Celomet

Moralitas Suara Hati

Berkaitan dengan mendidik suara hati yang tidak akan berjauhan dengan hukum kausalitas, yakni hukum sebab akibat. Ada poin penting yang menjadi keresahan kita bersama mengenai pertanyaan yang sebenarnya sudah tidak asing lagi kita dengar, “Apakah suara hati adalah suara dari Tuhan?”. Suara hati yang bersifat abstrak terkadang manusia sendiri masih kebingungan menerima atau justru sebaliknya. Menolak. Akan tetapi sebelum kta membahas lebih jauh apakah memang benar suara hati adalah suara yang memang datang dari Tuhan, ada baiknya kita kembali ke duduk awal bagaimana cara mendidik suara hati agar tidak keliru dalam menentukan sikap.

Apa perlunya kita mendidik suara hati? Pendidikan suara hati adalah langkah awal dari terbentuknya kekhawatiran jika pandangan-pandangan yang biasa dilihat dan dianggap sebagai sesuatu yang normal dan atau sudah begitu adanya. Sehingga, pandangan-pandangan yang dianggap tidak biasa akan sedikit demi sedikit ditiadakan atau bahkan mungkin disingkirkan secara paksa. Saya ambil contoh kecil misalnya adalah penggunaan kata buruh yang dianggap sebagai kata yang berbau komunis. Sehingga untuk menghilangkan hal tersebut, pemerintah pada masa orde baru mengganti kata buruh dengan istilah baru dan dianggap berkelas dengan sebutannya diganti dengan kata karyawan. Pada intinya, keduanya sama. Tapi pemerintah orde baru memberi sekat antara kata buruh dan karyawan. Buruh tempatnya sebagai kacung yang berupah rendah. Sedangkan karyawan adalah orang yang bekerja dengan jas mentereng, berdasi, dan menenteng tas. Padahal esensi buruh dan karyawan sama saja. Sama-sama bekerja di tempat yang bukan miliknya, sama-sama di bawah kendali pimpinan. Pemikiran dan pandangan dalam contoh kecil ini masih terbawa hingga sekarang. Anomali katanya jika orang yang bekerja di kantor disebut sebagai buruh.

Begitu pentingnya kita mendidik suara hati tujuan dasarnya adalah karena suara hati nyaris selalu dipengaruhi oleh Pendidikan informal dan formal. Bagaimana ketika kita berjalan dan memasukkan pengalaman-pengalaman sebagai suara hati. Begitupun asupan-asupan yang diambil dari pengajaran guru-guru. Perasaan moral dan pelajaran inilah menurut Franz Magnis Suseno dianggap sangat berpengaruh pada suara hati. dengan adanya Pendidikan suara hati, setidaknya ini adalah usaha pertama manusia agar lebih terbuka, kembali lagi akan berpikir tentang prinsip kausalitas, memahami pertimbangan yang lebih etis, dan tentu akan berpikir lebih objektif. Artinya, manusia tidak akan lagi terkukung dalam pemikiran yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Ada kebebasan dan tidak berpikir yang menetap tidak akan berubah, ataupun yang berubah tidak akan menetap. Setidaknya kita akan menuntut keterbukaan dalam diri dan adanya keinginan untuk belajar. Tua ataupun muda tidak akan berpengaruh pada daya seseorang untuk mengetahui hal-hal yang baru walaupun zaman sudah berbeda. Sehingga tanda keterbukaan seseorang bisa dikatakan ketika ada niat di dalam hatinya berkeinginan untuk terus belajar.

Pada paragraf di atas sudah disinggung tentang pertanyaan mengenai apakah suara hati adalah suara dari Tuhan? Franz menyimpulkan bahwasanya ada dua bagian jawaban dari pertanyaan tersebut. Pertama, sudah jelas bahwa suara hati bisa saja keliru, sedangkan suara Tuhan tidak mungkin demikian adanya. Kedua, suara hati amat jelas mencerminkan pengertian dan prasangka kita, jadi suara hati adalah suara kita sendiri dan bukan suara dari Tuhan. Saya sependapat dengan Franz terkait hal ini. Tapi tidak sepenuhnya sepakat. Maksud saya, ada kalanya di dalam kesadaran manusia dalam mentransformasikan apa yang menjadi suara hati dalam hal ini penilaian masyarakat dengan pemikiran yang berasal dari suara hati tersebut sebagai  suatu yang bermoral. Contoh misal, di dalam hati seseorang didorong oleh kekuatan untuk menolong rakyat miskin, akan tetapi yang dilakukan justru membuat keadaan rakyat miskin menjadi lebih miskin. Atau jangan-jangan, perkiraan kita tentang suara hati maksudnya aslinya adalah nafsu belaka.

Pertanyaan saya, bagaimana bisa kita melihat sesuatu yang abstrak dan manusia sendiri mempunyai keterbatasan-keterbatasan bisa mendeteksi dan membedakan mana suara hati dan mana suara yang memang berasal dari Tuhan. Anggap saja bahwa persoalan suara hati adalah hal transenden yang mutlak tidak bisa dilakukan oleh manusia. Manusia hanya cukup menyakini bahwa kemutlakan suara hati adalah jalan yang menjawab bahwa Tuhan itu memang benar adanya. Ketidaksanggupan manusia dalam memahami suara hati kokoh begitu saja dan tidak lagi berpikir tentang “akan tetapi”, seolah manusia akan terus diperhatikan oleh Tuhan di setiap gerak-geriknya. Sehingga mengacu pada ke-ihsan-an, beribadah seolah-olah melihat Tuhan, dan jika tidak bisa merasakan melihat Tuhan maka setidaknya Tuhan sedang melihat kita. ◊

Moralitas Suara Hati
Click to comment

Komentar

To Top