Celomet

Nasib Bu Sukma Dalam Sepenggal Puisi

Tetiba, salah satu produk sastra: puisi disebut-sebut di masyarakat Indonesia. semua level masyarakat dan kelompok masyarat memaenkan lidah, kemampuan, gagasan dan sudut pandang tetang puisi. Usut punya usut, itu terkait puisinya Sukmawati Soekrano Putri. Puisi yang dibacakan saat salah satu acara pakaian perempuan di Ibukota tersebut, sebagai berita utama di negeri ini. Acara yang dihadiri oleh Tokoh-Tokoh perempuan termasuk Menteri Susi, presenter handal Mata Najwa dan lain dikemas sebagai ajang bagi perempuan Indonesia.

Sastra tak pernah salah. Sastra dihasilkan selain sudut pandang penulis juga realitas sosial. Bagi orang kelompok orang yang menganut teori sebuah karya sastra adalah kematian penulis, sastra lebih mandiri dari penulisannya sendiri. Sastra lahir sebagai kritik sosial yang berkembang di masyarakat. bisa tentang norma, aturan, kekuasaan maupun perilaku beragama bagi penganutnya.

Berikut adalah puisi versi lengkap yang saya ambil dari media online.

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam

Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah

Lebih cantik dari cadar dirimu

Gerai tekukan rambutnya suci

Sesuci kain pembungkus ujudmu

Rasa ciptanya sangatlah beraneka

Menyatu dengan kodrat alam sekitar

Jari jemarinya berbau getah hutan

Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia

Saat penglihatanmu semakin asing

Supaya kau dapat mengingat

Kecantikan asli dari bangsamu

Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif

Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam

Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok

Lebih merdu dari alunan azan mu

Gemulai gerak tarinya adalah ibadah

Semurni irama puja kepada Illahi

Nafas doanya berpadu cipta

Dari beberapa bait di atas, ada 2 bait yang dari beberapa referensi aku baca, dikaitkan dengan kebudayaan dan agama Islam. 2 bait tersebut menjadi sasaran tembak tentang lahirnya anggapan adanya penistaan agama dalam puisi tersebut.

Berikut kutipan pada bait pertama :

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam

Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah

Lebih cantik dari cadar dirimu

Ini dikaitkan dengan ajaran Islam di dianggap penistaan karena adanya kata “Cadar”. Perdebatan cadar sebenarnya tak pernah selesai, sama halnya tak akan selesai diskusi tentang Jilbab, Hijab dan lain sebagainya. jika akhirnya ada yang mengklaim itu adalah penistaan agama Islam seharusnya ada hak pula yang meyakini itu bukan bagian dari ajaran agama Islam. Karena disana ada ruang yang luas untuk di diskusikan. 

Disisi lain, Penggunaan Cadar, atau Jilbab, atau apapun namanya dengan label syariah atau syar’i di bumi nusantara belum lama berjalan, paling sekitar tahun 1980, padahal Islam di Indonesia sudah ada sejak abad 13, bahkan ada yang meyakini sejak abad 6 atau abad 7.

Bait selanjutnya yang menurutku menarik :

Lihatlah ibu Indonesia

Saat penglihatanmu semakin asing

Supaya kau dapat mengingat

Kecantikan asli dari bangsamu

Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif

Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Kutipan di atas sebenarnya merefleksikan kegundahan sebagai orang “asli” Indonesia. tentang perubahan yang terlalu cepat, terlalu singkat dan sering kali mengatasnamakan agama. Apakah yang gundah tentang perubahan penganut agama Islam hanya kaum “Islam abangan” Belum tentu juga. Sekarang juga banyak tokoh agama yang gundah dengan perilaku penganut agama masing-masing.

Berikut kutipan selanjutnya, yang mungkin ini dianggap bait paling parah dalam menistakan ajaran Agama Islam.

Aku tak tahu syariat Islam

Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok

Lebih merdu dari alunan azan mu

Gemulai gerak tarinya adalah ibadah

Semurni irama puja kepada Illahi

Nafas doanya berpadu cipta

Kutipan di atas menjelaskan tentang kidung Ibu Indonesia Ibu Indonesia lebih merdu dibandingkan Alunan Azan. Mungkin bagi orang awam, Kita masih bertanya-tanya apa itu Kidung Ibu Indonesia. Kutipan di atas mengingatkan saya pada Pidato Gus Mus di Pekalongan (kalau tidak salah) sebagai pembuka sebelum menceritakan ulang cerpen munomental belia “Gus Jakfar”. Beliau bercerita tentang orang tua yang adzan subuh dengan suaranya ceking dan membuat orang penasaran. Hingga pada akhirnya adzan sendiri, Iqomah sendiri, lalu menjadi Makmum pada diri sendiri. Misalnya cerita pengantar Gus Mus itu fiksi, pada akhirnya kita harus jujur, semuanya sudah biasa terjadi dalam Ibadah sholat kita sehari-hari.

Bisa jadi kajian masalahnya di kata “Merdu” yang membandingkan merdunya Kidung Indonesia dengan Azan. Mari kita analisa, Bukankah merdu itu kaitannya dengan suara atau sumber suara, bukan apa yang di suarakan. Kita bisa menilai suaranya Rhoma Irama merdu, Elvi Sukaesih atau lain sebagainya. atau Suaranya Arman Maulana, Ariel dan lain sebagainya. atau lain sebagainya, yang jelas suaraku tidak merdu, apapun itu. Puisikah, Nyanyikah, Adzankah atau bacaan lainnya.

Saya kok cenderung mulai galau tentang mengekspresikan kritik sosial yang saat ini di tanggapi serampangan dan asal berkumandang. Aku ingat memenya Presiden Jancukers, Sujiwo Tedjo “Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitabnya. Kawatir besok tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan”

Lalu, kalau bait-bait puisinya Sukmawati ada unsur penistaan agama, bagaimana dengan penganut agama yang hanya dalam KTP, Ibadah ogah-ogahan, korupsi meningkat tajam dengan agama sebagai tameng perjuangan. Atau yang menjual agama demi kepuasan pribadi dengan atas nama apapun. Biro Umroh kah, Biro Haji kah, atau biro demo demi kekuasaan belaka.

Akhirnya, Sastra tidak bisa berdiri sendiri seperti orang yang telah di jamin asuransi. Sastra lahir dan berkembang atas realitas dan keadaan yang ada. Sastra bagian dari kritik sosial yang tak ditemukan solusi memperbaiki keadaan. Terlepas baik dan buruknya kualitas puisi tersebut, Puisi Bu Sukma adalah kritik sosial atas keadaan negeri ini.

Allah Maha Tahu, dan kita adalah kelompok yang sering sok tahu. []

Nasib Bu Sukma Dalam Sepenggal Puisi
Click to comment

Komentar

To Top