Celomet

Partai, Politisi, dan Artis

Beberapa saat yang lalu, partai-partai peserta pemilu 2019 telah mendaftarkan calon legislatif, mulai dari DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten. Perlu diingat, 2019 ini,  Pilpres dan Pileg akan dilaksanakan bersamaan pada tanggal 17 April 2019.

Sejarah artis sebagai calon anggota terhormat adalah masa lalu yang akan selalu hadir. Setiap kali tahap pencalonan anggota legislatif nama-nama artis yang biasanya manggung di sinetron, FTV, konser akan ganti panggung, ganti profesi dan bisa jadi akan ganti keahlian juga. Mereka akan menggunakan baju safari krim, setelan jas anggaran negara dan fasilitas wah lain sebagainya.

Meski banyak pengamat yang pesimis dan apriori atas kehadiran artis di panggung politik, tak selamanya calon legislatif yang hanya diam dengan tugasnya tersebut. Dari sudut pandang kemungkinan, menjadikan artis sebagai caleg adalah masa depan cerah dan siap saji. Dengan popularitas tinggi, fans banyak dan dekat dengan media publik, syarat atau kelebihan yang perlu dilebih-lebihkan dibandingkan aktifis mahasiswa, aktifis organisasi atau aktifis-aktifis lainnya. Mereka sudah teruji dan terbukti, kalah jauh dengan kader partai yang masih pemula dan amatir dan terplintir-plintir karena keterbatasan dan pengalaman.

Para artis yang nyaleg, ada yang masih pemula, ada juga yang sudah biasa. Ada yang nyaleg dalam partai yang sama tak sedikit pula setiap nyaleg selalu dari partai yang berbeda. Dan begitulah sesungguhnya kehidupan nyata partai di Indonesia. Partai adalah kendaraan, dan para caleg, dengan latar belakang apapun atau kondisi apapun, cukup memastikan selama 4 tahun akan setia pada partai yang dikendarainya, tapi tak sedikit pula, entah kendaraannya yang tak betah atau penumpangnya ingin yang lebih, akhirnya rela turun di tengah jalan dan tak mencari tumpangan.

Ganti partai itu lumrah di alam demokrasi Indonesia. Pernah dengar istilah laki-laki yang setia itu cocok untuk menjadi suami, bukan pacar, Kayaknya di demokrasi modern saat ini pun sama. Kayaknya ada yang kurang setiap politisi tidak pindah partai, bahkan, levelnya sekjend, deklarator atau apapun istilahnya tokoh partai, mereka biasa dan tenang-tenang saja 5 tahun kemudian ganti partai.

Karena namanya kendaraan, akhirnya penumpang boleh memilih sesuai keinginannya. Bisa karena kemampuan ekonominya, status sosialnya, kedekatan keluarga atau apapun istilahnya. Begitu kenyataan demokrasi di Indonesia, dan itu sah menurut apapun. menurut agama yang kita Imani dan partai poltik yang kita kendarai. Bahkan mungkin secara mental dan etika pada level tertentu. Tentu level dan etika yang tak kita pahami. Level dan mental di atas para pemilihnya yang kadang rela hati ikut demo atas nama demokrasi, demo memperjuangkan pendidikan atau para pemilih yang sering kali merasa salah melihat para wakilnya.

Alam demokrasi adalah alam antah berantah yang siapapun berani, ya wujudkan. Satu orang satu suara. Setiap orang dapat dipilih dan memilih. Bebas. Dan Pileg setiap 5 tahun menjelaskan semuanya dengan baik dan jujur.

Para artis, atau caleg lainnya yang mengendarai partai untuk menjadi politisi yang menjadi anggota legislatif, selalu ingat sebagai wakil rakyat tapi lupa untuk memperjuangkan nasib rakyat. Tidak hanya setuju dan setuju setiap yang ada tapi juga bagaimana pemilih-pemilihnya tidak hanya berbagi kisah kehidupannya dengan tetangga tentang kenapa hewan-hewan peliharaannya yang selalu murah saat menjual tapi mahal saat membeli dagingnya, susah payah mendapatkan pupuk pertaniannya tapi murah saat panen raya, pendidikan yang mahal dan banyak jam pelajarannya tapi tak membuat anak-anak mau berbakti pada orang tua, agama dan bangsa dan lain sebagainya.

Akhirnya, Anggota Legislatif adalah anggota DPR. Lembaga terhormat yang mesti dihormati, dikagumi dan selalu dinikmati. bukan yang ingin ditakuti. Aku suka membayangkan, dari sekian puluh artis yang akan jadi dewan jangan hanya bicara soal Undang-Undang, APBN, Peraturan ini peraturan itu, tapi juga dengan ikhlas hati menunjukan diri sendiri bahwa mereka layak menjadi anggota DPR yang yahud dalam melobi dan tangkas dalam memperjuangkan nasib-nasib pemilihnya, nasib bangsa.

Satu lagi, setiap anggota DPR seharus menempatkan sidang paripurna, sidang pleno dan sidang lainnya sebagai media untuk menghibur masyarakat dengan kerja keras dan berjuang tuntas, bukan malah menghibur rakyat dengan program-program TV yang sebenarnya tidak sesuai dengan bagaimana mereka dipilih dan menikmati gaji. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Partai, Politisi, dan Artis
Click to comment

Komentar

To Top