Puisi

Potret Kenyataan Dalam Puisi

*buat Nana, adikku

 

Malam ini aku bisa saja menulis puisi, misalnya tentang senja keemasan yang baru saja aku saksikan, cinta yang memekarkan ciuman panjang, malam dan purnama yang membuat aku dan kamu bias berpikir, ini hari yang sempurna untuk mati

Tetapi, sekali lagi di sudut gelap kota Sang Raja ini, wajah mamak kembali terlintas pada sepetak ruang pasar tradisional yang hilang dimakan pembangunan beserta para pedagangnya

Bukankah mamak kita juga penjual sayuran di pasar tradisional?

Apa pula guna puisi kalau tak mampu membangunkanmu esok hari?

 

Malam ini aku tidak ingin menulis puisi

Tetapi, angin ribut dari seberang yang tidak tertahan oleh hutan-hutan yang kian jarang menghempas potret pemerintahan yang adem-ayem-tentrem di tayangan-tayangan televisi

Aku keluar! Ku lari! Aku berlindung ke rumah saudaramu!

Astaga! Aku menyaksikan orang-orang proyekan kelewatan gila!

Mereka membeli harga diri aparatur negeri!

Mereka mengganyang hak asasi!

 

Sekarang tidak ada jalan lari!

Jalan ke rumah saudaramu sudah dipasang portal oleh pemodal!

Aku tidak bisa lari!

Saudara-saudarimu tidak bisa lari!

Aku panggil-panggil kamu!

Aku panggil-panggil kamu!

Aku panggil-panggil kamu!

 

Kami harus bangkit dan terus bangkit pada bait-bait api!

Camkan! Ini hari terburuk untuk kita mempercepat mati!

 

Yogyakarta, 04 April 2018

Eko Nurwahyudin, Penggiat sastra dan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Potret Kenyataan Dalam Puisi
Click to comment

Komentar

To Top