Catatan Perut

Dari Indonesia Ke Meikarta atau Wakanda

Kiriman tautan berita yang tetiba nyelonong begitu saja ke ponsel membuat saya terkesiap. Tautan yang bukan saja mengagetkan, namun berhasil mengusik ritual ngopi pagi saya. Selang sepersekian detik, di bawah tautan itu, muncul sebuah pertanyaan dari si empunya pengirim tautan: apakah Indonesia akan benar-benar bubar tahun 2030?

Saya kemudian bertanya balik? Apakah menurutmu kita benar-benar bersatu hari ini? Jika iya, di bagian mana kita benar-benar bersatu? Bukankah kondisi kita sekarang mirip sindiran kitab suci yang berbunyi “tahsabuhum jamiian waqulubuhum syatta”. Kelihatannya, nampaknya, seolah-olah berkumpul, namun kenyataannya terpecah belah.

Lama sekali kawan itu tidak menjawab. Ia hanya membaca balasan saya. Selebihnya nampaknya ia sedang merenung, atau bisa jadi tidak bernafsu untuk menjawab. Saya tidak tahu. Yang jelas sampai tulisan ini selesai, jawaban yang saya tunggu tidak pernah muncul. Mungkin kawan itu kesal, sebab ia berniat mengirimkan pertanyaan, bukan dijawab malah balik ditanya. Teknik ini kerap saya gunakan untuk melancarkan serangan balik dari pertanyaan-pertanyaan interogatif yang biasanya datang secara tiba-tiba. Tentu saja teknik ini lahir dari filosofi sepak bola bahwa pertahanan terbaik adalah dengan cara menyerang.

Lepas dari itu semua, saya benar-benar penasaran dengan pernyataan yang meramalkan bahwa Indonesia akan bubar tahun 2030. Penasarannya saya terletak bukan pada bubarnya, namun pada ramalan tahunnya. Kalau urusan bubar, saya yakin semua negara kelak akan bubar, minimal bubar karena kiamat. Persoalannya prediksi itu mencantumkan tahun yang pasti: 2030.

Tiba-tiba, saya teringan buku The History of The Decline and Fall The Roman Empire anggitan Edward Gibbon. Di dalam buku itu, Gibbon berkata secara lugas bahwa runtuhnya moralitas adalah penyebab utama kehancuran sebuah bangsa. Runtuhnya moralitas itu paling banal dan nyata ditengarai Gibbon melalui misalnya oleh kian mewabahnya gejala hidup bermewah-mewah. Masyarakat yang bermewah-mewah adalah masyarakat yang melampaui kebutuhan dalam bahasa Baudrillard, yakni kondisi di mana kita hidup dalam kecenderungan untuk memenuhi keinginan yang sebetulnya di atas atau bahkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebutuhan kita.

Tidak hanya berhenti di situ saja, Gibbon menarik sebuah kesimpulan yang menghunjam bahwa tanda-tanda kemunduran sebuah peradaban juga tertetak pada semakin menganganya jurang disparitas antara elit dengan jelata. Antara yang kaya dengan yang papa. Antara yang sugih dengan yang kere.

Kalau merujuk pada apa yang dikatakan Gibbon, tidak usah menunggu 2030, sebetulnya sekarang pun gejala itu sudah ada. Bahkan cenderung galib dan lumrah. Siapa di antara kita yang meminjam istilah Fredrich Yunadi—tidak suka hidup dalam kemewahan? “Saya suka kemewahan,” kata Yunadi ketika diwawancarai Najwa Shihab.

Orientasi hidup rata-rata kita nampaknya adalah kekayaan. Kesuksesan dihitung dari banyaknya benda-benda dan perabot yang kita miliki. Ini jelas kekeliruan yang sangat fatal. Sebab kaya dan miskin tidak ada hubungannya sama.

Sekali dengar harta benda. Kaya itu tidak miskin. Miskin adalah kondisi di mana kita selalu merasa fakir. Fakir adalah kondisi di mana kita selalu merasa butuh dan kurang. Inilah pangkal persoalannya. Mengapa kecenderungan sekarang orang-orang memiliki ponsel lebih dari satu? Sedemikian sibuk dan banyakkah urusannya sehingga satu ponsel saja tidak cukup? Jika kita perpanjang daftarnya, di banyak persoalan kita akan dengan sangat mudah menemukan hal-hal seperti itu.

Jadi apakah Indonesia akan bubar? Sekali lagi saya jawab iya. Kapan? Ini dia masalahnya. Saya tidak mengerti persis kapannya. Mungkin kelak jika kiamat sudah kurang dua hari. Kalau sudah bubar kita bagaimana? Mudah saja. Kita bisa pindah ke Meikarta atau Wakanda. []

Dari Indonesia Ke Meikarta atau Wakanda
Click to comment

Komentar

To Top