Catatan Perut

Kepada Apa Kami Harus Menaruh Rasa Takut?

Baru kemarin saya tidak serius mendengar khutbah Jumat. Biasanya saya, kalau tidak sedang ketiduran, suka meneliti apapun terkait khatib Jumat: ya gayanya, isi khutbahnya, intonasi dan resonansi panjang pendek tajwid bahasa Indonesia, dan tentu saja mimik dan air mukanya.

Maklum, Jakarta adalah kota besar, macet pula. Banyak orang marah di jalanan karena harus bergulat dengan kemacetan. Banyak umpatan, melimpah serapah, dan udara sesak bunyi klakson yang menyiksa telinga.

Kemarahan mereka celakanya tidak bisa lunas dan reda di jalan raya, sampai tempat kerja mereka masih memendam marah, sampai rumah masih kesal, ngomel sendiri, dan sangat mungkin, saat di rumah ibadah, saat di masjid dan musala, mereka juga kerap masih terlihat marah, termasuk saat khutbah.

Betapa untuk menyampaikan wasiat takwa saja, mimik muka khatib-khatib Jumat di Ibokota tak ada bedanya dengan seorang suporter sepakbola yang klub kesayangannya baru menuai kekalahan. Marah, merah, nadanya meninggi dan emosi.

“Kita sebagai umat muslim, terutama ente-ente yang masih muda, harus meningkatkan takwa kepada Allah Swt. Apa itu takwa? Takwa adalah takut kepada Allah. Lu kalo ndak takut kepada Allah, terus takut ke sapa lagi? Gubernur?” Katanya lantang.

Saya manggut-manggut. Saya tidak yakin kalau khatib itu didengarkan serius oleh jamaahnya. Jamaah Jumat adalah jamaah yang telinganya sudah terdidik untuk tidak bergeming saat mendengarkan suara parau teriakan khatib. Mereka pasti memilih tidur.

Sampai kemudian saya memeriksa diri saya sendiri. Sampai kemudian saya ingat kiriman gambar seseorang, bahwa generasi kita hari ini sejatinya sudah ndak takut Tuhan lagi. Mereka sudah secara naluriah dibentuk oleh “penjajah” untuk lebih takut kepada “signal susah, loding parah, dan batre lemah” daripada kepada Allah Subhanahu Wataala.

Kepada Apa Kami Harus Menaruh Rasa Takut?
Click to comment

Komentar

To Top