Cerpen

Senja di Balik Sekolah (Bag. 2)

Januari 2012

Sita lulus kuliah. Dan akan segera pulang ke Toli-toli. Akbar bilang dia ingin melamar Sita, tapi tabungannya belum cukup. Satu hari satu malam, aku mengabaikan pesan itu. Meninggalkan rumah dan bermalam di balik sekolah. Melepaskan tangisan pada senja yang semakin memudar. Aku berteriak tanpa suara. Tangisku tertahan pada isakan. Hanya air mata yang tak henti mengalir.

Bagiku, Akbar tak pernah serius soal urusan perempuan. Tapi aku salah. Dengan Sita, Akbar benar-benar telah jatuh hati. Aku bisa apa ? Aku tak pernah mengungkapkannya. Tanpa sadar, aku ketiduran di tempat tersembunyi itu. Senja telah berpulang. Menenggelamkan lazuardi yang menguning. Bulanpun ditelan malam. Tinggal aku meringkuk di bawah bulan tanpa suara. Karena kelelahan, akupun tertidur. Sampai esok harinya, tak sengaja Tegar menemukanku di sana.

‘assalamualaykum,

Mbb bar. Semalam hp mati. Aku ada tabungan, jangan ditolak. Pergilah ke toli2 dan temui Sita dengan keluarganya’

Dengan tangan yang sedikit bergetar, ku kirimkan pesan singkat itu pada Akbar. Tak lagi menangis. Dan tak mungkin menangis. Karena ini di kantor. Sedikit lama Akbar membalas pesan itu.

‘Ga mungkin, sya’

‘Kenapa engga ? Bar, kamu tahu kan Aisya akan selalu ada sebelum Akbar minta tolong? Niat baik itu harus disegerakan. Nanti kita ketemu di tempat biasa ya. Aku tunggu jam 6 sore. Wassalamualaykum’

Hp pun ku matikan. Tanpa menunggu babibu dari Akbar. 12 artikel bisa ku kerjakan cepat hari ini. Akupun segera pulang karena kebetulan ada jadwal mengajar di sekolah Tegar. Dia juga pasti sudah menagih cerita kenapa aku bisa tertidur di ruangan tak berpenghuni itu.

Aku mengabaikan Tegar yang terus merengek menagih cerita.

‘Sensei kenapa bisa tidur di sana ? Ga mungkin diculik kan ?’

‘Sudah dibilang ketiduran, Gar’

Aku menjawab sekenanya saja. Tapi dasar Tegar, si bocah kritis itu terus saja menyelidiki. Tapi aku berhasil menghindarinya karena kelas harus segera dimulai. Dikasih komik juga anak itu tak akan mencari tahu lagi.

Sekitar pukul lima, kelas selesai. Tegar pulang karena telah dijemput kakaknya. Sambil menunggu pukul enam. Aku mampir ke kedai es buto ijo. Akbar juga masih perjalanan dari Sukoharjo.

Pukul 6 sore. Tepat. Matahari mulai berjalan ke arah barat. Meninggalkan satu hari yang melelahkan. Ku dengar langkah kaki dari belakang. Aroma cokelat itu, pasti Akbar. Ku buang jauh-jauh kesedihan di raut wajahku. Ku gantikan dengan kekesalan karena dia telat. Ya, Akbar selalu telat jika membuat janji dengan seseorang.

‘Udah mau nikah masih aja telat’. Gerutuku untuk menutupi kesedihan.

Akbar malah nyengir kuda. Sambil nyerahin es krim Glico stroberi kesukaanku. Yang disuap langsung nyengir kuda bahagia.

Tak banyak perbincangan diantara kami. Aku langsung menyerahkan kertas tiket pulang pergi ke Toli-Toli itu.

‘Sebelum kamu nyesel. Aku tunggu kabar baiknya’

Ku letakkan tiket itu di tangan Akbar. Dan aku berjalan pulang. Akbar masih tak percaya. Tapi aku yakin dia senang karena mendapat dukungan penuh dariku. Karena memang hanya aku satu-satunya orang yang mendukung Akbar untuk melamar Sita. Ibunya sangat menentang. Husein juga. Apalagi Rin. Dari dulu dia ingin aku yang menikah dengan Akbar. Ya, mungkin hanya Rin yang tahu jika sejak dulu aku telah jatuh cinta pada Akbar.

Sejak hari itu, aku meminta izin pada Abi untuk kembali melanjutkan studi S2. Kali ini akan ku biayai sendiri dengan pekerjaan yang saat ini kumiliki dan mencari beasiswa.

Lamaran Akbar diterima. Dan lamaranku untuk beasiswapun diterima. Langit seperti memudahkan urusanku untuk menjauhi Akbar. Rin melarangku, karena ia tahu ini hanya bentuk pelarianku.

Pak Dahlanpun tanpa diduga memintaku untuk pindah tugas ke Jakarta. Dan aku bisa melanjutkan S2 di sana. Benar-benar rencana yang sempurna.

Tapi ternyata, terkadang harapan manusia tak sesuai dengan takdir yang telah digariskan tuhan kepada umatNya.

Satu bulan menjelang pernikahan Raihan dengan Sita. Aku mengalami kecelakaan. Saat mencoba mengejar Tegar yang marah kepadaku karena ku katakan padanya tentang keinginanku untuk pindah ke Jakarta.

Kata Tegar, aku terlalu pengecut jika memutuskan pergi dari Akbar dan pernikahannya. Padahal sejak awal aku yang telah menawarkan diri untuk membantu persiapan pernikahannya. Tapi pada akhirnya aku yang akan meninggalkan Akbar karena takut akan kecewa.

Ku katakan pada Tegar bahwa dia hanya anak kecil yang tak akan memahami masalah ini. Tapi dia marah dan akhirnya pergi dengan kemarahan. Aku mencoba mengejarnya. Tapi ternyata, ada motor dengan kecepatan tinggi melaju dari arah jalan raya. Tabrakan itupun tak bisa dihentikan.

Satu bulan kemudian aku tersadar setelah mengalami koma. Kira-kira, itu hanya tinggal satu minggu dari acara pernikahan Akbar. Aku meminta Abi untuk tidak memberi tahu Akbar bahwa aku telah sadar.

Aku memilih pergi diam-diam memenuhi panggilan Pak Dahlan di Jakarta. Tanpa pamit pada Akbar, Husein dan Aira. Juga pada Tegar yang katanya sempat datang beberapa kali ke Rumah Sakit.

Sambil bekerja, aku tetap menempuh pendidikan S2 ku di Universitas Atma Jaya. Di sana, aku mengambil jurusan masgister ilmu komunikasi untuk memperdalam ilmu dari pekerjaan yang aku tekuni saat ini. Aku juga mulai mendapat tempat khusus di salah satu majalah wanita. Karirku berjalan baik-baik saja selama enam tahun ini. Sesekali Abi dan Umi menengok ku di Jakarta. Juga Rin. Sekarang dia sudah menikah dan memiliki tiga orang anak. Darinya juga ku dengar Husein sudah memiliki empat orang anak. Sejak satu tahun yang lalu mereka pindah ke Aceh untuk mendirikan sekolah formal islami di sana. Sedangkan Ahmad, ku dengar dia mendapatkan beasiswa ke Turkey. Sesuai dengan cita-citanya. Sedangkan Akbar. Aku tak pernah ingin mengetahuinya. Aku meminta Rin untuk tak menceritakan apapun tentang Akbar.

Aku justru ingin tahu tentang Tegar. Bocah nakal itu, apa masih marah kepadaku? Beberapa murid masih berhubungan denganku via email.

Februari 2018

Abi dan Umi sangat menyambut rencana ku dipindah tugaskan ke Solo. Selain karena dekat, Abi juga sudah semangat mempersiapkan beberapa ikhwan untuk diperlihatkan padaku.

Menurut Abi, usiaku sudah sangat tua. Hampir 30 tahun tapi aku belum menikah. Ya, enam tahun begitu cepat berlalu. Dan aku tak menyadarinya.

Mungkin, aku juga sudah melupakan rasa sakit hati yang ku buat sendiri terhadap Akbar.

….

Aku mengawali pagi hari di Solo dengan berjalan kaki di sepanjang Jalanan Slamet Riyadi saat CFD. Setelah ini aku akan pergi ke Beteng untuk mencari beberapa helai kain. Aku ingin menghidupkan kembali bisnisku. Aku ingin berjualan hijab. Kantor baru untuk ku masih dibangun. Dan karyawan yang akan bekerja sama dengankupun masih dalam tahap perekrutan. Jadi aku masih memiliki sedikit waktu untuk beristirahat di rumah dan menikmati kota Solo.

Satu minggu pertama, aku hanya berjalan di sekitar pesantren. Minggu ke dua aku mulai berjalan ke sekitar sekolah tempat dulu aku melihat senja. Kedai es buto itu juga masih ada. Bang Rizal, si penjual es buto ijo kini sudah terlihat lebih dewasa. Dan ia tak lagi sendiri. Ia sudah menikah dan memiliki seorang anak. Sempat kutanyakan tentang Tegar. Tapi mereka juga tak tahu menahu. Tegar tak pernah lagi datang sejak hari itu.

Tapi katanya, ada seorang guru matematika baru di SMK Batik Nusantara yang belakangan menjadi pelanggan baru di kedai ini. Bang Rizal tak pernah bisa mengingat namanya. Tapi katanya dia selalu mencariku sejak pertama kali mengajar di sekolah itu.

Aku penasaran. Temanku tak ada yang menjadi guru di sekolah itu. Kalaupun ada, itu jelas bukan guru baru. Dan guru matematika di sekolah itu cuma satu dan dia perempuan.

Katanya dia sering datang ketika pukul lima sore. Menjelang magrib dia akan kembali ke sekolah sampai malam sudah sangat larut.

Aku penasaran. Perasaanku mengarah pada satu nama. Tapi rasanya tak mungkin. Dia tidak bekerja di sekolah ini dan, bukankah dia sudah menikah ?

….

Minggu ke empat aku di Solo. Ku putuskan untuk melakukan pencarian tentang siapa pelanggan baru Bang Rizal yang mengaku sebagai guru matematika di SMK Batik Nusantara. Aku sengaja datang lebih awal ke kedai itu. Dan ku sempatkan untuk mampir ke sekolah. Hampir satu bulan, tapi aku belum menyambangi sekolah itu. Rupanya sudah banyak berubah. Enam tahun ternyata membuatku hampir tak mengenali bangunan ini. Guru-gurunyapun sudah banyak yang baru. Ekskul bahasa Jepang tetap berjalan. Tanpa guru baru. Hanya beberapa alumni sekolah yang pernah ke Jepang yang silih berganti mengajar secara sukarela.

Lalu, tibalah aku pada saat yang tak terduga itu. Aku menanyakan tentang guru matematika yang baru kepada Pak Solih, tukang kebun di sekolah itu. Sebuah nama yang sebenarnya tak ingin ku dengar. Bukankah seharusnya dia sudah di Toli-Toli ?

Pak Solih mengantarku ke kelas 11 Ipa 2. Tempat dimana guru itu mengajar. Aku terkejut. Ya, dialah Akbar yang menjadi guru matematika di SMK Batik Nusantara sejak enam tahun lalu.

Aku tak menyangka jika ceritanya berakhir menyedihkan. Sita, akhirnya menerima lamaran orang satu bulan sebelum pernikahan. Karena sejak awal Sita memang tak menyukai Akbar. Ia hanya ingin mencoba memberi kesempatan kepada Akbar.

Akbar mencoba mendatangiku ke Rumah Sakit, tapi aku sudah pindah ke Jakarta. Dia mencariku ke sana kemari. Tapi aku menghindar. Abi dan Rin tak pernah memberi dimana alamatku yang sebenarnya.

Selama aku koma, Tegar terus mencari Akbar. Dia menyerahkan sebuah buku sketsa gambar milik ku yang selalu ku tinggal di ruangan di balik sekolah itu. Sejak itulah Akbar tahu jika aku menyayanginya lebih dari sahabat sejak belasan bahkan puluhan tahun yang lalu.

Akbar tersenyum ke arahku. Aku tak berani menatap wajahnya. Setelah enam tahun lamanya. Dia tetap kurus dan kecil.

‘Dasar kurus, ga pernah makan ya selama enam tahun?’

Kataku sambil terisak. Akbar terkekeh. Dia menyerahkan sebuah tisu untuk ku. Kitapun terbenam dalam indahnya senja dari balik sekolah.

….

Kata Abi sejak dulu, jodoh, maut dan rezeki manusia sudah ditentukan sejak dulu di lauhul mahfudz. Begitu juga dengan perkenalanku dengan Akbar. Aku mengenalnya sejak belum balig. Siapa sangka jika pada akhirnya ‘langit’ mengizinkan dia untuk menjadi teman hidupku selamanya.

Abi juga selalu bilang, kau mau seperti Fatimah atau Khadijah. Aku tak mungkin seperti keduanya. Karena aku hanya manusia biasa. Tapi aku hanya mencoba mengambil pelajaran dari Ali.

“Cinta tak pernah memaksakan.

Ia mengambil kesempatan, yang ini keberanian. Ia mempersilakan, yang ini pengorbanan”.

Selesai. []

Senja di Balik Sekolah (Bag. 2)
Click to comment

Komentar

To Top