Celomet

Pasca Euforia Piala Dunia 2018

Adakah hal lain, baik berupa pertandingan, kompetisi maupun ajang bergengsi lain ihwal sepakbola yang euforianya melebihi ajang Piala Dunia? Anda mungkin bisa mendapatkan jawabannya dengan mengambil sampel dari beberapa orang yang menjadi bagian skuad Tim Nasional Perancis di Piala Dunia 2018 yang telah terhelat di Rusia, pada tanggal 14 Juni hingga 15 Juli 2018. Sebab apa? Karena ia menjadi juaranya dan tentu saja euforia yang terjadi dapat diulur-ulur, diperpanjang hingga pada saatnya menemukan dengan sendirinya akan titik jenuh dalam keberhasilannya mengalahkan Tim Nasional Kroasia pada pertandingan final dengan skor akhir empat gol dan hanya berbalas dua gol saja.

Benar demikian, dalam dunia sepakbola, terkadang yang paling berkesan bagi setiap pemain yang ada adalah ketika dengan dalih membela sebuah negara yang merupakan tanah kelahirannya. Entah itu merupakan perwujudan sikap nasionalisme, patriotisme maupun frasa-frasa lain untuk menggambarkannya. Dari kesemua itu, kiranya bermuara pada satu hal, yaitu cinta.

Cinta yang tidak hanya sebatas urusan hitung-hitungan lagi maupun tetek bengek perkara sepele lainnya. Namun, iya cinta sebagaimana sejatinya cinta. Kalau menyitir bahasanya Darmanto Simaepa adalah sebagaimana pernah ia menuliskannya, cinta—tanpa—pamrih.

Ya, frasa tersebut dapat Anda temukan dalam kata pengantar yang dituliskannya untuk buku Dari Kekalahan ke Kematian karya Mahfud Ikhwan. Buku yang pertama kali terbit pada bulan Mei tahun 2018 tersebut banyak mengetengahkan hal-ihwal seputaran sepakbola di Indonesia. Utamanya adalah terkait anomali yang terjadi pada sepakbola (kita). Baik berkaitan megenai stake-holder, kondisi suporter, para pemain, kondisi perpolitikan yang terjadi, klub-klub lokal dari masing-masing daerah hingga naik-turun maupun tarik-ulur yang terjadi di skuad Tim Nasional Indonesia dari waktu ke waktu.

Kembali kepada frasa euforia, alangkah lebih bijaksananya, kita tak perlu jauh-jauh pergi ke Perancis. Melainkan dari itu, tinggal meluangkan waktu yang cukup, kemudian pergi ke kampung-kampung maupun desa-desa yang tersebar di negara yang populasinya ditaksir sekitar 250 juta ini. Temui dan jumpai anak-anak, utamanya yang saban sore menyempatkan diri untuk bermain bola pada lapangan yang ala kadarnya, tidak memperhatikan regulasi maupun peraturan yang super ketat—katakanlah buatan FIFA, tidak perduli bagaimana pengaruh kapitalisme pada dunia sepakbola, bahkan tidak perlu rusuh atau saling memaki dalam berebut tiket karena nyatanya tidak seperti yang biasa ditanyangkan di televisi itu.

Ihwal Tim Nasional (kita), belum lama, juga bertepatan di sela-sela pertandingan Piala Dunia 2018, kita harus kembali menelan pil pahit. Hal tersebut setelah anak-anak muda kita berjuang dalam ajang Piala AFF di bawah usia 19 tahun. Mampu melewati pertandingan demi pertandingan yang ada di babak penyisihan, hingga melaju ke babak semi final. Namun, di semi final harus kembali menahan luka, menundukkan kepala, maupun memperpanjang—haus gelar juara karena harus mengakui kemenangan—yang lagi-lagi adalah berasal dari salah satu negara tetangga bernama Malaysia.

Kilah demi kilah memang akan tetap ada. Mencari alasan adalah pilihan terbaik untuk sejenak melupakan kekalahan. Sembari memaki antara satu dengan yang lainnya, mengeluh akan sarana maupun prasarana maupun mencari satu sosok yang akan dijadikan sebagai kambing hitam. Ya, wajar ketika fase-fase ini memiliki keuntungan besar berupa naiknya hormon adrenalin bagi kita—para pencinta sepakbola di dalam negeri. Namun, betapa bebalnya kalau hanya memperkutatkan diri pada perkara sepele itu. Toh, bukankah hanya akan menghabiskan energi, tenaga maupun waktu yang hanya berujung pada kesia-siaan.

Kalau memang, setiap jiwa manusia itu dibekali rasa cinta, bukankah bulan Agustus bisa menjadi momentum dalam menumpahkan perasaan cinta itu. Yang mana, cinta itu juga terkait mengenai kultur dan kadar akan nasionalisme maupun patriotisme. Di banyak jalan, dari perkotaan sampai di pelosok desa akan terhias bendera merah putih, lengkap dengan segala pernak-perniknya. Terhias juga tulisan “Dirgahayu Republik Indonesia” lengkap dengan jargon-jargon yang lantang, menunjukkan harapan pada bertambahnya usia kemerdekaan Indonesia, ayo segera bangkit dari segala keterpurukan yang telah lama bersemayam. Kita ini telah lama merdeka, tetapi masih saja terasa terjajah.

Di negeri ini, sepakbola menjadi kultur yang tidak akan bisa lepas dari bulan Agustus. Pengetengahan frasa sepakbola ini bukan sebatas pada lapisan makro—yang katakanlah terkait mengenai dunia— PSSI atau bahkan FIFA. Namun, melainkan dari itu, sepakbola yang dimaksudkan adalah terkait daya imajinasi di lapisan masyarakat yang tidak akan memudar—meskipun nasib Tim Nasional kita tidak memberikan pencapaian demi pencapaian yang gemilang. Betapa para stake-holder yang mengurusi sepakbola di negeri ini—PSSI, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) maupun struktur lainnya harus banyak bersujud syukur.

Mengisi hari kemerdekaan bisa jadi adalah wujud euforia di tengah-tengah kegelapan prestasi sepakbola, konflik di banyak lapisan struktur pemerintahan, hingar-bingar meluapnya rivalitas antar klub sepakbola yang tak sedikit memperpanjang usia perpecahan, berhembusnya isu-isu rasisme maupun kejengahan demi kejengahan yang hadir saat mendengar pemberitaan sepakbola—negeri ini, saya kira euforia itu adalah obatnya. Ia mampu mengaktifkan kembali imajinasi, mencari stimulus maupun menggali energi positif akan masa depan, arah dan tujuan sepakbola (kita).

Apakah kita pernah terbesit di dalam pikiran, bagaimana jadinya ketika perlombaan demi perlombaan yang terdapat dalam peringatan hari kemerdekaan itu, yang salah satunya sepakbola kemudian diakomodir dengan baik, diperpanjang usianya menuju bulan demi bulan berikutnya? Bukankah kalau berkaitaan mengenai potensi itu tetap ada. Bahkan berjubel karena saking banyaknya. Di kampung-kampung maupun desa-desa menyelenggarakan kompetisi, sebut saja kompetisi antar kampung (tarkam). Anak-anak, remaja, dewasa, ibu-ibu, dari berbagai latar belakang yang ada semua ikut hanyut dalam narasi tentang kenyataan ini.

Dan sebagaimana pernah diungkapkan Zen RS dalam esainya berjudulkan Kebahagiaan Sepakbola Agustusan, ia menyatakan bahwasannya pada sepakbola macam itu, ia mengunduh kegembiraan sederhana bermain bola. Kegembiraan itu berwujud masing-masing berupa; sepakbola tanpa keruwetan, sepakbola tanpa jargon profesionalisme yang seringkali palsu dan mengecoh. Tanpa panjang dan lebar, tentunya apa yang dikatakan Zen, penulis menangkap bahwa terkadang imajinasi itu terpatahkan atau bahkan mati karena sebuah sistem yang memang memiliki kepentingan untuk mematikan.

Jikalau imajinasi itu mampu menumbuhkan rasa harap—berharap, memperkuat keyakinan, menghidupkan semangat, menjadi sumber motivasi, memantik energi dan stimulus, atau bahkan lebih dari itu adalah menyiratkan cinta—tanpa—pamrih itu sendiri akan hal-ihwal persepakbolaan (kita), maka biarkanlah euforia akan tetap ada bahkan kalau bisa buatlah berlipat ganda. Bukankah Albert Einstein pernah berkata bahwa “imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan”.  Ya, sedikit-sedikit sembari membayangkan Tim Nasional Indonesia lolos di putaran Piala Dunia. Entah, waktunya kapan dan saat dimana kompetisi itu akan dihelat. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Pasca Euforia Piala Dunia 2018
Click to comment

Komentar

To Top