, Faiz Mao laki-laki yang mengaku feminis sekaligus dewan penasihat selalu menekankan bahwa berbicara tentang perempuan bukan hanya berbicara ini perempuan dan itu perempuan. Tapi lebih daripada itu. Kita sedang akan berbicara masalah kemanusiaan. Jadi ketika ada yang tertindas berjenis kelamin perempuan, bukan keperempuanannya yang tertindas. Akan tetapi harga dirinya sebagai seorang manusia.

Media adalah salah satu alat yang bisa digunakan oleh manusia dengan berbagai macam maksud dan tujuan. Ada yang menjadikannya sebagai penggerak kemanusiaan, ada yang menjadikannya sebagai ladang mencari pahala dengan cara berdakwah, ada juga yang menjadikan media sebagai ajang meningkatkan ekonomi, dan masih banyak yang lainnya.

Dari kesekian banyak kita melihat media dari sisi kealtruisan diri kita masing-masing sebagai penikmat media, tentu ada sisi kecurigaan akan terjadinya indikasi kepentingan-kepentingan yang pada akhirnya menjatuhkan pihak lainnya. Entah itu dari media audio, visual, audio visual, dan lain-lain. Kenapa saya katakan demikian? Karena berbicara media, tidak akan lepas dari sisi kepentingan kapitalistik ekonomi.

Dalam hal ini, perempuan dijadikan sebagai objek untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Intinya perempuan masih diberi legitimasi sebagai perayu dengan berpakaian seksi dan minim. Tidak ada yang salah sebenarnya dari wanita yang ingin berpakaian seksi, minim, atau semacamnya. Dan memang tidak perlu ada yang disalahkan selama kita masih memegang konsep akan kebenaran. Yang menjadi pusat perhatian dari kaum feminis adalah melihat posisi perempuan dalam dimensi media. Sekali lagi, perempuan berpakaian terbuka bukan yang menjadi duduk permasalahan. Tapi ketika perempuan dijadikan sebagai objek untuk menarik perhatian, dijadikan ikon penjualan, dan menjadi pemuas nafsu seksual daring maka di sinilah letak ketimpangannya.

Perempuan hanya dijadikan sebagai senjata untuk menghindari fluktuasi pendapatan ekonomi. Maka tidak heran jika di media iklan, sinetron, film, dan sebagainya selalu menjadikan perempuan sebagai ikon. Bahkan terakhir diskusi Equality Institute, 9 Maret 2018 membahas iklan kondom laki-laki yang menjadikan perempuan sebagai salah satu modelnya. Begitu juga iklan-iklan rokok. Hampir keseluruhan menggunakan perempuan berpostur badan tinggi, kulit bersih, hidung mancung sebagai model. Tapi ada satu iklan yang menarik. Iklan “Buka Lapak” yang menjadikan perempuan sebagai model. Tapi berpakaian biasa saja, tidak terlalu cantik, dan sudah berumur kisaran 45 tahun ke atas. Tapi kenapa ibu tersebut yang menjadi model iklan jika ia tidak memenuhi syarat demikian? Ya! Ibu-ibu dalam hal ini perempuan acap kali dianggap sebagai makhluk yang mempunyai hobi belanja.

Menurun dari segi kekhawatiran kaum feminis, kita juga tidak boleh menafikan psikis perempuan terhadap tawaran media yang melilit tanggung jawab perempuan. Permintaan media yang menjadikan perempuan sebagai objek bisa jadi menimbulkan persaingan baru antar perempuan itu sendiri. Dari sini, akan muncul persaingan untuk menghalalkan segala cara. Saling menjatuhkan antar perempuan. Yang nantinya akan melebar hingga ke cara mereka berpakaian, pendapatan dari kontrak kesepakatan, dan semacamnya yang jatuhnya akan menimbulkan gangguan kecemasan. Kita tidak ada yang tahu bagaimana pengendalian diri masing-masing individu bukan?

Begitu pun jika menarik kembali dengan menggunakan interpretasi perspektif psikoanalistik. Bahwasanyanya memang benar adanya menurut teori Male Gaze Laura Mulvey (1975) jika kita melihat fakta perempuan di media sudah dikonstruksi oleh laki-laki, dilihat oleh laki-laki, diatur oleh laki-laki, dinikmati laki-laki. Perempuan sudah kurang mampu lagi menyadari bagaimana cara berpikir dan aksi perempuan di media cenderung didorong oleh faktor emosional dan psikologi dari dalam sering berada di luar kesadaran perempuan itu sendiri yang ingin menunjukkan keakuannya. ketika perempuan menampilkan dirinya di media, perempuan tidak menyadari bahwa dirinya sudah dijadikan sebagai objek seksual. Begitupun laki-laki, tidak menyadari terkadang melihat perempuan memberikan dorongan seksual. Ini yang disebut oleh Sigmund Freud, bahwa manusia seringkali tidak menyadari dorongan-dorongan dalam dirinya yang berasal dari libidonya sendiri.

Terakhir penulis ingin menyampaikan bahwa ada yang tidak beres dalam kehidupan kita sebagai manusia yang menghargai manusia yang lain. Penulis juga tidak dapat berbuat apa-apa jika memang perempuan menyetujui atau justru mengamini posisi mereka sebagai objek seksual belaka di media. Memang, di media perempuan seolah-olah bebas dari keterkukungannya yang keluar dari dapur, sumur, dan kasur. Tapi justru perempuan melupakan bahwa posisinya di dunia media tidak lebih baik di dalam ruang-ruang domestik. Maka untuk menghindari konstruksi tersebut, ada baiknya kita membenarkan saran kaum feminis radikal-kultural. Perempuan tidak harus keluar dari tanggung jawab dan kodratnya sebagai manusia berjenis kelamin perempuan jika ingin disebut sebagai manusia yang ideal. []

Perempuan, Media, dan Dorongan Seksual
Click to comment

Komentar

To Top