Cerpen

Jangan Bermain Api Denganku

Plak!!! Tamparan keras meleset di pipi Wira. Lelaki sombong dengan gayanya yang sangat percaya diri. Wajah itu tidak bisa dilupakan oleh Maria, wajah seorang yang berani-beraninya menipu demi keuntungannya sendiri. Maria tidak habis pikir, manusia macam apa Wira itu. Air mata Maria hanya dibalas dengan tawa licik. Merasa tidak terima ditampar, ia mengeluarkan pisau kecil yang selalu ada di sakunya dan hendak menusuk perut Maria. Namun sebelum pisau itu menempel di perutnya, tangan Wira sudah terkunci oleh genggaman Maria dengan sangat keras. Meski hubungan Wira dan Maria tergolong lama, Maria tidak pernah mengeluarkan taringnya kepada Wira.

“Beraninya kau hendak membunuhku! Setelah kau membunuh kepercayaanku padamu. Tidakkah kau pernah mencuci otakmu walau hanya sekali? Tidakkah kau bersikap seperti status facebook mu yang sangat luar biasa itu? Kau tidak lebih dari serigala berbulu domba.” Kata Maria sambil memutar lengan Wira.

“Maria. Kamu sudah mengetahui semua yang aku lakukan. Termasuk pada adikmu, Adinda. Hahhaaa. Sayangnya, Adinda sangat menurut dengan perintahku, walau dia harus memunuhmu! hahahaa” tawa Wira.

“Beraninya kau menyebut nama ku dan Adinda dengan mulutmu, dihadapanku? Beraninya kau! aku akan membuatmu menderita.” Maria lebih keras memutar tangan Wira dan berhasil menjatuhkan pisaunya. “Masuklah ke bui seumur hidupmu. Jangan remehkan aku.”

Maria meninggalkan Wira sendiri, ia menuju mobil ke apartemennya. Ia masuk ke kamar dan minum coklat panas. Beberapa saat kemudian, ia mendapatkan pesan informasi dan dokumen yang kamu minta, sudah aku kirimkan emailmu. Dibalas singkat oleh Maria

Pagi hari, Maria sudah bisa melebarkan bibirnya. Perasaan Maria yang sangat kacau dan menahan emosi selama ini sudah meluap dan merasa hal ini harus dibayar. Ia menekan beberapa angka untuk menelfon seseorang. Sambungan terhubung pada seorang gadis. “Halo, dengan Ratna Bakery, ada yang bisa kami bantu?” kata seseorang di sana.

“Aku ingin memesan beberapa kue untuk acara malam lusa. Pastikan ada kue tart dan aku ingin mengundang salah satu pegawai untuk melayani tamuku. Jika aku boleh meminta, aku ingin dia yang bisa berbahasa Sunda. Kirimkan ke J-Park lusa jam 10 malam atas nama Jira.” Setelah mematikan ponselnya, ia menekan beberapa angka dan menelfon beberapa orang lagi.

“Hallo, pimpinan penitipan anak Rainbow. Aku mengundangmu dalam acara tutup tahun. Aku ingin mengajukan beberapa permintaan. Terkait masa depan Rainbow.”

“Adinda, kamu bisa datang dan membantu kakak untuk mengurusi acara lusa ini? Terima kasih. Aku akan menunggumu.”

“Selamat pagi Anita, model yang sedang perlu modal kah? Proposal yang kau ajukan padaku, akan kupertimbangkan. Bawalah model-model yang mengajukan proposal denganmu.”

“Hallo.. Detektif Pramudya”

Setelah menelfon beberapa orang, Maria pergi ke Rainbow untuk bertemu dengan Sheril, pimpinan Rainbow. Hal ini tidak diketahui oleh Wira. Sesampainya Maria di Rainbow, ia berkeliling sebentar. Hal mengagetkan ini membuat Wira syok melihat Maria.

“Mau apa kau ke sini? Merindukanku? Atau kamu ingin melihat, bagaimana seorang profesional bekerja? Atau kau ingin menjemput ajalmu sendiri?” kata Wira yang sedang bekerja disana. Perkataan itu hanya dibalas dengan senyuman benci oleh Maria, sambil mengipasi mukanya dengan amplop coklat tebal. “Aaa, atau kau ingin berkencan dengan ku malam ini atau lusa. Oh hohoho, sorry ya, aku sibuk sekarang. Jangan lupa kamu pergi ke J-Park untuk menyaksikan, bagaimana orang hebat ini akan naik pangkat dengan mudah. Hahaha.” Kata Wira sambil berlalu.

“Maria.” Sapa Sheril. “Aku sudah lama menunggumu. Aku jadi deg-degan dengan apa yang ingin kau bicarakan denganku. Pastinya aku lega karena kau mengecek kami.”

“Tentu saja, sabahatku. Aku tidak akan rela membiarkanmu terluka. Mari kita diskusi di ruanganmu yang sejuk itu.” Jawab Maria ramah.

Mereka memulai mendiskusikan mengenai pendanaan. Setelah pendanaan selesai, mereka membahas tentang program kerja, dan terakhir adalah karyawan. Maria mendengar Wira akan dinaikan jabatan menjadi Bendahara. Menyangkut masalah Wira dan uang, mengerti karakter Wira yang penipu dan matre. Maria tidak tinggal diam, ia membuka amplop coklat dan mencari dokumen tentang Wira. “Kau yakin, akan menjadikan Wira sebagai bendahara? Sudahkah diselidiki dengan benar? Aku bermasalah dengan hal ini. Bacalah catatan kepolisian ini tentang Wira dan berfikirlah lagi. Aku mohon padamu, jangan bicara apapun pada Wira, hingga pengumuman peresmian di J-Park. Terutama tentang aku.”

“Maria, kau calon CEO J-Park, dan Wira tidak tahu? sekarang dia hendak menikah dengan Cici akhir tahun ini, tepatnya tiga minggu lagi. Kau tahu?”

“Kakak. Aku bukan calon CEO. Jika kau merasa tahu, bagaimana karakter Wira. Silakan dipertimbangkan lagi, posisi bendahara. Jika kau lalai dalam merekrut pegawai, jangan salahkan aku, jika J-Group tidak akan memberikan pendanaan lagi untukmu. Kau tahu, lusa ada peresmian, calon Presiden Direkrur yang baru akan diumumkan. Dia adalah pewaris tunggal J-Group. Aku hanya menjalankan perintahnya. Silakan dibaca dahulu, keputusan harus hari ini juga. Aku akan menunggu jawabanmu.” Kata Maria dengan nada santai.

“Ya Tuhan. Jira akan segera memeperlihatkan dirinya malam ini. Aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Putri Presdir, aku hanya mendegarnya saja. Baiklah, jika itu kemauan Jira. Akan kuberi jawaban hari ini juga.” Seru Sheril.

Setelah mendiskusikan dengan Sheril tentang masa depan Rainbow, Maria menamui Anita di J-Fashion, dan bertemu dengan Adinda.

Ketika persiapan, pegawai Ratna Bakery sudah datang membawa pesanan dan saah satu pegawai yang diminta oleh Maria. Mereka menata makanan di meja dengan cantik, dekorasi sudah siap. Cici datang menghampiri Maria dengan sedikit malu. “Nona, saya Cici pegawai Ratna Bakery yang bisa berbahasa sunda. Ada yang bisa saya bantu” tanya Cici pada seorang wanita yang menjulurkan selendang dan mukanya tertutup. Dijawab oleh Maria, “Hmm. Ganti bajumu dengan ini. Ada yang ingin aku diskusikan.” Cici menerima sekantong gaun coklat dari Maria. Ia lalu berganti baju dan menemui Maria.

“Cici, kau tahu, siapa aku?” kata Maria.

“Nona… Nona yang memesan roti kami, tapi aku tidak tahu siapa nama nona. Apakah nona Jira? Jika benar nona yang memesan, itu nama nona. Jira. Tapi saya belum pernah bertemu dengan nona Jira sebelumnya.”

“Aku memang yang memesan roti itu atas nama Jira. Aku Maria. Kau tahu sesuatu tentang aku kan?” kata Maria sambil membuka selendangnya.

“Kakak, Kak Maria, aku tidak bermaksud untuk merebut Wira dari kamu. Sungguh kak. Aku sudah bertunangan dengan orang lain. Maafkan aku. Aku tidak akan menghubungi Wira lagi. Tentang rumor aku menikah, itu salah kak. Karena aku tidak diterima dikeluarganya”

“Aku sudah tahu. Kau tidak perlu menjelaskan. Aku juga tidak akan menanyakan kau akan menghubunginya atau tidak. Aku hanya akan memberitahumu sesuatu. Wira sebentar lagi akan datang padamu. Terlebih melihat gaun yang kau kenakan sekarang ini. Maafkan aku ya Cici, aku memang pernah salah memilih. Seperti apa yang kau alami. Syukurlah kalau kau memang sudah bertunangan. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Aku tidak menginginkan apapun dari kamu, aku hanya berterima kasih, berkat kamu aku tahu bagaimana Wira yang sesungguhnya. Gaun itu untukmu, dan juga ini gelang dariku. Kau harus tampil beda malam ini karena acara ini… aa, ya sudah. Jika sebentar lagi Wira akan menemuimu malam ini, itu hak mu untuk menolak atau menerimanya.”

“Aku akan didekatmu, sampai acara ini selesai kak. Karena saya masih trauma dia akan mencambuk saya lagi, jika saya menolak.”

Malam semakin larut dan tamu-tamu sudah berdatangan. Semua menempati posisi masing-masing, kecuali Maria. Acara demi acara terlah dislenggarakan sampai pada akhirnya, Maria  maju untuk memberikan pengumuman.

“…..terima kasih. Sebagai pegawai baru dan mewakili J-Group, saya akan mengumumkan pendanaan…..” Maria mulai berpidato. “Mari kita beri tepuk tangan untuk keluarga J-Group dan satu keluarga lagi, Rainbow akan berubah menjadi J-School. Tidak ada banyak perubahan disini, hanya saja Presdir baru yang nanti akan membacakan perubahan itu…..”

Setelah turun dari panggung, MC membacakan acara puncak mengenai Presdir baru dan programnya. “Mari kita sambut, pewaris J-Group yang menjadi misteri kita selama ini. Seorang yang sudah kita lihat sebelulmnya, silakan naik…. Maria Onjira Nakamura.” Tepuk tangan terdengar meriah dan wanita yang beberapa menit yang lalu turun dari panggung, naik kembali ke atas. Memberikan sedikit sambutan dan mengutarakan alasanya kenapa tidak muncul sebagai Jira di hadapan publik. Ia pun berpidato mengenai tujuan utamanya. Tentu saja orang-orang yang mengenal Maria sangat terkejut. Terutama Wira.

“Baiklah, bagaimana roti kami apakah enak? Ratna Bakery adalah salah satu roti dari J-Food. Semoga yang hadir menyukainya. Perkenalkan ini fashion terbaru, silakan naik Anita dan kawan-kawan. Mereka adalah model dari J-Fashion, terima kasih atas kerja kerasnya nona-nona. Terakhir, J-School. Melihat bagaimana kerja keras Sheril dan pegawai yang tulus dalam mengurus Rainbow, akan disayangkan jika kita memiliki penipu. Maka dengan ini, secara sah dan atas keputusan dewan, saya, ayah, dan juga Sheril…. Malam ini, saya resmikan pemecatan atas kejahatan yang dilakukannya. W I R A” Dikatakan  dengan tegas dan santai. Suara penonton bersorak karena mereka tidak tahu bagaimana sifat Wira.

Usai berpidato, Maria hampir ditusuk oleh Wira. Sayangnya Detektif Pram terlebih dahulu memborgol tangan Wira dan menahannya. “Maaf, Anda harus bertanggung jawab, atas pemalsuan dokumen, penganiayaan anak, dan percobaan pembunuhan pada Jira” kata Pram.

“Tidak hanya itu, pelecehan seksual yang kami alami juga harus dipertanggungjawabkan” kata Adinda.

“Benar. Dia juga mengancam saya, jika saya membocorkan aibnya dan tidak mau bergumul dengannya, ia akan menyebarkan foto kami yang diambilnya diam-diam ketika di ruang ganti. Saya mewakili Alika dan juga Mia, menjadi korban.” Kata Anita.

“Cici… tolong aku, aku akan menikahimu. Katakan aku bukan orang seperti itu.” Kata Wira.

“Bicaralah Cici, aku akan melindungimu, jujurlah yang terjadi padamu.”

“Wira. Dia bukan seorang yang seperti itu… tapi, dia orang yang sangat baik. Hanya saja, jika dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, dia akan menggunakan segala cara untuk membuat kita membencinya. Termasuk yang dilakukan pada saya. Dia memang baik, tapi sangat menusuk. Seperti yang dialami Maria, dia juga menyiksa saya. Jika saya menolak permintaannya, dia akan menyambuk saya dengan sabuknya. Bukan sampai saya menangis atau berdarah, atau pingsan. Tapi sampai dia puas dan tidak bertenaga menyambuk lagi.” Jelas Cici sambil menangis. “Maafkan aku Wira. Karena aku tidak memberitahumu jika aku sudah tahu, manusia macam apa kamu ini. Atas penyiksaan dan otak kamu sendiri. Kau pikir kamu bisa menguasai kami? Kau akan mati karena berurusan dan menipu Maria.”

“Aku memang tertipu Cici, tapi dia tidak sadar akulah yang menipunya. Berkat kamu, penelitianku tentang lelaki matre, malas, dan bodoh sudah selesai. Terima kasih ya, pengalamannya. Sekarang giliran kamu untuk berpengalaman di bui.” Kata Maria.

“Tidak… tidak…. Kau salah. Maria. Maafkan aku Maria. Anita, Alika, Mia, Cici, dan kau Adinda. Aku menyesal.” Tangis Wira.

“Omong kosongmu. Ikut kami!” kata detektif Pram dan membawanya pergi. []

Jangan Bermain Api Denganku
Click to comment

Komentar

To Top