Cerpen

Bung

Katanya, ada kehidupan yang lebih tua usianya dari semua benda hidup yang ada, energi Tuhan yang menjadi esensi untuk menghidupkan eksistensi kehidupan. Katanya, seluruh kehidupan hanyalah usaha mencari kebahagiaan, sedang yang lainnya hanyalah penantian. Tapi jangan lupakan satu hal, bahwa hidup dan penantian ibarat dogma yang serupa kaca, kita menyaksikan kebenaran melaluinya, tapi kadang dibiaskan pula olehnya.

Katanya, ketika kehidupan tak mendapati penyanyi untuk mendendangkan kegelisahannya, dia akan menciptakan filsuf untuk mengungkapkan pikirannya. Pikiran tentang hidup yang melingkupi segala jenis kisah dan legenda di bumi ini. Dan katanya lagi, hal terpenting dari berkehidupan adalah berfikir dan berjuang, tapi bolehkah aku tambahkan satu hal lagi? Dzikir dan doa akan membikin sejuk alam kebatinan kita.

Katanya, tandanya hidup adalah bergerak, tandanya bergerak adalah mengalami perubahan. Hidup tanpa mengalami perubahan sama saja telah mati sebelum mati. Maka teruslah bergerak, karena selama kau bergerak kau takkan tertangkap. Tak kan tertangkap polisi jika kau buronan, takkan tertangkap malas jika kau si rajin, takkan tertangkap sakit jika kau si sehat. Takkan tertangkap sedih dan patah hati jika kau si optimis yang selalu menuruti logis ketimbang ego.

***

Apa yang menarik dari menunggu, selain hanya menghamburkan waktu? Ada banyak, salah satunya pertemuan tak terduga dapat terjadi dalam ruang tunggu.

“Maaf, Mbak. Aku boleh pinjam hp-nya sebentar?” Suara berat dari seorang pemuda tak dikenal mengusik kesalku karena lama menunggu. Pemuda itu berambut kribo, berkumis dan berjambang tipis, memakai topi hitam bersimbol bintang, mengendarai sepeda gunung dengan sandal jepit, bercelana pendek, kaos oblong hitam bergambar Tan Malaka dan kemeja merah kotak-kotak tanpa dikancingkan.

Aku diam dengan tatap menyelidik, menekan perasaan takut.

“Tenang, Mbak. Aku bukan penjambret kok. Hp mati, boleh minta tolong telfonkan temanku? Mau ke kost-nya, lupa alamat. Bilang aku tunggu depan gerbang kampus B gitu. Mbak deh yang pegang Hp nya, kalau takut aku jambret.” Dia nyengir. “Oh, iya. Aku Nino, FKH. Mbak kuliah di Unair juga kan?” Ucapnya mengakrabi sambil menjulurkan tangan kanannya. Aku mengangguk namun menolak secara halus jabatan tangannya.

Aku hubungi nomor yang ia sebutkan dan temannya akan segera datang menjemput. Yang aku herankan, kok dia bisa hafal ya nomor temannya? Aku saja kadang suka lupa nomorku sendiri. Atau aku saja yang payah ya? Duh. Haha

“Mbak ndak keberatan kalau aku ikutan nunggu di sini sampai teman jemput?”

“Panggil saja Qian. Iya ndak apa-apa. Aku juga sedang nunggu teman”

“Qian? Seperti nama laki-laki ya? Padahal Mbaknya pakai rok dan jilbab.” Dia nyengir lagi, semakin dilihat semakin tampan ya? Eh, husy. Haha.

“Qiandra. Iya, ada yang bilang begitu juga.” Aku ikutan nyengir.

Mas Darma sudah datang menjemput. Nino masih menunggu dengan bosannya bersama sepeda gunung yang tetap didudukinya. Malam ini aku mendapat giliran mengisi diskusi filsafat di Komisariat Airlangga. Diskusi filsafat memang peminatnya tak sebanyak rutinan tahlil atau diskusi kontemporer lainnya, tapi bagiku filsafat memiliki daya tarik khasnya tersendiri di samping keseharianku yang jenuh dengan nama-nama obat.

“Filsuf skolastik kali ini yang dibahas adalah William Ockham, perintis nominalisme dan teorinya yang terkenal adalah pisau Ockham. Menurutnya, dunia bukanlah ordo atau tidak memiliki keteraturan yang mantap, di mana Tuhan seolah terikat oleh tata tertib dan hukum dunia. Tidak ada yang ‘umum-abstrak’ yang ada hanyalah yang ‘individual-konkret’. Sebab kita hanya menggolongkan benda yang serupa dalam satu sebutan /satu nama /istilah /simbol. Sehingga benda bukanlah objek langsung dari pengetahuan, melainkan istilah yang berfungsi sebagai simbol.” Wina selaku moderator menyimpulkan seadanya kemudian menutup diskusi yang hampir berlangsung selama 3 jam ini.

Jarum jam menuding angka 10 dan 6, pukul 22.30. Sebagian pulang, yang lainnya masih menetap untuk sekedar bercakap ringan, Rendra menggamit gitar membuat percakapan semakin riuh oleh suaranya yang pas-pasan.

“Qi, kamu jadi sekretaris ya buat baksos bulan depan. Biar Arif yang jadi ketua.” Mas Darma memecah keriuhan. Arif sudah cengengesan, sebenarnya sejak 2 hari lalu Arif menghubungi, tapi aku tolak dengan banyak alasan. Kesal juga melihat senyum Arif yang penuh kemenangan itu, mengingat aku susah menolak kalau sudah Mas Darma yang meminta.

“Laptopku rusak, Mas. Susah nanti bikin proposalnya. Wina saja deh, Mas”

“Pakai Laptopku ndak apa-apa, Qi.” Arif menimpali. Aduh, susah menolak lagi sudah kalau begini. Yah, apa boleh buat.

***

Praktikum kimia analisis selama 3 jam lebih selalu berhasil membuat badan remuk redam bercampur kesal dan takut jika kena omelan dosen karena salah. Rasanya ingin pulang saja ke kost untuk hibernasi tidur, tapi masih ada kuliah preskripsi 2 jam lagi, tanggung jika pulang. Al-hasil, setelah makan siang kuajak Rosna ngadem di perpustakaan sambil berburu wifi untuk mengerjaka jurnal praktikum besok, sementara Rosna dengan bersemangatya curhat kejadian tragedi pecahnya buret sehingga pecah pula omelan Prof Darto.

“Selesai kuliah nanti temani aku beli buret ya, Qi?” Pinta Rosna.

“Yah, aku sudah janji sama Nino, Ros. Maaf!”

“Ciiieee… sekarang mainnya sama Babang Nino.”

“Hahaha… Apa sih, Ros. Ayo kalau kamu ikutan juga. Mau ngopi rame-rame kok.”

Yah, seminggu setelah pertemuan itu Nino tetiba menghubungiku. Kami mengobrolkan banyak hal. Sudah 3 mingguan ini aku menolak ajakannya untuk ngopi, masih riweh dengan baksos. Kesamaan kami yang kuliah di jurusan kesehatan membuat kami mudah akrab, terlebih jika membahas mata kuliah yang sama dan dosen yang sama pernah mengajar. Sore itu Nino menjemputku di Kost-an. Penampilannya masih serupa, bertopi bintang, kaos oblong yang kali ini bergambar Bung Karno, celana pendek dan ada sedikit perubahan dengan kumis dan jambangnya yang sudah dicukur rapi.

“Nge-fan sama Bung Karno?” Tanyaku bingung hendak menyapa bagaimana.

“Ya, begitulah. Hehe. Temani makan dulu ya, Qi. Nanti kita ngopinya di Bugkul.”

Dan bergegaslah kami menuju pasar Karmen (Karang Menjangan), makan di warung langgananku. Nino hanya diam, jarang mengangkat suara, beda sekali saat chatting, jadi aku ikutan diam hanya menghabiskan makanku. Kiranya begitulah medsos, dunianya maya. Siapaun dapat menjadi siapapun di luar dari kepribadian aslinya.

“Oh iya, aku bawakan bukunya, Qi.” Ia merogoh 2 buah buku karya Bung Karno dari tas ranselnya, Sarinah dan Di Bawah Bendera Revolusi.

“Waduh tebal amat. Aku pinjam yang ini saja dulu ya, Kakak.” Kuambil Sarinah lalu melihat-lihat sekilas isinya. Nino hanya tersenyum, memasukkan kembali buku satunya dan melanjutkan makannya.

“Bulan depan harus dikembalikan beserta presentasi singkat hasil bacaanmu ya, Qi.”

“Siap, Kakak!” Ucapku nyengir sambil bergaya hormat. “Kalau begini kan aku jadi semangat bacanya. Hehe.”

Adzan maghrib berkumandang, Nino menyilahkanku untuk shalat di masjid kampus. Ia menunggu di parkiran. Awalnya merasa aneh bergaul dengan teman kuliah yang beda agama, berbeda jauh ketika di pesantren. Tapi, inilah indahnya kuliah di kampus umum. Tak hanya mengenal teman dari berbagai suku dan daerah di berbagai kota di Indonesia, juga berbagai pemeluk agama lain. Membuat kita belajar akan keberagaman yang sesungguhnya, tidak hanya membacanya dari novel atau melihatnya di film.

“Harap maklum ya kalau nanti teman-temanku radak bawel.” Ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin tidaklah gatal, ketika baru saja sampai di Bungkul.

“Cowok bisa bawel juga ya?” Aku nyengir. Diapun balas nyengir masam.

“Hallo…. Bung!” Sapa temannya dari tengah bundaran taman Bungkul. Kami mempercepat langkah menghampiri. Suasana Bungkul di malam hari memang tak pernah sepi, sekeliling sudah penuh dengan belantara manusia, entah yang duduk melingkar dengan obrolan masing-masing, atau pedangang yang menjajakan dagangannya, sesekali terlihat pula anak kecil berlarian bermain.

“Wah, Bung Nino bawa yang seger-seger ni. Baru? Yang kemarin mana, siapa tu si Starla ya namanya?” Timpal pemuda lainnya. Ternyata ini maksud kekhawatiran Nino. Hmmm….

“Kamu fikir lagu, surat cinta untuk Starla.” Pecahlah tawa. Aku hanya nyengir menahan canggung.

“Loh, ada Sahabati Qian ni. Apa kabar?” Sepotong suara menyibak riuh tawa.

“Eh, ada Kanda Eros. Alhamdulillah masih hidup. Hehe.” Balasku kemudian menyalami satu persatu ke-lima lelaki dan satu perempuan yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.

“Loh, kamu PMII, Qi? Tiwas tak prospek masuk GMNI. Kamu kenal dimana sama Qian, Ros?” Aku paham keterkejutan Nino, karena sejak awal sengaja tidak aku ceritai.

“Bulan lalu dia ikutan muncak ke Arjuno.” Jawab Eros santai.

Perbincangan ngalor-ngidulpun terjadi, mulai dari makanan hingga urusan mati. Mulai dari tragedi pencekalan ujian karena kebanyakan bolos hingga demonstrasi yang akan dilangsungkan esok lusa. Malam ini Bungkul ramai oleh sekelompok mahasiswa yang sedang melakukan konsolidasi dan jaring aspirasi untuk aksi damai menyikapi pernyataan Presiden Amerika terkait Yerusalem sebagai ibukota Israel. Sementara kami bertujuh sengaja menjauh tidak turut bergabung, katanya sudah bisa ditebak alur konsolidasinya. Cukup mendengar dari jauh, nanti juga dapat laporan, begitu kata yang lain.

“Lusa kamu ikutan aksi juga, Qi?”

“Ndak bisa, Ros. Ada praktikum.”

“Aduh, susahlah emang kalau bicara sama anak farmasi ya. Sekalian aja aksi pakai jas lab, Qi.” Eros ngakak, bersambut pula yang lainnya.

“Iya, nanti aku bawain bunsen buat bakar bannya ya.” Timpalku sekenanya.

“Katanya aktivis, ada panggilan aksi malah milih praktikum.” Tuding lainnya.

“Yaudah, aku pasivis aja deh kalau begitu. Biar kalian saja yang aksi. Aku tak sok rajin kuliah, siapa tahu nanti jadi menteri kesehatan. Haha. Bagi tugaslah, kalian yang suka aksi, berdemonstrasilah, aku yang tidak suka, biar cari cara lain.” Entah kilahan macam apa itu.

“Iya, semisal kamu saja ya yang buat pers rilisnya. Kan kamu reporter tu di koran Warta Unair.” Tetak Eros yang mendapat persetujuan dari semuanya.

“Aduh, salah jawab ni aku.”

Sepertinya konsolidasi sudah mencapai mufakat, kain putih sepanjang 5 meter digelar, satu persatu membubuhkan tanda tangan beserta kalimat dukungan terhadap Palestina atau kecaman terhadap Amerika dan Israel. Jam satu dini hari, satu persatu mulai memulangkan diri. Nino mengantarkanku pulang ke Kost. Setibanya di depan Kost-an, hujan deras tetiba mendera. Terpaksa Nino berteduh di teras. Lama, kami hanya diam sementara Nino menatapku dengan pandangan aneh. Semakin merasa risih karena lampu teras juga sedang mati.

“Kenapa kamu pandangi aku begitu?” Tanyaku risih.

“Bukan salahku,” Kilahnya.

“Terus aku yang salah?”

“Iya. Kamu salah karena terlalu menarik.”

“Sudah berapa cewek yang kamu godai begini?”

“Dan sudah berapa cowok yang kamu tetak sejahat ini?”

“Haha. Ah, sudah. Pulang sana, katamu besok jam 7 ada kuliah. Simpan saja gombalanmu untuk cewek lainnya. Hehe.”

“Kan masih hujan. Tega kali kau mengusirku, Qi.”

“Makanya jangan aneh-aneh.”

“Ok, siap Sahabati. Besok kita ngopi lagi ya, sama Oomku. Kita lanjutkan pembicaraan tentang rencana buat jadi reseller kuenya. Lumayan buat nambahi uang jajan kan, Qi”

“Aduh, kamu ini Nino. Semangat sekali, kuliah, organisasi sama jualan jalan semua.”

“Iya dong, semangatnya Pancalogi GMNI sudah mendarah daging nih. Haha. Ideologi, Revolusi, Organisasi, Studi dan Integritas. Kalau di PMII apa namanya?”

“Apa ya? Adanya Tri Motto: dzikir, fikir, amal sholeh. Tri Khidmad: taqwa, intelektual, profesional. Tri Komitmen: kebenaran, kejujuran, keadilan.”

“Banyak amat. Berat tu.”

“Banyak, berat itu wajar. Adalagi organ aku satu lagi, CSSMoRA, slogannya: Loyalitas tanpa batas.”

“Jadi kalau kerja meski tidak dibayar tetap loyal ya? Haha. Bercanda.”Tawa kami pecah. Namun segera terhenti ketika Bapak Kost keluar dan menyarankan Nino untuk segera pulang.

“Ya, sudah. Aku pamit dulu ya, Qi. Kamu langsung istirahat, tidur yang nyenyak jangan mimpi, apalagi mimpiin aku. Tetap jaga semangat ya, sekalipun tidak suka farmasi tapi kamu harus selesaikan apa yang kamu mulai.”

“Maksud kamu?”

“Kamu cewek pintar, pasti paham apa yang aku maksud. Aku pamit dulu ya. Aku jemput besok malam jam setengah tujuh.”

“Ok, Bung!” Segera ia membuka jok sepeda dan memakai mantel lalu pergi bersama hujan yang sudah tinggal gerimis.

Ah, hujan ini. Ada apa dengan hujan? Katanya, tiap rintiknya mampu membuat batin merintih. Bercandaannya kid jaman now, hujan itu 10% genangan, 90% kenangan. Tapi sepertinya perlu ditambah lagi, hujan adalah cara langit mengendapkan sepi setiap insan yang sedang dituding rindu. Ah, selalu baper dengan momen yang seperti ini. Kebanyakan nonton sinetron apa drama Korea ya? Haha.

Aku masuk kamar, kantuk masih harus aku lawan. Pukul dua dini hari, jurnal praktikum untuk esok jam 8  sudah menunggu aku kencani di meja belajar. Semangat! []

 

Bung
Click to comment

Komentar

To Top