Resensi

Fariz Alniezar Menggugat Bahasa Kekuasaan

Buku yang tengah kita diskusikan pada malam hari ini (28/2) berjudul Problem Bahasa Kita, Kritik Bahasa dari “Iwak Pitik” sampai “Arus Balik” (terbit tahun 2017 oleh Penerbit Kaktus, Yogyakarta). Buku setebal 186 halaman ini hadir di tengah-tengah kita pada saat yang pas dan ditulis oleh orang yang tepat. Saat yang pas karena buku ini mengingat kembali bahwa Bahasa Indonesia yang kita gunakan (masih) mengalami babak-belur oleh aneka sebab;  dan orang yang tepat karena pengarangnya, Saudara Fariez Alniezar, adalah seorang sarjana linguistik yang memahami benar masalah-masalah filosofis dan sosiologis yang dihadapi oleh objek kajian yang digelutinya.

Masalah-masalah yang dibahas dalam buku ini dinarasikan oleh pengarangnya secara nakal namun jitu, dengan bahasa yang lincah namun jenaka. Saudara Fariez Alniezar menggunakan otoritasnya secara baik untuk menelanjangi cara berbahasa kita yang bukan hanya kusut tapi juga menggugat bahasa Indonesia sebagai arena pergulatan kekuasaan oleh aneka pihak dimana makna-makna hidup dan konsep diri dipertarungkan.

Ada 2 bagian presentasi yang mau saya utarakan pada malam hari ini. Dalam bagian pertama saya akan mengemukakan pokok-pokok gugatan Saudara Fariez Alniezar terhadap penggunaan bahasa Indonesia oleh manusia Indonesia dan terhadap bahasa Indonesia resmi/baku. Dalam bagian kedua saya akan mengemukakan suatu gagasan tentang bahasa sebagai alat transformasi sosial.

Bagian I: Gugatan-gugatan pengarang

  1. Gugatan terhadap antroposentrisme

Antroposentrisme adalah suatu pandangan bahwa manusia adalah entitas yang paling penting dalam semesta; ia pusat dari segala-galanya di dunia. Pandangan antroposentrik memandang dan menginterpretasikan dunia menurut pengalaman, kepentingan dan nilai-nilai manusia. Dan antroposentrisme manifes di dalam bahasa kiasan.

Penggunaan kiasan amat lazim dalam berbahasa. Misalnya mengkiaskan perilaku benda atau tumbuhan dengan perilaku manusia. Contoh: ”nyiur melambai”, ”gunung Semeru mulai tidak ramah”, dan lain-lain. Tetapi pengarang buku ini menggugat suatu penggunaan kiasan yang menyamakan perilaku buruk manusia dengan perilaku alamiah binatang. Misalnya judul berita yang tertulis: “Koruptor hari ini makin menggerogoti sendi-sendi Negara”.

Dalam esai berjudul “Fabelisme dan Binatangisme” (hal. 54-56), pengarang menolak judul tersebut karena kalimat ”Koruptor hari ini makin menggerogoti sendi-sendi Negara” adalah manifestasi penghinaan manusia kepada binatang. Judul tersebut menyamakan perilaku korupsi manusia dengan perilaku tikus yang menggerogoti sesuatu. Asumsi pengarang adalah bahwa binatang tak serakus manusia; meskipun menggerogoti sesuatu, binatang tak serakus manusia, tikus tak sehina para koruptor

  1. Gugatan terhadap pemaksaan konsep diri lewat bahasa

Dalam esai berjudul ”Bidah” (hal. 21-25), pengarang menggugat arti bidah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Bidah adalah kata serapan dari bahasa Arab yang dalam KBBI dimaknai: (1) ”kebohongan dan dusta”; (2) ”pembaharuan ajaran Islam tanpa berpedoman pada Al-Quran dan Hadis”; dan (3) ”perbuatan atau cara yang tidak pernah dikatakan atau dicontohkan Rasulullah atau sahabatnya, kemudian dilakukan seolah-olah menjadi ajaran Islam”.

Pengarang menolak arti yang demikian itu. Sebaliknya ia berpendapat bahwa bidah dalam bahasa Arab berarti ”kreativitas”. Dengan demikian, ada perbedaan yang amat besar antara makna bidah yang disediakan KBBI dan makna sebenarnya kata bidah dalam bahasa Arab.

Saudara Fariez Alniezar nampak menyadari benar bahwa kesadaran dan pikiran manusia manifes dalam, dan membentuk, praktek. Juga, secara dialektis, praktek manusia mewakili dan membentuk kesadaran. Dengan memberi arti bidah sebagai ”kebohongan dan dusta”, penyusun KBBI bukan hanya memberi arti kata tersebut secara tak memadai dan keliru;  tetapi ia juga ingin mendikte komunikasi dan membentuk kenyataan, dengan cara membentuk ulang, menundukkan atau bahkan merontokkan, konsep diri, identitas dan keyakinan keagamaan para pengguna bahasa tersebut.

Bagian II: Bahasa sebagai sarana emansipasi dan  transformasi

Fungsi bahasa (dan secara umum symbol) terutama adalah sebagai alat berkomunikasi, yang berdasarkan konsensus simbolik memungkinkan terjadinya interaksi sosial. Dalam interaksi social kita berharap suatu kehidupan yang segar dan benar-benar hidup terlahir kembali, yakni kehidupan kebudayaan kita yang lebih emansipatif dan manusiawi yang, saya yakin, juga menjadi bagian dari tujuan akhir pengarang buku ini dalam melancarkan gugatan-gugatan di atas. Melalui bahasa, dengan demikian, kita dapat melakukan aksi emansipasi dan transformasi.

Menurut hemat saya, bahasa dapat menjadi sarana emansipasi dan transformasi manakala ia tidak sekadar berfungsi untuk mengekspresikan pesan pikiran dan kesadaran, tapi juga alat komunikasi dan medium aktif untuk transformasi. Suatu bahasa dan penuturnya dapat menjadi kekuatan transformatif bila mengandung:

  1. Kebenaran fiduciary, bahwa penutur bahasa itu sendiri layak untuk dipercaya oleh semua pendengarnya
  2. kebenaran evidensial, bahwa penyajian bahasa didukung argumentasi yang masuk akal dan konsisten
  3. kebenaran ekspresif-referential, bahwa bahasa yang disampaikan punya rujukan objektif dalam kenyataan; dan
  4. kebenaran alethik, bahwa penutur bahasa menyatu dengan kebenaran pernyataan-pernyataan yang dibuat beserta rujukan objektifnya via tindak-tutur (speech-act).

Di tengah badai hoax dalam atmosfir kehidupan sehari-hari kita dewasa ini, kita perlu mendayagunakan seluruh kekuatan transformatif bahasa. []

Jakarta, 28 Februari 2018

Sebelumnya, tulisan ini pernah dimuat di alif.id dengan judul yang sama

Fariz Alniezar Menggugat Bahasa Kekuasaan
Click to comment

Komentar

To Top