Celomet

Arus Informasi, Pengetahuan, dan Nalar

Di tengah-tengah percepatan arus media dan informasi yang tak pelak membuat buncahnya pikiran, kerendahhatian dan menjaga nalar adalah dua sikap yang perlu dilakukan. Pasalnya, kalau sudah kebablasan dalam bertindak maupun bersikap pada realitas tanpa mempertimbangkan dengan akal budi, fenomena yang kerap terjadi misalnya adalah; pertengkaran yang terjadi di dunia maya, debat kusir yang tidak ada habisnya hingga sikap anti-intelektual terhadap berbagai macam nomenklatur keilmuan yang ada.

Peristiwa yang masih saja ditemui hingga saat ini diantaranya; propaganda ihwal bumi datar (flat earth), kejelasan pada benar/salahnya sebuah gambar maupun foto yang dibagikan melalui media sosial, gerakan tagar (hastag) yang acapkali menarik perhatian sebagian besar warganet. Hingga banyaknya informasi maupun berita yang pada kenyataannya membuat pembaca dengan mudah mempercayai, tanpa menggali informasi di sumber lain.

Pada arus ini, semakin membuktikan pada satu kebiasaan, “argumentum ad populi”, sesuatu dianggap benar karena banyak orang menerimanya. Tentu ini menjadikan sebuah ancaman yang sangat berbahaya pada ranah kehidupan bermasyarakat, bernegara maupun beragama. Lebih dari itu adalah dampak pada perkembangan ilmu dan pengetahuan dalam berbagai ranah dan bidang yang ada.

René Descartes dalam karyanya berjudul Discourse and Method menyampaikan akan kemungkinan yang akan terjadi pada sebuah kebenaran dan kesalahan. Ia menjelaskan, bahwa kita dapat keliru tentang hal-hal yang menyangkut diri kita sendiri, dan betapa pula kita patut curiga tatkala teman-teman memberikan penilaian yang menguntungkan kita. Lebih jauh, ia menggunakan sebuah analogi, barangkali yang dikira itu emas atau intan ternyata hanya tembaga atau kaca belaka.

Pemahaman ini akan membawa kita pada sebuah metodologi dalam menjelaskan pengetahuan seperti halnya pencarian data, penyusunan hipotesis maupun penarikan kesimpulan. Yang bisa jadi, di banyak kejadian perlu membutuhkan sebuah kejelian, ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan observasi maupun eksperimen dalam bingkai laboratorium.

Pengetahuan

Fakta bahwa manusia itu memiliki gairah yang luar biasa akan ketakjuban pada alam semesta, sebagaimana pernah ditandaskan oleh Albert Einstein, fisikawan yang lahir pada tanggal 14 Maret 1879 silam yang memberikan kontribusi di pengetahuan melalui gagasan teori relativitasnya yang terbagi menjadi dua; relativitas khusus (1905) dan relativitas umum (1915). Pada sebuah waktu, ia pernah menyampaikan bahwa yang paling tak terpahamkan tentang alam semesta ini adalah bahwa semesta ternyata bisa dipahami.

Salah satu jalan yang bisa dengan mudah dan murah di banyak lapisan masyarakat, di abad ini adalah dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi. Orang tidak perlu pergi jauh-jauh ke NASA untuk melihat perkembangan terkini dunia astronomi. Orang tidak perlu jauh-jauh pergi ke Inggris untuk menyaksikan pertandingan kompetisi sepak bola lokal yang ada di sana. Orang tidak perlu melakukan perjalanan ke Brazil untuk melihat keindahan hutan Amazon dengan berbagai spesies flora dan faunanya. Tinggal sekali klik, hilir-mudik informasi berupa sajian algoritma mesin pencari di internet dengan berbagai laman, baik dari gawai, komputer, atau perangkat informasi yang lainnya.

Kesadaran tersebut tentu harus diimbangi sikap yang arif maupun bijaksana bagi para pengguna teknologi dan informasi. Terlebih dalam hal ini adalah pada mereka yang memiliki tanggung jawab keilmuan agar tidak menjadikan perkembangan ilmu menjadi terhambat. Dalam pengertian lain, orang-orang yang termasuk dalam kelompok tersebut perlu menaruh pada penggunakan akal budi dengan sebaik mungkin. Dengan tujuan supaya tidak menjerumuskan antara satu dengan yang lainnya, menghindari naluri akan klaim kebenaran (truth claim), atau bahkan menjebak dengan pernyataan-pernyataan berupa kesesatan dalam berlogika.

Merawat Nalar

Pentingnya merawat nalar adalah sebagai bentuk kesadaran yang melahirkan sikap baik dalam etika, moral maupun logika. Hal tersebut juga menjadikan sebuah antitesis dari apa yang pernah disampaikan oleh Nirwan Ahmad Arsuka dalam bukunya yang berjudul Percakapan dengan Semesta bahwasannya otak memang cenderung mencari kesimpulan yang menenteramkan, tak peduli jika kesimpulan itu tak berdasar, dan ampuh hanya untuk mengecoh diri dan merusak sesama.

Buah dari kesadaran tersebut akan membawa menuju keperdulian pada ranah bagaimana realitas publik yang mudah sekali terjadi lahirnya sikap fanatisme. Yang di mana, semakin banyaknya identitas; agama, suku, ras, bahasa, ideologi, dan budaya, acap kali banyak dimaknai sebagai salah satu faktor yang merusak publik. Kerusakan ini disebabkan oleh pertarungan yang memiliki tujuan untuk memutlakakan konstruksi masing-masing. Tentu ini sangat berbahaya dan melahirkan berbagai ancaman dalam kehidupan.

Nalar membuka jalan pada perkembangan pengetahuan. Mengharuskan manusia dalam pengimplementasian melatih akal budi dalam menyangsikan segala hal yang menjadi bagian dari kehidupan; realitas individual, realitas sosial dan realitas virtual. Meskipun demikian, nalar tidak menjamin akan keberadaan sebuah kebenaran yang mutlak, namun berhubungan ihwal kepercayaan yang membuahkan nubuat akan kementakan tentang gejala-gejala yang ada di dunia. Lebih dari itu, nalar menjadikan manusia sadar bahwa skala pengetahuan bukan hanya yang bersifat material saja, namun melainkan ada hal yang bernama immaterial, seperti halnya; ingatan, pikiran, hasrat, dan mimpi. []

Arus Informasi, Pengetahuan, dan Nalar
Click to comment

Komentar

To Top