Celomet

Sudut Pandang Psikologi dalam Melihat Perilaku dan Tahap Teroris

Manusia, di manapun berada dan dalam keadaan apapun tidak dapat dipisahkan dari lingkungan masyarakat. Oleh karena itu menarik jika membahas tentang tingkah laku manusia dalam lingkungan di mana ia melakukan interaksi sebagai makhluk sosial. Dari pola fenomena ataupun tingkah laku yang ditunjukkan oleh manusia, menimbulkan sebuah frekuensi yang menunjukkan attitude kuat atau lemahnya mereka merespon stimulus yang ada. Maksud sikap di sini adalah kecenderungan atau kesediaan tingkah laku jikalau ia menghadapi suatu rangsangan tertentu. Misalnya seseorang yang memiliki sikap positif terhadap hal-hal yang berbau kemanusiaan, jadi setiap kali ketika ada fenomena yang berkaitan dengan kemanusiaan maka ia akan cenderung merespon cepat rangsangan tersebut. Sebaliknya jika ia memiliki sikap negatif terhadap keadaan manusia yang lain, maka ia cenderung tidak akan peduli terhadap keadaan sekitar yang ada di ruang lingkup kehidupannya.

Negara Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia, dengan presentasi sekitar 85% dari jumlah keseluruhan penduduk di Indonesia menurut majelis ulama Indonesia (MUI) pada masa kepemimpinan Suryadharma Ali. Presentasi tersebut bukanlah sebuah angka yang menguntungkan, mengingat pada dekade tahun 80-an jumlah penduduk muslim justru menembus angka 90% dari keseluruhan penduduk di Indonesia. Fenomena ini bukan tidak mungkin terjadi. Beberapa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi adalah karena kuatnya konspirasi yang menyudutkan umat Islam, adanya pelaku tindak terorisme yang berkedok Islam dan membawa ideologi Islam fundamental, lemahnya pengetahuan akan nilai-nilai keislaman sehingga menimbulkan pertikaian di internal Islam itu sendiri. Sehingga tidak heran data yang ditunjukkan oleh Mercy Mission yang menyatakan bahwa ada 2 juta muslim Indonesia murtad dari Islam ke agama Kristen setiap tahunnya. Jadi tidak heran jika Mercy Mission menyebutkan bahwa pada tahun 2035 jumlah penduduk Kristen akan sama jumlahnya dengan penganut agama Islam.

Menurut Imdadun Rahmat mantan Komnas HAM, proses masuknya Islam di Indonesia didasari oleh 4 faktor ideologi. Diantaranya adalah tasawuf, syiah, syariah, dan lokal. Keempatnya seiring berjalannya waktu lalu kemudian berkompilasi sehingga terbentuklah kelompok-kelompok. Walaupun pada awalnya keempat hal tersebut juga pada awalnya tidak dapat menyatu sehingga juga memunculkan kelompok-kelompok. Kelompok-kelompok di sini terbagi lagi membentuk organisasi massa Islam yang lahir berdasarkan ideologi sosialisme Islam, nasionalisme Islam, wahabi, dan lainnya yang akar rumpunnya tetap berdasarkan tasawuf, syiah, syariah, dan lokal. Nahdlatul Ulama misalnya yang berdasarkan percampuran sosialisme Islam dan nasionalisme Islam yang sifatnya tradisionalis. Ada juga Muhammadiyah yang lahir karena ideologi sosialisme Islam dan wahabi yang sifatnya lebih modern. Ini tidak menutup kemungkinan kelompok-kelompok ekstrim yang lahir dari kelompok radikal timur tengah seperti Ikhawanul Muslimin, Hizbut Tahrir, ISIS, dll. Nah kelompok inilah yg mendorong lahirnya kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) dan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) di Indonesia yang berafiliasi pada jaringan ISIS.

Seperti yang kita ketahui, bahwa ISIS adalah musuh terbesar tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. ISIS yang merupakan kelompok yang menginginkan tegaknya sistem khilafiyah dalam suatu negara sudah merebah di Timur Tengah seperti Libya, Yaman, Yaman Selatan dll. Setelah kemarin sempat menjadikan Filipina sebagai target markas dan ternyata gagal, sekarang giliran Indonesia yang menjadi target keberingasan kelompok ini.

Kejadian beruntun terorisme yang muncul di Indonesia beberapa hari terakhir cukup mengkhawatirkan. Dimulai dari pemberontakan di Mako Brimob yang menewaskan 5 anggota kepolisian, peledakan bom bunuh diri di Surabaya, peristiwa bom bunuh diri di Sidoarjo, dan beberapa titik ancaman . Hal ini menimbulkan pertanyaan besar, siapakah dalang dari peristiwa ini? Menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian kepada media yang dilansir dari jabar.tribunnews.com pelaku adalah mereka yang berasal dari Jamaah Ansharud Daulah yang berafiliasi pada jaringan ISIS. JAD sendiri di Indonesia dipimpin oleh Abdurrahman yang ditahan di Mako Brimob. Lagi menurut Tito, bahwa motif adanya perilaku terrorism ini disebabkan karena adanya desakan Amerika Serikat dan Rusia. Akibat dari desakan itulah ISIS memerintahkan seluruh jaringannya termasuk di Indonesia melakukan aksi serangan teror.

Lalu apa sebenarnya yang menjadikan jaringan ISIS melakukan tindak teror yang membahayakan orang-orang yang tidak bersalah? Doktrinisasi jelas ada. Kemudian upaya mempertahankan diri dan kelompok juga termasuk. Tapi ini kita coba kaitkan dengan teori psikologi sosial yang dikemukakan oleh Bennis dan Sephard tentang tahap-tahap perkembangan kelompok yang dalam hal ini adalah ISIS. Tahap perkembangan kelompok yang ditulis oleh Sarlito Sarwono terbagi menjadi dua tahap utama yang masing-masing mempunyai tiga subtahap.

Tahap utama yang pertama adalah tahap otoritas yang terbagi menjadi 3 bagian, yakni tahap ketergantungan, tahap pemberontakan, dan tahap pencairan. ISIS menurut hemat penulis masih pada tahap ketergantungan, yakni anggota-anggota kelompok yang masih mengharapkan atasan tampil sebagai pemimpin yang mengatur mereka dalam segala hal. Termasuk ketika ISIS mengalami desakan dari Amerika dan Rusia, maka langkah yang mereka lakukan adalah mengikuti arahan yang diperintahkan oleh pimpinan dalam hal ini melakukan aksi teror dengan maksud menunjukkan bahwa identitas mereka sebagai kelompok masih eksis dan harus tetap diakui keberadaannya. Walaupun di lain sisi juga kita tidak mengingkari bahwa ISIS sebenarnya nyaris masuk dalam tahap pemberontakan. Ini bisa dilihat dari banyaknya anggota mereka yang melarikan diri dan meminta perlindungan negara dari kekejaman anggota militan.

Tahap utama yang kedua adalah tahap pribadi. Tahap dimana cairnya keraguan saling ketergantungan. Inipun terbagi menjadi 3 sub bagian, yakni tahap harmoni, tahap identitas pribadi, dan tahap pencairan masalah antarpribadi. Dalam hal ini kita berkaca pada peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya kemarin. Di mana pelaku bom bunuh diri tersebut adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan 4 anak. Perilaku keluarga ini bisa kita kategorikan sebagai tahap harmoni, di mana semua anggota keluarga merasa nyaman, merasa senang, dan kerukunan keluarga sangat tinggi. Pendek kata, keluarga mereka adalah keluarga yang bahagia. Namun demikian, kerukunan mereka ini amat disayangkan karena digunakan untuk sesuatu yang tidak baik.

Kita tidak bisa membiarkan perilaku ini terus ada. Bagaimanapun terorisme tetaplah terorisme yang mengancam keselamatan masyarakat walaupun dengan dalih agama. Tuhan dalam agama manapun tidak ada yang memerintahkan hamba-Nya membahayakan orang lain. Seperti yang dikatakan oleh Gus Dur, yang paling terpenting dari agama adalah kemanusiaan. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Sudut Pandang Psikologi dalam Melihat Perilaku dan Tahap Teroris
Click to comment

Komentar

To Top