Puisi

Tinta Terakhir

Di buku ini, kita saling bertukar halaman
Di halaman ini, kita saling bersapa pada syair
Hingga pada akhirnya kita bertukar pena
Kala itu dimulai dengan pertanyaan “siapakah yang akan menuliskan syair di halaman kosong ini?”
Sungguh malang aku yang teralu mengharapkan isi
Justru yang ku dapat hanyalah sampiran

Aku tidak pernah mengambil pena yang tidak sengaja kita temukan di buku kegemaran kita
Aku tidak tahu, kau memiliki pena atau tidak
Aku hanya tahu, ketika aku menuliskan syair pada paragraf pertama
Kau akan meneruskannya hingga halaman ini penuh
Atau hingga tinta pada pena ini habis

Sayangnya,
Aku tidak memiliki banyak tinta agar kita bisa terus bersyair
Seperti membuat alur, seperti itulah aku menulisnya

Aku tidak tahu, kapan kau akan bersyair pada akhir halaman
Aku tidak tahu apakah kau berkenan menulis sampiran
Atas isi yang telah ku goreskan perlahan
Aku tidak akan membawa pena itu lagi
Aku tidak akan ke halaman kosong berikutnya
Hingga kau mengerti akan sampiran yang kuinginkan
Kini, pena yang sering kita gunakan
Telah ku tinggalkan di balik halaman kosong berikutnya
Halaman akhir yang ku beri emot titik dua dan huruf ‘d’ besar. []

Tinta Terakhir
Click to comment

Komentar

To Top