Celomet

Teori Kontraktualisme: Jalan Akhir Mencapai Kesepakatan Dalam Kebaikan

Persoalan nilai dan moralitas, yang acap kali kita temui dalam kehidupan sehari-hari menimbulkan sejumlah pertanyaan mengenai apa yang menjadi persoalan dan apa yang seharusnya menjadi persoalan. Sebagaimana halnya kaum egoisme dalam kajian etika sosial ini. kaum egoism berpendapat ketika ada sebuah keinginan seoalah tingkatannya sudah menjadi sebuah kebutuhan, maka ini adalah hal yang rasional untuk dilakukan. Kenapa? Karena di dalamnya terdapat sebuah argumentasi kuat yang timbul dalam diri, sekalipun argumentasi tersebut tidak baik menurut pandangan masyarakat. Begitu juga kaum altruism yang melakukan ataupun berbuat baik sesuai dengan tatanan masyarakat. Tapi dalam kebaikannya menuju puncak aktualisasi diri tidak harus membutuhkan sebuah alasan. Bagaimana mungkin saya melakukan sesuatu harus diiringi dengan orang yang membutuhkan. Lalu bagaimana jika saya balik? Saya melakukan suatu hal yang baik tanpa orang tersebut datang dan hadir kepada saya.

Kontraktualisme secara kasar bisa kita sebut sebagai cara pandang individu ataupun masyarakat dalam berinvestasi untuk memperolah suatu keuntungan yang jumlahnya tidak dapat dihitung oleh jangka waktu. Artinya, bisa jadi dalam jangka waktu yang pendek atau bisa jadi jangka waktu yang cukup lama. Atau bisa juga tidak dalam dunia ketika ruh, spirit, dan jiwa hilang dari hakikat benda sebagaimana yang dikatakan oleh kaum materialism. Namun, ketika sebuah tindakan atau sebuah perjanjian disepakati dan atau sifatnya memaksa, ada baiknya kita mengikuti kaum utilitarian yang dianggap sebagai ‘etika sukses’. Kenapa bisa demikian dikatakan sukses? Karena di dalamnya ada sebuah dorongan kepada manusia untuk melakukan hal yang baik dan sebisa mungkin meninggalkan hal-hal yang buruk. Seperti utilitarian tindakan, yang berprinsip:”bertindaklah sedemikian rupa sehingga tindakan tersebut menghasilkan kebaikan/kebahagiaan bagi sebanyak mungkin orang.”

Prinsip moral sama sekali tidak ada kaitannya dengan hasrat dan keinginan individu. Kembali lagi pada prinsip orang nusantara yang bersifat kolektif. Keterkaitannya dengan kepentingan kolektif artinya menghindarkan manusia pada tindakan yang menghancurkan prinsip utilitarian yang berlaku sebagai manusia paling ikhlas. Nah rangkaian dan aturan prinsip inilah pada akhirnya akan menciptakan keberfungsian sebagai standar kebenaran dan kebaikan. Ada nilai dan kesepakatan the addresses to a yes.

Dua konsep kontraktualisme terbagi menjadi dua bagian. Yakni kondisi alamiah (state of nature) dan kontrak sosial (social contract). Akan lebih mudah saya memberi contoh keduanya dalam analogi keberpihakan manusia terhadap sebuah investasi terselubung. Seseorang menolong pengemis. Dalam dirinya ada sebuah perasaan yang tidak mengenakkan. “Jika saya tidak menolongnya, akankah ruh dan jiwa saya nanti diterima oleh Tuhan? Padahal saya tahu jika Tuhan selalu memperhatikan setiap gerak gerik saya. Dan jika Tuhan marah, saya akan masuk neraka. Siapapun tahu kabar ihwal neraka yang sangat tidak menyenangkan. Setiap hari akan menerima cambukan dan penyiksaan.” Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan hal buruk akan terjadi, maka seseorang bersepakat dengan dirinya untuk melakukan kebaikan. Dalam kontraktualisme itulah hal yang dianggap sebuah tindakan bermoral, sekalipun dalam hal ini konteksnya ada sebuah harapan agar dihindarkan atau setidaknya mengurangi kemungkinan hal buruk terjadi.

Berikutnya kontrak sosial dalam kontraktualisme. Anda mungkin bertanya-tanya apa maksud dari kontrak sosial yang digagas oleh filsuf seperti Thomas Hobbes, John Locke, Rousseau, dan Rawls yang lebih dikenal sebagai filsuf politik ketimbang filsuf moral. Di dalam hal ini selalu ada hal politis ~tidak terlalu jauh jika hanya berpikir politik kotor~ dalam kejadian yang ada di dalam masyarakat. Dasarnya ‘kondisi alamiah’ dan ‘kontrak sosial’ menurut para filsuf adalah dua hal yang nyaris sama dalam menghasilkan sebuah eksperimen. Di mana keduanya dielaborasikan menjadi satu kesatuan. Pendeknya, tugas eksperimen tersebut adalah merasionalisasi ‘kondisi alamiah’ dan menyingkap basis ‘kontrak sosial’ yang sifatnya abstrak baik dari struktur sosial maupun politik.

Fondasi kontrak sosial semisal dalam organisasi yang tertumpu pada gagasan awal. Jika pertimbangan ‘kontrak sosial” indikasi awal adalah sebuah perjanjian yang memiliki kekuatan perjanjian pada janji secara umum, maka hal ini harus diperhatikan betul oleh seorang pemimpin. Ini hal lainnya. Tidak ada sejarahnya ~mungkin~ sebuah lembaga yang menghadirkan seluruh elemen masyarakat ataupun anggota organisasi dalam mengambil suara persetujuan untuk membentuk sebuah kesepakatan yang diatur dalam aturan-aturan. Dengan kata lain, tidak ada dokumentasi secara eksplisit untuk menggambarkan bagaimana jalannya sebuah kontrak yang sudah dijanjikan diawal. Antara pemimpin dan bawahan diberi ruang melakukan kesepakatan melakukan kontrak sosial. Benarkah ini adalah sebuah cara untuk mencapai sebuah kesetaraan atau equilibrium?

Teori Kontraktualisme: Jalan Akhir Mencapai Kesepakatan Dalam Kebaikan
Click to comment

Komentar

To Top