Celomet

Jazz dan Wayang Kulit dari Tuhan

Hari kamis (08/03) lalu, saya iseng hadir di tempat Komunitas Jazz Kemayoran (KJK). Hadir hanya untuk menonton KJK mengasah skill yang dibimbing oleh Beben Jazz. Kadatanganku untuk membunuh rasa penasaran bagaimana jazzer berlatih, yang menurut saya unik tidak seperti musik lainnya. Kira-kira lebih rumit dari musik koplo menurut saya.

Di sini saya menemukan latihan skill yang tidak hanya mengembangkan skill. Sebagai pembimbingnya, Beben Jazz, melatih anggota KJK, baik yang baru maupun yang sudah lama dengan elegan, mudah dipahami.

Saya menemukan proses pembelajaran pada musik yang ternyata tidak jauh berbeda dengan ‘pola kehidupan’ sehari-hari. Saya mengira, orang berlatih musik jazz hanya akan membahas not balok, kunci gitar, atau do re mi fa sol.

Mas Beben menjelaskan bahwa pemain jazz itu seharusnya seperti gerombolan orang yang nongkrong di warung kopi, bebas ngobrol kesana-kemari sesuai kehendaknya masing-masing. Tetapi semua bisa mengikuti alur dari obrolan yang berlangsung.

Kenapa main musik jazz seperti itu? Tidak seperti halnya pop, rock, dangdut, dan sebagainya?

Jika anda suka nonton pagelaran wayang kulit, anda bisa membandingkannya. Wayang kulit itu yang memainkan wayang dan efek suara khasnya thuk thuk thuk adalah dalang, sedangkan musik lainnya yang begitu banyak dimainkan pemain lain. Di sini kita bisa melihat kombinasi, konsentrasi, saling pengertian, saling melengkapi dan sebagainya. Entah bagaimana komunikasi dalang dengan pemain drumnya saat ia harus membunyikan efek suara yang sesuai dengan gerak wayang.

Saya berfikir permainan musik jazz dan pagelaran wayang kulit ini membutuhkan kemampuan, rasa pengertian, konsentrasi, improvisasi, keselarasan dan lainnya agar pertunjukan ini berlangsung dengan baik bisa dinimati penonton.

Kata Mas Beben begini, “Setiap pemain harus ngerti tema yang dimainkan, tidak sekedar mengiringi supaya bisa tetap nyambung. Misal jika ada yang sedang bermain, maka yang lain bisa mengikutinya.”

Mantra inilah yang menurut saya seolah-olah tidak ada yang salah satu-dua ketukan yang mungkin bisa ditemukan oleh pemain ataupun pemerhati jazz.

Tiga hal yang telah saya sebut ini yang menurut saya seperti halnya kehidupan sehari-hari. Pertama, Anda mungkin pernah ngobrol dengan orang yang tidak paham sama sekali dengan yang anda bahas, sehingga anda gagal ngobrol, tetapi malah sedang ceramah atau orasi. Akhirnya anda akan ‘mati kutu’ sendiri ketika habis bahan ceramah.

Kedua, misalnya saat wayang dimainkan sedang ada adegan perang. Pemain yang bertugas memberikan efek suara telat memainkan alatnya hingga sudah berganti adegan baru ia mainkan. Ya….. selanjutnya penonton yang menilai.

Ketiga, saat pemain jazz ada yang jamming, maka yang lain harus menyesuaikan. Jika yang lain tidak mengerti dan mengetahui kapan ia harus menyesuaikan, akhirnya penonton yang memiliki hak prerogatif menilai.

Ketentraman, kedamaian, dan harmoni yang dibutuhkan oleh setiap individu dalam menjalani kehidupan sehari-hari, menurut saya tidak akan dirasakan jika antara orang satu dengan lainnya yang masih dalam satu lingkungan tidak saling memiliki rasa pengertian, kekompakan, saling melengkapi, dan sejenisnya. Misal saja ketika ada pertemuan tingkat RT setiap awal bulan. Si A tidak bisa hadir karena bersamaan dengan ia harus masuk kerja pergantian shif. Jika Si B, C, D, Z tidak mau mengerti maka bisa mengakibatkan kebencian dan perselisihan.

Akhirnya, keselarasan, harmonis, keindahan, adalah sesuatu yang memang diinginkan dalam kehidupan bermasayarakat. Seperti halnya yang diinginkan oleh jazzer dalam aksi, wayang kulit saat dipergelarkan. Sehingga dengan keduanya bisa saling melengkapi untuk menikmati kehidupan dan karunia Tuhan kita bisa merasakannya. []

Jazz dan Wayang Kulit dari Tuhan
Click to comment

Komentar

To Top