Resensi

Menjaga Toleransi untuk Damai di Bumi

Bumi adalah arena. Berbagai kejadian dan peristiwa terus-menerus terjadi di segala penjuru bumi. Ada perselisihan, ada perang, ada gejolak, dan ada juga kedamaian. Seluruh siklus berputar, saling bergantian menerpa. Dalam semesta, bumi bisa diibaratkan sebagai episentrum dari segala ajang dan rintang.

Bumi dikenal dengan dua bagian yang terpisah berdasarkan sisi, yaitu timur dan barat. Selama ini, para manusia yang hidup di barat merasa lebih unggul dari manusia yang berada di timur. Pandangan ini seolah menjadi diktum yang telah ditetapkan. Padahal, sama sekali tidak demikian. Timur, sama unggulannya dengan barat. Timur juga punya kehebatan-kehebatan di berbagai bidang.

Sebelum cerita ini dibukukan, cerita ini diterbitkan berseri hingga bab empat pada sebuah majalah di Jerman. Sebagian besar masyarakat Eropa mengganggap cerita Karl May ini sebagai kemenangan Eropa atas bangsa-bangsa lain di dunia. Bangsa Eropa sebagai pembawa peradaban dan bangsa-bangsa lain di dunia harus di bawah kekuasaan Eropa—terutama agama Kristen. Padahal, hal itu sangat berlawanan dengan maksud penulis berkewarganegaraan Jerman ini. Oleh sebab itu, ia menambahkan satu bab lagi untuk menegaskan bahwa tidak ada bangsa mana pun yang mengungguli bangsa lainnya.

Ada enam karakter tokoh inti dalam novel ini. Pertama, tentu saja tokoh aku—Karl May—seorang yang bijak dan bertindak sebagai penengah dari setiap konflik. Kedua, Sejjid Omar, seorang muslim asal Mesir, berprofesi gembala keledai yang setia dan pintar, terutama dalam hal memelajari bahasa asing. Ketiga, Waller, seorang misionaris Amerika yang keras kepala, menganggap bangsa Asia bodoh dan akan menyebarkan agama Kristen dengan cara apapun. Keempat, Fu, seorang penganut konfusius dan pemimpin kelompok perdamaian bernama “Shen”. Kelima, John Raffley, seorang bangsawan Inggris yang bijaksana. Keenam, Dilke, keponakan Waller yang keras kepala dan licik.

Karl May yang saat itu sedang berada di Mesir bertemu dengan Sejjid Omar dan Waller. Tujuan mereka kebetulan sama yakni menuju Asia Timur. Karl May bersama Sejjid Omar ke Asia Timur ingin mengetahui wilayah-wilayah Asia. Sedangkan, Waller berambisi “menobatkan” seluruh bangsa Asia yang dianggapnya bodoh, kafir, dan penyembah berhala—terutama bangsa Tiongkok. Ia tak segan menyerang siapa pun yang sedang beribadah selain agamanya. Tak hanya itu, Waller berniat ingin membakar seluruh tempat ibadah di wilayah Asia.

Keinginan Waller didukung dengan semangat kolonialisme yang berkembang pesat pada 1900. Bangsa Eropa tak hanya ingin mendapatkan harta dari bangsa Asia, tapi juga ingin menyebarkan agama Kristen—sebagai bentuk kedigdayaan Eropa. Namun, di tengah perjalanannya, Waller bertemu Fu yang sangat di luar dugaan Waller. Fu sangat pintar bahkan dapat menjelaskan persamaan antara ajaran Kristen, Konfusius dan seluruh agama kepercayaan yang ada di seluruh bumi. Inti kesamaan ajaran tersebut, menurut Fu, “Takutilah Tuhan, sayangi sesama, dan hormati semua orang.” (hlm.29). Waller tak terima, justru ia semakin menggebu untuk meruntuhkan seluruh ajaran Negeri Timur yang kafir.

Dalam penutup buku ini kita dapat membaca artikel Helmut Lielbang yang dikutip dari Mitteilungen Karl May Gesellschaft No. 132/2002 (Jurnal Berkala Paguyuban Karl May, terbitan Jerman). Dalam artikel itu ada sebuah paragreaf yang teramat menggugah keberagaman kita di dunia ini, yaitu, Toleransi yang lahir dari kesadaran bahwa semua orang turut berperan dalam kebudayaan dan pendidikan dengan segala wujudnya. Hanya dengan mengenal orang atau bangsa lain, kita dapat memahami dan menerima mereka, dan ini merupakan prasyarat bagi terciptanya perdamaian (hal 591).

Bukankah manusia itu satu? Meski berbeda agama, ras, dan lainnnya, tetapi tetap satu keturunan Adam.

Semoga bermanfaat. []

Data Buku :
Judul                : Dan Damai di Bumi
Penulis             : Karl May
Cetakan            : II, 2016
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia

Menjaga Toleransi untuk Damai di Bumi
Click to comment

Komentar

To Top