Cerpen

Senja di Balik Sekolah (Bag. 1)

Namaku Aisya, usia 29 tahun bekerja sebagai Editor setelah 6 tahun jadi reporter. Setelah bertahun-tahun hidup di kota besar yang untuk bernafas aja kita harus saingan, akhirnya bulan depan aku bisa kembali pulang ke kampung halamanku di Solo. Kota yang ngga pernah neko-neko itu mungkin sudah banyak berubah.

Solo, kota yang penuh keramah tamahan penduduknya. Kota yang macetnya ngga separah ibu kota. Kota yang pada akhirnya menyimpan kenangan buruk yang sebenarnya ngga ingin ku ingat kembali.

Setelah enam tahun menaklukkan ibu kota, Pak Dahlan dengan sukarela mengirimku kembali ke tempat dimana aku tumbuh dan besar.

Rasanya tidak sabar. Sudah sangat rindu dengan suasana pagi jalanan Slamet Riyadi yang lengang. Serabi Notosumo yang rasanya selalu khas dan Selat Vienns yang selalu ramai.

Apa kabar mereka ?

Tak lupa teman-teman guruku di SMK Batik Nusantara dan murid-murid yang ada di sana. Beberapa sudah ada yang merantau menyusulku ke kota ini. Beberapa bahkan ada yang sudah mendahuluiku pergi ke Negeri Matahari Terbit itu.

Aku ingat, tujuh tahun lalu ketika aku sedang jajan es buto ijo di depan sekolah itu. Seorang murid terkesan melihat jaket almameter berlogo bendera Jepang yang aku kenakan. Dia sempat mengira aku ini seorang TKI. Geli rasanya jika teringat peristiwa itu. Tapi siapa sangka jika pertemuan tak sengaja dengan bocah bernama Tegar itu telah mengubah semuanya dalam hidupku.

Lalu kamipun secara tak sengaja sering bertemu di kedai es itu. Karena memang sejak kuliah aku senang jajan di sana. Sambil menikmati suasana sore yang teduh di kota Solo. Menyaksikan ratusan siswa yang keluar dari pintu gerbang SMK Batik Nusantara.

Ah, apa kabar Tegar sekarang ? Sejak aku memutuskan untuk pindah enam tahun lalu dia terlihat sangat marah kepadaku. Dia tidak pernah lagi menghubungiku. Tak seperti murid-murid yang lain. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya, tapi tak pernah ada jawaban.

 

Ya, mungkin dulu aku egois. Tapi aku merasa meninggalkan kota Solo adalah yang paling tepat. Tegar tak akan memahami jika aku menjelaskannya pada hari itu. Yang lebih membuat Tegar kecewa adalah karena menurutnya aku selalu menganggapnya masih kecil. Ya, setidaknya keadaannya memang begitu. Tegar hanya bocah kelas 2 SMK dan aku? Aku adalah senseinya. Aku gurunya.

April, 2006

Aku lulus dari sekolahku. Tak seperti sekolah formal lainnya, Abi menyuruhku belajar di Sekolah berkurikulum islami yang patokan bulannya menggunakan bulan-bulan islam. Tahun ajaran baru di sekolah kami adalah setiap pergantian tahun baru islam. Setelah mendapatkan hafalan 5 juz, aku bisa menyusul Akbar yang lebih dulu lulus pada periode sebelumnya. Pada bulan berikutnya kamipun mengikuti bimbel untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi negeri. Biarpun Abi adalah seorang pemilik pesantren, aku tetap ingin bersosialisasi di dunia ini. Sejak kecil aku tak pernah merasakan pendidikan formal di sekolah biasa. Maka aku meminta izin kepada Abi agar mengizinkanku untuk kuliah setelah lulus dari Aliyah. Dengan dalih, ada Akbar dan juga Husein ke dua sahabatku yang akan menemani.

Husein dan Akbar adalah sahabatku di kampung sejak kecil. Ada juga Rin dan Ahmad. Tapi mereka telah lebih dulu merantau. Sesungguhnya aku iri pada Rin yang bisa lebih bebas melihat dunia ini. Abi selalu mengajarkanku bahwa anak perempuan tidak boleh pergi jauh-jauh tanpah muhrim. Yang dalam hal ini adalah ayah kandung, kakak kandung ataupun suami. Beranjak dewasa Abipun mulai membatasi pertemuanku dengan Akbar dan Husein. Tapi sejujurnya, Abi sudah menganggap Akbar dan Husein seperti anak kandung sendiri. Jadi Abi tak lagi begitu mempermalahkan jika aku pergi dengan mereka.

Sejak dulu, aku selalu menyukai dunia Jejepangan. Aku selalu senang jika Abi mendapat undangan dakwah di sana. Kata Abi kehidupan muslim di sana sangat keras. Jadi dia tak mengizinkanku untuk pergi kuliah ke sana. Abi malah menyuruhku kuliah di Madinah karena ada kerabat di sana. Tapi aku masih mengurungkan niat itu.

Akhirnya aku diterima di salah satu kampus swasta dengan jurusan Sastra Jepang. Rasanya senang sekali mempelajari bahasa ini. Menurutku, Jepang adalah orang-orang dengan kebudayaan yang unik. Tapi aku salut dengan kedisiplinan dan budaya malu yang hidup di sana. Berbeda dengan orang-orang di negara yang mayoritas muslim ini. Rasa-rasanya mereka sudah tidak memiliki rasa malu lagi.

Akbar dan Huseinpun berada di satu kampus yang sama denganku. Tapi kami beda jurusan. Akbar di jurusan keguruan dan Husein di jurusan teknik. Meski tak lagi sering, tapi kami masih menyempatkan waktu untuk bertemu.

Kedua jagoanku ini, sejak dulu selalu menjadi idola kaum hawa. Apalagi Akbar. Selain karena suaranya bagus, hafalannya juga sangat kuat dan kharimasnya begitu luar biasa saat dia mengisi salah satu kajian di kelasku dulu. Ya, mungkin aku salah satu dari kaum hawa itu. Siapa yang tidak mengidolakan Akbar tapi ?

Husein ? Dia sedikit berbeda dengan Akbar. Sejak dulu, kemampuan akademisnya jauh lebih menonjol diantara kami. Padahal Ayahnya juga kiai, tapi dia tak pernah sedikitpun berkeinginan menjadi kiai dan mengelola pondok keluarganya. Berbeda denganku yang mungkin kelak mau tidak mau harus mengelola pesantren itu bersama suamiku.

….

September 2008

Dadakan, dan cukup mengejutkan. Baru di semester empat. Tapi Husein memutuskan untuk menikah. Dia jatuh cinta dengan seorang teman kuliahnya yang berasal dari Aceh. Namanya Aira. Wajahnya seperti orang Arab. Alisnya tebal dan hidungnya mancung. Senyumnya manis sekali. Apalagi dengan lesung pipit di pipi kanannya. Pilihan Husein di luar dugaan kali ini. Setelah sejak SMA sering menggoda perempuan. Akhirnya pilihan Husein jatuh pada gadis serambi mekkah itu.

Pernikahan Husein digelar cukup mewah. Rin dan Ahmad pulang dari perantauan. Ahmad jadi lebih gemuk. Jenggotnya sudah cukup panjang. Rin ? Rin semakin cantik dengan balutan gamis dan jilbab syar’inya. Aku senang mereka tak berubah meski tinggal di ibu kota. Ku dengar, Ahmad malah mulai dipercaya untuk mengajar ngaji anak dari kolega bisnisnya. Abi selalu bilang, hiduplah dengan mengamalkan Alquran. Maka hidup kalian akan diberi kemudahan. Dan Ahmad telah membuktikannya.

Seperti biasa, aku hanya sering duduk di belakang menyaksikan kebahagiaan orang-orang yang berlalu lalang. Berfotopun tidak. Sungkan rasanya. Satu penyakitku, selalu takut jika berada di kerumunan orang. Akbar yang mulai menyadari segera keluar dari keramaian itu dan menghampiriku di belakang. Dia membawa dua cangkir es krim cokelat kacang kesukaanku. Tahu saja si Husein, kalau sahabatnya ini sangat addicted dengan cokelat dan es krim.

‘Aku juga ingin menikah Sya’

‘Kapan?’

‘Ya, secepatnya. Semoga. Aku masih mencari. Tapi ada satu perempuan yang aku incar’.

Rasanya ingin sekali aku bertanya siapa perempuan itu. Tapi aku takut mendengar jawabannya yang tidak sesuai dengan harapanku.

‘Nanti aku kenalin. Aisya harus lihat ya. Pasti suka. Kerudungnya syar’i juga. Persis kaya kamu’

Tiba-tiba rasanya sangat mual. Ulu hatiku nyeri. Tanpa harus bertanya Akbarpun pasti akan menceritakannya padaku.

Kami memang berlima. Tapi aku paling dekat dengan Akbar. Sampai-sampai, para santri di pesantren Abi mengira aku dan Akbar pacaran. Tapi itu tidak mungkin terjadi. Kami hanya bersahabat. Tak lebih.

Akbar dan Husein seperti orang kembar. Kebiasaan mereka juga sama. Selalu merepotkanku. Beli baju lebaran. Bayar makan. Cari kado untuk pacar. Semuanya aku yang menentukan. Kadangkala, bersahabat dengan dua makhluk itu menyenangkan tapi lebih banyak repotnya.

Apalagi Akbar, sejak di Madrasah selalu apa-apa harus tergantung padaku. Beli baju, tanya ke orang, komunikasi dengan teman-teman. Semuanya aku. Kalau tidak ada aku di dunia ini, akan jadi si Akbar ini. Kadang geram sendiri. Tapi aku terlanjur menyayanginya. Sebagai sahabat. Atau lebih ?

….

Januari, 2010

Akhirnya empat tahun berlalu tanpa terasa. Aku dan Akbar bisa menyelesaikan kuliah tepat empat tahun. Kami di wisuda di periode yang sama. Hanya berbeda hari. Umi membelikan kebaya yang sama dengan Akbar. Em, maksudku seragam keluarga kami. Motif kebayaku disamakan dengan baju Akbar. Katanya biar seragam aja. Umi dan Ibunya Akbar juga bersahabat sejak kuliah. Tak disangka, aku meneruskannya dengan Akbar. Bahkan sejak kecil.

Aku sengaja datang ke wisudanya Akbar dengan Sita. Gadis yang disukai Akbar. Dia orang Toli-Toli Sulawesi. Adik kelasnya Akbar di kampus. Sangat cantik dan anggun. Jauh lebih syar’i dan hafalannya sudah lebih banyak. Diam-diam, aku banyak belajar dari Sita. Kebetulan saja, Sita tinggal satu wisma dengan Zaenab sahabatku. Jadi sedikit banyak aku bisa mengetahui hal tentang Sita.

Selama tiga tahun itu, Akbar terus bercerita tentang Sita. Dan aku terus menjadi pendengar yang baik. Meski sebenarnya, ulu hati itu terasa nyeri. Tapi aku mengabaikannya. Biarlah, jika memang berjodoh bukankah aku dengan Akbar juga akan bersatu ?

Hari itu, Akbar terlihat bahagia ketika aku membawa Sita hadir di wisudanya. Setidaknya, aku tak akan pernah kehilangan Akbar ketika memilihnya menjadi sahabat.

….

Lulus kuliah, aku tak langsung bekerja. Aku membantu Abi mengajar di pesantrennya sembari menunggu beberapa panggilan pekerjaan. Akbar jauh lebih dulu bekerja di CV milik dosen pembimbingnya. Sedangkan Husein, akhirnya menuruti keinginan Ayahnya untuk mengelola pesantren. Ia sudah memiliki dua anak. Anaknya kembar. Laki-laki dan perempuan. Namanya Akbar dan Aisya. Sengaja diambil dari nama teman-temannya. Katanya kalau nanti punya anak lagi akan dinamai Ahmad dan Rin jika perempuan. Ada-ada saja.

Di situlah aku mulai menemukan hobi baru. Aku sering mendatangi SMK Batik Nusantara. Menyelinap ke belakang sekolahnya dan menunggu senja. Senja dari balik sekolah itu selalu memesona. Sejak aku kecil hingga dewasa. Dulu, sekolah ini hanya sebuah pematang sawah yang gubugnya hampir reyot. Aku senang melukis pemandangan dari sana. Dan Akbar akan menemaniku dengan membawa es tung tung sisa jualan Pak Tohir. Hampir 10 tahun berlalu. Pematang sawah itu telah disulap menjadi sebuah sekolah yang megah. Di balik sekolah itu, ada satu spot yang dulu sering aku gunakan untuk merenung. Ya, karena aku selalu takut bertemu orang banyak. Aku lebih memilih duduk diam di gubuk reyot itu untuk menunggu senja. Sambil menambah hafalan, dan melukis sketsa wajah Akbar.

….

September 2010

Aku masih belum bekerja. Rasanya seperti memiliki beban tersendiri. Abi dan Umi tak pernah mempermasalahkannya. Tapi aku sendiri yang merasa malu. Sudah susah payah disekolahkan, tapi tak bisa membalas apapun. Akhirnya aku kembali menggunakan kemampuan lamakun. Bukan, maksudku kebiasaan lamaku. Menulis. Kembali ku mainkan blog yang sudah lama tertutup. Aku mulai menulis puisi lagi. Beberapa cerita pendek dan artikel. Tulisan-tulisan itu ku kirimkan pada portal-portal media online. Lumayan sesekali hasilnya bisa untuk beli pulsa.

Lalu sore itu, ketika aku mencari inspirasi untuk menulis. Aku bertemu Tegar. Murid kelas 10 yang juga terobsesi pada Jepang. Dia terkesima melihat jaket hijau yang aku kenakan dengan simbol bendera Jepang di lengan kananku. Kita seperti sudah saling kenal sangat lama. Baru bertemu beberapa kali sudah banyak hal yang dia bicarakan. Sampai suatu hari, ketika akhirnya aku diterima sebagai reporter di salah satu media online Indonesia, itu juga karena Tegar. Katanya, kakaknya juga reporter bola di sana.

Setiap pulang dari bekerja, aku selalu mampir untuk datang ke kedai es buto ijo itu. Untuk menemui Tegar. Menyerahkan komik-komik pesanannya dan gambar-gambar tentang Jepang. Enam bulan aku jadi reporter, Tegar kembali memberiku informasi lowongan pekerjaan. Katanya di sekolahnya sedang membutuhkan guru untuk mengajar ekskul bahasa Jepang. Ya sudah, ku coba saja memasukkan lamaran di sana. Toh aku masih memiliki waktu yang cukup banyak.

Tanpa basa basi yang cukup panjang, Pak Ridwan selaku kepala sekolah langsung menerimaku sebagai guru ekskul bahasa Jepang di sekolah itu. Katanya Tegar sudah sering cerita banyak hal tentang aku. Tegar bilang aku sudah sangat paham tentang Jepang. Berlebihan rasanya. Padahal, menginjakkan kaki di sana saja belum pernah.

Akbar yang sejak awal tidak suka aku bekerja jadi reporterpun amat sangat mendukung pekerjaan sampingan ini. Ya, mungkin perlahan-lahan aku akan melepaskan pekerjaan sebagai reporter ini.

Tapi ternyata, aku salah. Justru aku semakin terikat dengan pekerjaan ini sampai hari ini. Mungkin Akbar membenciku. Perasaannya tak pernah mudah untuk ditebak.

Bersambung … []

Senja di Balik Sekolah (Bag. 1)
Click to comment

Komentar

To Top