Celomet

Berladang Kambing Hitam di Tahun Politik

Ting… ting… ting….ting…..ting……………. ting

Seketika paket data dinyalakan. Kerlap-kerlip lampu layar berbarengan dengan bunyi getaran ringan saling bersahut. Ponsel pintar itu tak henti-hentinya berdering dalam tempo satu menitan. Lalu lintas notifikasi menjadi ramai merayap. Keadaan seperti ini hampir selalu dialami setiap pagi menjelang, saat kokok ayam belum lunas ditelan gendang telinga. Lebih sudah enam bulan, semenjak ia beli dari plaza elektronik pingir Jakarta, telepon genggam merek xiomi menjadi barang yang tak boleh jauh dari empunya.

Mohammad Soleh, nama yang tercatat di KTPnya, lelaki bujang yang tahun ini akan menanggalkan status bujangnya. Ia akan menikahi perempuan pujaannya sewaktu mondok dalam waktu dekat. Soleh yang berprofesi sebagai penulis sekaligus dosen tetap di salah satu kampus swasta di Jakarta, menceritakan bahwa ia mempunyai tiga puluh tujuh grup WA, delapan grup telegram, sembilan grup bbm.

“Belum lagi aplikasi sosial mas, semacam facebook, twitter, line, instagram, dan saya juga memegang beberapa akun sosial komunitas,” tambahnya.

Apa yang dialami Mohammad Soleh mungkin sama dengan yang kita alami. Telepon genggam kita sibuk dengan pemberitahuan, entah itu ping, bc, dm, retweet atau konfirmasi pertemanan dari mantan waktu SMA yang baru saja ganti akun sosial, lantaran lupa password akun lamanya.

Keadaan ini (bersosial) adalah hal lazim, lantaran manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial, atau bahasa kecenya zoon politicon. Satu istilah yang dinukil dari filusuf Yunani: Aristoteles. Murid Plato ini berpendapat bahwa pada dasarnya manusia itu dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Karena itu, meskipun mempunyai banyak hal, baik kekayaan juga kedudukan, pastilah masih membutuhkan manusia lain. Untuk sekedar berkomunikasi, berinteraksi dan bersosialisasi.

Jangan heran jika di lingkungan masyarakat ada waktu khusus dalam sebulan untuk saling bertemu, entah berupa kerja bhakti, sosialisasi basmi serangga nyamuk, arisan, manaqib atau kegiatan lainnya. Saling sapa, saling tanya kabar, saling saran atau saling tukar informasi. Entah itu pekerjaan, pegadaian, atau utangan.

Waktu mengubah banyak hal, termasuk cara dan media bersosial. Semenjak orok penggila teknologi, Andy Rubin menemukan sistem kerja android pada telepon genggam dan perusahaan telekomunikasi Indonesia, telkomsel menggunakan tagline “dunia dalam genggamanmu”, dunia melesat begitu dahsyat.

Ruang bersosial tidak lagi terhenti pada belenggua dunia nyata, namun bergerak pada ruang dunia maya. Ada forum semacam Kaskus untuk saling tukar informasi dan diskusi. Menyapa teman dengan facebook ataupun twitter, juga aplikasi-aplikasi sosial lain yang dengan mudah diunduh lewat telepon genggam. Yang di zaman Nike Ardila tak kita temui.

Dari ruang maya itu, kemudian terbentuk ekosistem berupa klan-klan atau group-group sendiri sesuai kecocokan. Semakin banyak ruang jelajah kita, besar kemungkinan akan sebanding lurus dengan jumlah grup media sosial yang kita ikuti.

Orang yang kesehariannya menyukai hewan-hewan semisal ikan cupang, ia akan tertarik mengikuti grup facebook Jual beli Ikan Cupang Indonesia. Bagi mereka yang menyukai sepak bola, tidak mungkin ngefollow club tari ponco-ponco. Untuk mereka yang mencintai Habib Rizieq, pastilah mengikuti akun @DPP_FPI. Begitu dan begitu seterusnya, termasuk di dalamnya tentang ideologi juga organisasi.

Spam dalam kebaikan

Pernahkah teman-teman menerima pesan ajakan untuk berbagi pesan kebaikan yang kemudian dibarengi kesialan jika tidak diteruskan? Mungkin kalian tidak sendirian, saya pernah mengalaminya. Untuk hal ini saya lebih suka menyebutnya spam dalam kebaikan. Pesan-pesan kebaikan yang tidak diinginkan.

Ini adalah salah satu praktik ‘dakwah liar’ yang mustinya harus ditertibkan. Ciri yang paling dasar gampang sekali: biasanya kalimat terakhir dalam pesan tersebut tidak bebunyi misalnya: “Sampaikan pesan ini ke sepuluh temanmu, maka kamu akan dimudahkan rejekinya, jika tidak kesialan demi kesialan akan datang menghampirimu selama empat puluh hari sembilan puluh tiga malam”.

Klasik tapi kadang membuat kita gerah. Harusnya setiap kebaikan itu membawa kegembiraan, bukan kegetiran nan mengecutkan perasaan. Betul saudara?. Takbir. Takbir. Takbir.

Dulu pesan-pesan seperti itu kita temui dalam bentuk selembar kertas HVS A4 yang difotokopi, dikirim ke majlis-majlis sebagai pesan dari surga. Berkembangnya teknologi, syiar dengan fotokopi kertas itu bermetamorfosis menjadi pesan pendek elektronik (SMS). Kemudian diunggah dalam status sosial serta portal website nan kemudian dishare di grup-grup wall facebook ataupun di grup-grup whats app. Tak kurang puas ditambahlah broadcast pada lini pesan BBM dan retweet pada cuit twitter.

Hal semacam ini memunyai beragam motif. Ada yang takut kena sial lantaran terlanjur sudah baca kalimat terakhir pada pesan itu, ada juga yang menginginkan iming-iming janji, entah kekayaan ataupun kesuksesan, ditambah bonus kapling tanah surga. Entahlah, untuk pesan semacam ini, saya lebih senang menggunkan istilah spam kebaikan.

Dari Spam, Trojan Berkecambah

Mau tak mau hari ini kita dihadapkan pilihan like and dislike. Menjadi bagian dari ‘kami’ atau ‘mereka’. Bermedia sosial hari ini kurang lebih seperti itu. Tidak ada ruang-ruang untuk berdiskusi, yang ada menyanggah tak mau kalah. Membela kebenaran atas kebenaran yang mereka pahami dari tempurung kepalanya.

Alhasil, saling tuding menuding, kafir mengkafirkan adalah kata yang sering kita temui. Menggelantung pada tiap layer telepon genggam saat kita scroll. Entah itu di wall teman, rekan kerja, guru SD, bahkan salah satu anggota keluarga dan juga akun-akun robotic yang sengaja disponsorkan.

Lantas apa hubungannya dengan trojan? Trojan sendiri adalah semacam virus yang cara kerjanya mengambil data-data pengguna di mana penggunanya sendiri tidak menyadari hal ini. Serupa di awal, perebutan kebenaran tidak saja di mimbar-mimbar juga speaker masjid. Tetapi juga perebutan trending topic dalam tagar. Broadcast portal dalam bentuk share dan like semakin hari semakin gaduh dan rusuh.

Merebutkan kemenangan dengan berdebat ihwal kebenaran, kurang sah jika tidak mengajak kesalahan. Berbekal dalil dan bacaan share dari grup sebelah, kompetisi digulirkan di media sosial. Untuk mereka yang unlike adalah lawan yang nyata. Kebenaran didudukkan pada subjektifitas tanpa ada ruang-ruang dialog, alias ahlu ngeyel.

Dalam perang media sosial itu, seperti virus trojan, kita tak pernah sadar. Kerap sekali, kita andil menggulirkan bola panas. Dengan dalih counter narasi atau apalah. Tetap saja menjadi apa yang disebut kambing hitam, meski kebenaran yang kita usung boleh jadi kebenaran objektif. Dalam benak ahlu ngeyel kebenaran objektif itu tetaplah salah dan kalah. Atau mungkin mereka yang menyebarkan kebencian itu juga sama: tak pernah sadar bahwa mereka telah menyebarkan kebencian.

Kita tak pernah sadar bahwa kemenangan itu harus dimahar mahal. Puncak kalkulasi dari semua itu adalah pertikaian sesama saudara sendiri. Sejatinya apa yang terjadi? Kita adalah orang-orang yang kalah.

Seolah seperti berladang, pertikaian itu ada masa panennya. Puncak panen raya itu mencuat menjelang pemilihan kepala daerah, legislatif juga pimpinan tertinggi negeri ini: presiden.

“Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.s an-Naml, ayat 125)

Wallahu a’lam. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

**) Tulisan ini pernah dibukukan dalam kumpulan esai berjudul “Simulakra Republik Tagar” penerbit Omah Aksoro, April 2017

Berladang Kambing Hitam di Tahun Politik
Click to comment

Komentar

To Top