Catatan Perut

Grup Wasap dan Sirnanya Nada Dering

Sepagi tadi saya membuka-buka henpon. Saya memandanginya, fisik sekaligus deret aplikasinya. Kesimpulan saya: biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa.

Lalu tetiba sebuah nada notifikasi masuk sembari persis dibarengi getaran tubuh ponsel itu. Notifikasi itu nampaknya datang dari salah satu grup wasap yang saya miliki. Lebih pasnya, yang saya menjadi salah satu jamaah atau anggotanya.

Saya melihat sekilas. Oh ternyata seorang teman mengaplud meme hari Kartini yang singkatnya ingin menunjukkan kalau Kartini itu anak dari istri ketiga seorang bupati, lalu ketika dewasa Ia menjadi istri ketiga dari seorang bupati pula. Saya ndak tertarik. Saya menutup aplikasi wasap itu dengan perasaan masyghul.

Selang beberapa masa, apa boleh dikalam, beberapa notifikasi wasap masuk ke henpon saya lagi. Saya membukanya, memelototinya, ada artikel puanjang di sana: ada iklan penawaran trevel haji, wisata umrah, ziarah wali songo, pelesir wali lima, promo kepulauan seribu, info beasiswa miskin, sampai artikel kiat membangun rumah tangga sakinah mawaddah watahmatullahi wabarokatuh menghajar henpon saya sehingga nada notifikasi menjadi sedemikian riuh dan belepotannya.

Anda tahu, saya sengaja meneliti diri sendiri beberapa hari ini. Saya mencoba untuk membunyikan nada  dering henpon saya meskipun dengan kadar suara yang paling rendah.

Sudah lama, hampir 2 tahunan, henpon saya hanya disetel vibret yang artinya hanya ngeder (bergetar) saat ada panggilan masuk, pesan singkat, notifikasi media sosial, dan juga pemberitahuan grup wasap.

Grup wasap, setelah saya teliti, adalah biang kerok utamanya. Saya memiliki, maksudku tergabung, baik sukarela ataupun dukarela–karena tiba-tiba dimasukkan begitu saja tanpa izin–tidak kurang dari 30 grup. Edyan tenan. Banyak nian. Sesibuk itukah saya. Seramai itukah hari-hari saya? Entah.

Seorang teman datang dan bercerita bahwa sesunguhnya banyaknya grup grup wasap berbanding lurus dengan banyaknya urusan, kesibukan, dan juga pekerjaan. Entah benar atawa tidak saya ndak begitu menghiraukan.

Tapi eniwei, saya menaruh rasa kagum kepada mereka yang selalu memiliki energi berlipat untuk selalu aktif dan “hadir” di setiap grup yang diikuti. Energi mereka nampaknya lima kali lipat dari energi manusia biasa.

Bayangkan, mereka sanggup aktif ngobrol dan diskusi ngalor-ngidul soal apa saja (gagasan) dan siapa saja (menggunjing dan rasa-rasan), kapan saja dan di mana saja, bahkan saat di jam aktif ketika manusia pada umumnya sedang bekerja. Saya heran lagi terharu, kok ada manusia memiliki karunia kekuatan “seaktif” itu.

Dan begitulah. Dari mereka saya bisa belajar banyak bahwa wasap adalah biang kerok sirnanya era ringtun.

Dulu orang membenci nada dering monophonic yang hanya tit tit tit itu. Merka bermigrasi dan memuja datangnya era poliphonic yang lebih genap menyuarakan sebuah nada. Lalu dari poliphonic ganti era menjadi nada dering lagu-lagu: mulai lagu pop, dangdut, kasidah, salawat sampai mars organisasi.

Dan sekarang semuanya sirna. Dunia hanya bergetar namun tak ada keramaian. Ndak ada nada dering, yang ada hanyalah getaran henpon semata.

Dulu saya ingat, ketika masih menjadi pengguna fanatik nokia 5110 yang berantena dan bernada dering monophonic itu, seorang teman mengejek saya secara serius “mbok ya ganti henponnya. Kentut saja nadanya sudah poliphonic, masa henponmu masih monophonic saja”.

Di situ kadang saya merasa anu. []

Grup Wasap dan Sirnanya Nada Dering
Click to comment

Komentar

To Top